Kampus
12 Agustus, 2026 20:03 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Prosesi wisuda periode ke-IV tahun akademik 2025/2026 yang berlangsung dalam dua hari, Rabu-Kamis (12-13/8/2026), semakin memperkuat jadi diri Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai kampus inklusif, plural dan multikultural.
Rabu (12/8/2026), di tengah 552 mahasiswa yang menjalani prosesi wisuda di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga, terdapat tiga mahasiswa difabel dan mahasiswa non-muslim yang berhasil menyelesaikan studinya.
Ketua Senat Universitas, Kamsi, mengungkapkan sebanyak 552 lulusan terdiri dari 87 wisudawan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, 236 wisudawan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 136 wisudawan Fakultas Sains dan Teknologi, 59 wisudawan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, serta 34 wisudawan Pascasarjana.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, mengajak para wisudawan merayakan capaian ini sebagai salah satu tonggak penting dalam kehidupan. Ia meyakini, gelar akademik bukan sekadar penanda berakhirnya masa studi, melainkan bekal untuk menentukan arah perjalanan hidup pada masa mendatang.
“Bergembiralah atas gelar yang Anda peroleh. Perjalanan ini penuh liku, membutuhkan mental serta daya tahan yang tangguh, dan Anda mampu melewatinya” ujarnya.
Selama menempuh pendidikan, lanjut Rektor, mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi keilmuan. UIN Sunan Kalijaga juga memberikan berbagai pendampingan untuk mengembangkan keterampilan dan membentuk lulusan sebagai pembelajar sepanjang hayat yang siap memberikan pengabdian terbaik bagi negeri.
Setidaknya terdapat tiga kemampuan dasar yang dibangun selama proses pendidikan, yakni berpikir logis, kritis, dan kreatif.
‘’Anda sekalian juga dilatih mengomunikasikan gagasan melalui penulisan karya ilmiah dan presentasi akademik. Seluruh kemampuan tersebut dilengkapi dengan pembentukan karakter yang menjunjung integritas dan tanggung jawab dalam bingkai besar integrasi-interkoneksi,” tegasnya.
Pengalaman
Kehadiran wisudawan difabel dan beda kepercayaan, menurut Noorhaidi Hasan, merupakan bukti UIN Sunan Kalijaga selalu menyediakan lingkungan kampus yang inklusif, plural, dan multikultural. Nilai-nilai itu memperoleh wujudnya dalam prosesi wisuda kali ini.
“Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menempuh pendidikan tinggi dan meraih gelar akademik,” katanya.
Mahasiswa difabel tunarungu, Oricho Delaokta dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM), mengatakan masa perkuliahan dari 2022-2026 menjadi pengalaman sebuah perjalanan yang mempertemukan tantangan, dukungan, sekaligus pengalaman berharga.
“Saya menghadapi sejumlah tantangan, terutama berkaitan dengan bahasa, komunikasi, dan budaya dalam lingkungan perkuliahan. Juga masalah tentang bahasa, kemudian tentang komunikasi, dan tentang budaya di dalam perkuliahan saya,” jelasnya.
Kehadiran relawan juru bahasa isyarat (JBI) dari Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi dukungan dan bagian penting dalam mengikuti perkuliahan. Kehadiran PLD, juru bahasa isyarat, relawan, serta dukungan dosen menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang membantu mahasiswa difabel mengikuti proses akademik.
Wajah keberagaman juga hadir melalui Adrianus Fani, wisudawan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjalani pelayanan keagamaan di Jepang dan sejak September 2024 menempuh pendidikan magister di Program Studi Interdisciplinary Islamic Studies (IIS) Pascasarjana. Perjalanannya memperlihatkan bahwa UIN Sunan Kalijaga membuka ruang perjumpaan bagi mahasiswa dari beragam latar belakang agama, pengalaman, dan jalan pengabdian.
Adrianus memilih UIN Sunan Kalijaga sebagai ruang untuk memperdalam kajian Islam. Sebagai seorang imam Katolik, keputusan untuk belajar di perguruan tinggi Islam tersebut menjadi pengalaman yang mempertemukan dirinya dengan lingkungan akademik yang beragam.
“Pengalaman saya ketika berada di sini, luar biasa, karena UIN Sunan Kalijaga itu menerima mahasiswa non-muslim untuk belajar di sini. Ada romo, ada suster, ada teman yang beragama Hindu, dan itu kami belajar sama-sama dengan teman-teman muslim di tempat itu. Itu satu hal yang luar biasa dan sangat menarik bagi saya,” ungkap Adrianus.
UIN Sunan Kalijaga juga terus memperkuat diri sebagai perguruan tinggi yang unggul, terkemuka, dan bereputasi global. Sejumlah langkah strategis telah ditempuh, mulai dari pembukaan Program Studi Kedokteran dan 12 program studi baru pada tahun ini, hingga dimulainya pembangunan Kampus II di Pajangan.
Bagikan