Kampus
15 September, 2026 16:45 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA -- Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan dan Sertifikasi Gemini Academy for Higher Education pada Jumat (11/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Lecture Hall Pdt Dr Rudy Budiman dan Ruang Seminar Didaktos tersebut diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa UKDW.
Program ini merupakan bagian dari Gemini Academy for Higher Education, yang dirancang untuk meningkatkan literasi dan kompetensi pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) di lingkungan perguruan tinggi.
Melalui program ini, UKDW mendorong terbentuknya civitas academica yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi AI, tetapi juga AI-literate, yakni memiliki pemahaman kritis mengenai manfaat, keterbatasan, etika, dan risiko penggunaannya, sekaligus AI-ready dalam menghadapi perkembangan teknologi di dunia pendidikan dan pekerjaan.
Pelatihan diselenggarakan UKDW bekerja sama dengan PT Cahaya Mitra Harapan (Paideia Educational Solutions), mitra Google for Education di Indonesia. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pembekalan sekaligus kesempatan untuk mempraktikkan pemanfaatan Gemini AI dan Gemini Notebook dalam mendukung pembelajaran, penelitian, pekerjaan administratif, dan pengembangan inovasi di perguruan tinggi.
Ketua Pelaksana, Antonius Rachmat Chrismanto, mengatakan tingginya jumlah peserta menunjukkan bahwa pemanfaatan AI telah menjadi kebutuhan sekaligus perhatian bersama di lingkungan UKDW.
“Harapannya, AI dapat digunakan secara bertanggung jawab. Kita perlu menggunakannya secara kritis dengan tetap memperhatikan etika dan keamanan informasi,” ujarnya.
Menurut Antonius, kemampuan memanfaatkan AI secara tepat semakin relevan bagi civitas academica, baik untuk mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi maupun meningkatkan efektivitas pekerjaan dan pelayanan. Karena itu, peserta didorong tidak hanya mengenal berbagai perangkat AI, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis dalam menggunakannya.
Pembelajaran
Rektor UKDW, Wiyatiningsih, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi civitas academica untuk belajar sekaligus mempraktikkan pemanfaatan teknologi AI secara efektif dan efisien.
“Kita punya kesempatan luar biasa untuk menjadi pelaku dalam bagaimana teknologi AI digunakan secara efektif dan efisien, baik untuk penelitian, pengajaran, maupun tata kelola universitas,” ungkapnya.
Dalam pelatihan, peserta mempelajari berbagai pemanfaatan Gemini AI dan Gemini Notebook, termasuk teknik menyusun prompt agar AI dapat memberikan keluaran sesuai kebutuhan. Peserta juga diajak memahami keterbatasan AI, seperti kemungkinan munculnya informasi yang tidak akurat. Karena itu, hasil yang diberikan AI tetap perlu diperiksa dan dinilai kembali oleh pengguna.
Perbedaan karakteristik Gemini AI dan Gemini Notebook juga menjadi bagian dari pembelajaran. Gemini AI dapat membantu pengguna memperoleh informasi dan menghasilkan berbagai bentuk keluaran, sedangkan Gemini Notebook dapat digunakan untuk mengolah sumber yang telah dipilih dan disediakan pengguna. Hal ini menekankan pentingnya memilih dan mengkurasi sumber informasi sebelum menggunakannya.
Perwakilan Paideia sekaligus Google Project Specialist, Tresna Agustian Suryana, mengapresiasi antusiasme UKDW dalam mengikuti program tersebut. Menurutnya, program ini tidak hanya diarahkan pada pengenalan teknologi, tetapi juga membantu perguruan tinggi mengembangkan kemampuan civitas academica dalam memanfaatkan AI sesuai kebutuhan.
Rangkaian program dilanjutkan dengan self-paced prompt challenge selama 30 hari. Peserta yang menyelesaikan seluruh rangkaian sesuai ketentuan akan memperoleh sertifikat completion setara 24 jam pelajaran (JP), sedangkan peserta yang memenuhi persyaratan dan lulus ujian sertifikasi berkesempatan mendapatkan credential kompetensi Google Gemini yang berlaku selama tiga tahun.
Keterlibatan UKDW dalam Gemini Academy for Higher Education menjadi bagian dari upaya universitas membangun civitas academica yang AI-literate dan AI-ready. Kemampuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penguasaan perangkat, tetapi mencakup kemampuan menggunakan AI secara kritis, etis, aman, dan bertanggung jawab untuk mendukung pembelajaran, penelitian, pelayanan, serta tata kelola universitas.
Bagikan