logo

Kampus

Inovasi Smart Claypot Karya Mahasiswa UPNVY Bantu Perpanjang Masa Simpan Cabai

Inovasi Smart Claypot Karya Mahasiswa UPNVY Bantu Perpanjang Masa Simpan Cabai
Tim PKM-KC UPNVY yang terdiri dari lima mahasiswa lintas prodi dan Smart Claypot, karya inovasi mereka. Wadah penyimpanan ini dirancang untuk membantu petani skala mikro memperpanjang masa simpan cabai. (EDUWARA/Dok. UPNVY)
Setyono, Kampus14 September, 2026 20:41 WIB

Eduwara.com, JOGJA -- Lima mahasiswa lintas program studi (prodi) di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY), yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC), berhasil menghadirkan Smart Claypot (SaClay). 

Tim PKM-KC yang melahirkan SmartClaypot ini terdiri dari Pahlevi Alwaleed (Teknik Kimia) sebagai Ketua Tim, dan beranggotakan Bintang Ramadhan (Informatika), Linggar Zeta Kusuma (Teknik Kimia), Marsyafa Lakeisha (Teknik Kimia), dan M Fahrel Firmansyah (Teknik Kimia).

Smart Claypot adalah inovasi tentang tempat penyimpanan yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan cabai dari umumnya tiga hari menjadi 15 hari. Inovasi ini sekaligus menjadi solusi bagi petani skala mikro atau petani gurem. Tak hanya itu, Smart Claypot juga mengantarkan kelima mahasiswa ini melaju ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39, mewakili Kampus Bela Negara.

Ketua Tim PKM-KC, Pahlevi Alwaleed menjelaskan, Smart Claypot merupakan inovasi wadah penyimpanan cabai berbasis pendinginan evaporatif yang memanfaatkan energi surya dan terintegrasi Internet of Things (IoT). Berdasarkan hasil pengujian, prototipe Smart Claypot terbukti mampu mempertahankan kesegaran cabai selama lebih dari 15 hari tanpa aliran listrik PLN.

Smart Claypot berfungsi sebagai pendingin alami yang terbuat dari gerabah lokal khas Kasongan, Bantul. Smart Claypot dilengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan yang membedakannya dari media penyimpanan lain, seperti kulkas, freezer, dan cooler box,” terang Pahlevi, Senin (14/9/2026)

Smart Claypot, disebut Pahlevi, membantu petani memantau sisa umur simpan cabai melalui panel boks dan smartphone. Inovasi ini mengintegrasikan prinsip induced draft fan dengan berbagai sensor, termasuk SGP30 untuk mendeteksi emisi gas volatil sebagai indikator awal kebusukan cabai.

Data tersebut kemudian diolah menggunakan Machine Learning berbasis Support Vector Machine, untuk memperkirakan sisa umur simpan cabai.

“Kami ingin menghadirkan solusi yang benar-benar bermanfaat bagi petani gurem. Selama ini, penyimpanan cabai seperti kulkas, freezer, dan cooler box, belum mampu mengoptimalkan berbagai indikator kualitas cabai, seperti susut bobot, kekerasan, dan warna secara bersamaan,” ucapnya.

Dampak Nyata

Dosen Teknik Kimia UPNVY, Heri Septya Kusuma, menyampaikan Tim PKM-KC ini lebih dulu melakukan identifikasi masalah di masyarakat. Kemudian, mereka menyusun solusi berbasis teknologi dengan penuh tanggung jawab.

Melalui risetnya, Tim PKM-KC ini menemukan fakta bahwa sektor hortikultura menjadi penyumbang food loss terbesar. Kehilangan pangan tersebut terjadi sebelum produk sampai ke konsumen, salah satunya akibat penyimpanan yang kurang optimal.

Berdasarkan data Kementerian PPN/Bappenas pada 2021 komoditas sayur-sayuran mencatat tingkat kehilangan hasil (yield loss) mencapai 62,8 persen dari total ketersediaan domestik. Sementara itu, rata-rata kehilangan pascapanen (post-harvest loss) produk hortikultura di Indonesia berkisar 25-40 persen. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan nilai ekonomi hasil panen dan berdampak pada kesejahteraan petani gurem.

“Saya berharap inovasi SmartClaypot dapat dikembangkan dan disempurnakan sehingga dapat memberikan dampak nyata kepada masyarakat, khususnya petani gurem,” kata Heri.

Senior Perkumpulan Petani Hortikultura Puncak Merapi (PPHPM) Sleman, Arief Setyo, menilai inovasi berupa SmartClaypot dari Tim PKM-KC ini menjawab kebutuhan petani gurem. Menurutnya, teknologi penyimpanan cabai sangat dibutuhkan karena masa simpan cabai umumnya hanya 3–5 hari. 

Arief bahkan menyebutkan SmartClaypot berpotensi menjadi solusi bagi petani gurem karena penanganan pascapanen yang kurang tepat dapat mempercepat penurunan kualitas cabai.

“Dulu pernah dicoba menggunakan freezer atau cold storage besar di Kediri, tetapi listriknya boros. Cabai juga harus segera diolah setelah dikeluarkan karena cepat lunak,” paparnya.

Read Next