logo

Sekolah Kita

Di Era Keterbukaan Informasi, Guru Berperan Penting Agar tak Lahirkan Generasi Zonk

Di Era Keterbukaan Informasi, Guru Berperan Penting Agar tak Lahirkan Generasi Zonk
Rektor UMY, Gunawan Budiyanto, seusai meresmikan Gedung Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Ngasem, Gunungkidul, DI. Yogyakarta, Jumat (3/5/2024). Dalam ramah tamah bersama masyarakat dan para guru MIM Ngasem, Gunungkidul, Gunawan berharap kalangan pengajar di semua tingkatan bersama masyarakat menyiapkan generasi yang siap bertanding. Pada era keterbukaan informasi, peran keduanya sangat penting agar pada masa mendatang tidak melahirkan generasi Zonk. (EDUWARA/Dok. UMY)
Setyono, Sekolah Kita06 Mei, 2024 19:49 WIB

Di Era Keterbukaan Informasi, Guru Berperan Penting Agar tak Lahirkan Generasi Zonk

Eduwara.com, JOGJA – Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Gunawan Budiyanto berharap kalangan pengajar di semua tingkatan bersama masyarakat menyiapkan generasi yang siap bertanding. Pada era keterbukaan informasi, peran keduanya sangat penting agar pada masa mendatang tidak melahirkan generasi Zonk.

Hal ini disampaikan Gunawan Budiyanto saat meresmikan Gedung Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Ngasem, Gunungkidul, DI. Yogyakarta, Jumat (3/5/2024). 

Gedung MIM Ngasem usai direnovasi dengan anggaran Rp 1,070 miliar. Program renovasi ini diselenggarakan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu) bersama Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), serta swadaya masyarakat dan simpatisan.

“Di era keterbukaan informasi sekarang, fakta-fakta objektif seringkali tidak lagi menjadi dasar utama dalam membentuk opini publik. Saat ini, salah satu ciri akhir dari dunia yaitu orang-orang menjadi kebingungan membedakan antara yang benar dan yang salah, sudah terlihat,” kata Gunawan Budiyanto dalam rilis Senin (6/5/2024).

Gunawan mencontohkan bagaimana anak-anak sekarang percaya kalau ayam kakinya empat. Sebab, mereka setiap hari dicekoki dengan berita ayam kakinya empat, sehingga bagi yang mengatakan ayam itu kakinya dua, disalahkan.

“Ini yang namanya post-truth, yaitu kebohongan yang disamarkan menjadi kebenaran dengan cara memainkan emosi dan perasaan netizen,” terangnya.

“Jadi handphone itu bukan pertanda modernitas kehidupan. Handphone itu adalah bentuk keterjajahan informasi. Oleh karenanya, Muhammadiyah kalau tidak masuk ke sini, kalah. Siapa yang memberikan informasi, itu yang menang,” tegasnya.

Gunawan meminta kepada para guru dan masyarakat yang hadir untuk dapat menyiapkan generasi muda menjadi generasi yang siap bertanding. Sehingga, generasi muda saat ini tidak menjadi generasi instan yang mudah dimanja oleh berbagai fasilitas dan informasi.

Menurut Gunawan, rusaknya generasi dapat disebabkan oleh orang tua yang tidak bisa mengendalikan arus informasi yang didapatkan anak melalui handphone. Sehingga, upaya menjaga generasi muda agar tidak termakan oleh isu sekuler, adalah sangat penting. Karena, jika hal itu terjadi, maka generasi muda nantinya akan menjadi generasi Zonk, generasi kosong-kosongan.

“Bapak-ibu jangan pernah mencetak robot. Bapak-ibu harus mencetak murid yang tangguh, punya kepribadian Islam dan tidak manja, yang mengajarkan pengetahuan bagaimana cara untuk bertahan hidup,” pungkasnya.

Read Next