
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menyarankan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) untuk melakukan reformasi orientasi riset. Ia meminta kampus tidak lagi terjebak pada capaian administratif, seperti jumlah publikasi atau indeks sitasi, melainkan mulai menempatkan riset sebagai instrumen nyata penyelesaian persoalan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Muhadjir Effendy di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan dikutip pada Senin (23/2/2026). Menurutnya Muhadjir, orientasi akademik yang terlalu berpusat pada luaran jurnal internasional berisiko menjauhkan kampus dari tanggung jawab sosialnya.
“Perguruan tinggi harus berani melakukan reformasi orientasi riset. Sudah saatnya ilmu pengetahuan digunakan sebagai instrumen penyelesaian masalah riil masyarakat, bukan sekadar memenuhi target publikasi,” tegasnya.
Muhadjir, yang juga menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, menegaskan saat ini Indonesia menghadapi tantangan besar di sektor ketahanan pangan, kesehatan, energi, hingga transformasi ekonomi digital. Dalam situasi ini, kampus dituntut hadir dengan solusi riset yang aplikatif dan konkret.
Menurut Muhadjir, penelitian civitas academica harus selaras dengan agenda pembangunan nasional untuk meningkatkan daya saing bangsa.
“Riset harus memiliki arah yang jelas dan berpihak pada kepentingan bangsa. Kita tidak boleh terjebak dalam rutinitas akademik yang jauh dari realitas masyarakat,” imbuhnya.
Muhadjir menambahkan reformasi bukan hanya soal mengubah tema penelitian, tetapi juga transformasi pola pikir. Kampus perlu membangun budaya riset kolaboratif dan lintas disiplin yang memiliki dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Momentum di UMY ini diharapkan menjadi refleksi bagi seluruh komunitas akademik Muhammadiyah untuk memperkuat peran strategis kampus sebagai pusat inovasi. Langkah ini dinilai krusial sebagai fondasi dalam menyiapkan Indonesia Emas 2045 melalui penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang solutif.