logo

Kampus

GIK Menyapa, Langkah UGM Realisasikan Visi Pusat Kolaborasi, Inovasi dan Kreativitas

GIK Menyapa, Langkah UGM Realisasikan Visi Pusat Kolaborasi, Inovasi dan Kreativitas
Gelaran GIK Menyapa yang diprakarsai Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Kamis (6/6/2024), menjadi wujud komitmen UGM merealisasikan visinya sebagai pusat kolaborasi, inovasi, dan kreativitas. Berkolaborasi dengan Kedutaan Besar Australia, pada ajang perdana ini, GIK Menyapa mengusung tema ‘Inovasi Festival di Era Teknologi’. (EDUWARA/Dok. UGM)
Setyono, Kampus07 Juni, 2024 22:07 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM) menggelar ajang ‘GIK Menyapa’ bertema ‘Inovasi Festival di Era Teknologi’, pada Kamis (6/6/2024). Sebagai ajang perdana, GIK Menyapa menjadi wujud komitmen UGM merealisasikan visinya sebagai pusat kolaborasi, inovasi, dan kreativitas.

Berkolaborasi dengan Kedutaan Besar Australia, GIK Menyapa berfokus pada terselenggaranya dialog penting tentang bagaimana teknologi dapat memperkaya dan mengembangkan lanskap festival budaya di Indonesia.

Chief Program Officer GIK UGM, Garin Nugroho, dalam rilis Jumat (7/6/2024) mengatakan ‘GIK Menyapa’ dapat memberikan inspirasi dan wawasan baru bagi pelaku industri kreatif dalam memanfaatkan teknologi untuk memperkaya festival budaya di Indonesia.

“Kolaborasi dengan Kedutaan Besar Australia menjadi langkah strategis bagi GIK UGM memperkuat posisinya sebagai pusat inovasi dan kreativitas,” jelasnya.

Menurut Garin, Australia dan Indonesia memiliki banyak kesamaan budaya dan potensi kolaborasi yang besar. Sehingga, pada era digital ini, inovasi teknologi menjadi kunci untuk memajukan industri kreatif.

Ajang ‘GIK Menyapa’ disebut menjadi ajang diskusi interaktif dan jejaring yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam industri kreatif, termasuk pelaku seni, budayawan, pakar teknologi, dan mahasiswa.

Sebagai tonggak awal, ‘GIK Menyapa’ menjadi upaya UGM merealisasikan visinya sebagai pusat kolaborasi, inovasi, dan kreativitas. Melalui acara-acara serupa, pada masa mendatang, GIK UGM terus berkontribusi dalam pengembangan industri kreatif.

Ruang Ekspresi

Direktur Youth Studies Centre Fisipol UGM, Oki Rahadianto mengatakan festival budaya dapat menjadi ruang ekspresi artikulasi bagi anak muda yang lebih berorientasi global.

“Anak muda sekarang sangat sadar berpartisipasi dalam festival budaya untuk mendidik diri mereka sendiri, terlebih di Yogyakarta yang kaya akan festival budaya,” ucapnya.

Menurut Oki, teknologi digital memfasilitasi pemuda dalam menyebarkan pesan nilai festival budaya secara lebih luas. Teknologi digital juga dapat meningkatkan karakteristik multi genre di Yogyakarta, membantu menyebarkan pesan festival.

Country Manager Megatix Indonesia, Cameron Frost melihat sekarang ini anak muda sangat menyukai festival musik. Teknologi digital dapat membantu festival budaya meningkatkan pariwisata internasional dengan cara meningkatkan awareness.

“Strateginya adalah membangun jaringan untuk mendukung promotor festival budaya dan memanfaatkan teknologi untuk inovasinya,” tuturnya.

GIK UGM merupakan fasilitas super creative hub seluas hampir 90 ribu meter persegi. Kehadirannya bertujuan untuk memimpin jalan menuju masa depan yang cerah, inovatif, dan berkelanjutan.

GIK diharapkan mampu merangkul budaya, inovasi, kreativitas, teknologi, kolaborasi, keberlanjutan, dan peluang guna menciptakan ruang di mana kreativitas dan ide-ide baru dapat berkembang. GIK merupakan titik pertemuan antara kampus dan industri.

Read Next