logo

Kampus

Kemendikbudristek Lakukan Monev Pemanfaatan Dana Hibah di UMY

Kemendikbudristek Lakukan Monev Pemanfaatan Dana Hibah di UMY
Kemendikbudristek melalui Direktorat Belmawa Ditjen Diktiristek, melakukan monitoring dan evaluasi (monev) data hasil program hibah akreditasi internasional 2020-2023 yang diberikan kepada UMY. Monev dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait dampak dari bantuan tersebut. (EDUWARA/Dok. UMY)
Setyono, Kampus17 Januari, 2024 20:12 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menganalisis data hasil program hibah akreditasi internasional 2020-2023 yang diberikan kepada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Hal ini karena UMY merupakan perguruan tinggi pertama yang mendapatkan hibah dari Kemendikbduristek, dengan enam program studi yang menerima bantuan tersebut.

Melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) Kemendikbudristek, monitoring dan evaluasi dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait dampak dari bantuan tersebut.

Sub Koordinator Penjaminan Mutu Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Ditjen Diktiristek Kemendikbudristek, Russy Arumsari, menyampaikan pihaknya merasa perlu melakukan pemantauan dan evaluasi terkait implementasi dana hibah tersebut oleh UMY.

"Walaupun anggaran yang kami berikan terbatas, karena harus dibagi dengan perguruan tinggi lainnya, kami memohon masukan dari UMY agar kami dapat mengetahui seberapa efektif bantuan yang kami berikan," kata Russy Arumsari, dilansir Rabu (17/1/2024).

Russy menegaskan seluruh bantuan pemerintah bersifat insentif dan dirancang khusus mendorong peningkatan mutu perguruan tinggi melalui proses akreditasi internasional. Dorongan kecil ini diharapkan mampu menggerakkan hal yang besar karena dana terbesar perguruan tinggi berasal dari sana. Pemerintah hanya memberikan dorongan dengan harapan peningkatan mutu melalui akreditasi internasional.

Rekognisi Internasional

Kepala Badan Penjaminan Mutu (BPM) UMY, Evi Rahmawati, menjelaskan sejak 2017, UMY telah menetapkan tonggak pencapaian dengan fokus pada rekognisi internasional. Dampaknya, semua program studi di UMY diharapkan unggul dalam akreditasi baik nasional maupun internasional.

“Sehingga BPM pun secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi terhadap indikator kinerja strategis (IKS) yang telah ditetapkan UMY. Terutama terkait pengakuan internasional dan upaya menuju research excellence university dan world university ranking,” terangnya.

Menurut Evi, setiap program studi memiliki indikator yang terdefinisi dengan baik yang memudahkan BPM untuk mengevaluasi kinerja setiap prodi, fakultas, dan unit pendukung.

“Ketika kami melakukan monitoring per semester, itu tidak terlepas dari target atau milestone tadi yang berkaitan dengan rekognisi internasional, seperti sudah terakreditasi Outcomes Based Education (OBE), adanya mahasiswa asing, exchange student, double degree, visitingprofessor. Itu indikator yang sudah sangat jelas di UMY,” terangnya.

Wakil Rektor UMY Bidang Akademik, Sukamta, menyoroti perubahan budaya di UMY sejak 2017, di mana semua kegiatan berbasis output, termasuk IKS dan alokasi anggaran dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan institusi.

"Ini adalah budaya yang baik yang diterapkan oleh UMY, di mana setiap satu rupiah pun harus bertanggung jawab terkait dengan kinerjanya," kata Sukamta.

Tidak hanya itu, untuk penjaminan mutu, Sukamta mengatakan bahwa UMY melakukan audit terintegrasi baik akademik maupun non akademik. UMY bahkan mengundang kantor akuntan publik untuk mengaudit keuangannya.

Selama tiga tahun berturut-turut, UMY berhasil mendapatkan sertifikat wajar tanpa pengecualian. UMY pun melibatkan validator untuk memonitoring surat pertanggungjawaban (SPJ) dan penyusunan laporan pertanggungjawaban (LPJ).

Read Next