logo

Gagasan

Kementerian P2MI Hadirkan Migrant Training Centre di Yogya

26 Januari, 2026 02:42 WIB
Kementerian P2MI Hadirkan Migrant Training Centre di Yogya
Wakil Menteri P2MI, Dzulfilkar Ahmad Tawalla saat meresmikan pusat pelatihan PMI (MTC) di UPN Veteran Yogyakarta, Sabtu (24/1/2026). Kehadiran MTC ini untuk memenuhi kompetensi pekerja migran di sektor migas. Di Yogyakarta, Kementerian P2MI juga menggandeng LPP Agro Nusantara untuk menghadirkan MTC, untuk menghasilkan tenaga kerja terampil di bidang perkebunan, baik teknis maupun manajemen. (EDUWARA/K. Setyono)

Eduwara.com, JOGJA – Sebagai upaya meningkatkan nilai tambah dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran (KP2MI) menjalin kerja sama dengan dua kampus di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menghadirkan Migrant Training Centre (MTC).

Dua kampus yang digandeng dalam kemitraan pelatihan calon pekerja migran adalah LPP Agro Nusantara dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ‘Veteran’, Yogyakarta. Kerja sama dengan kedua kampus ini secara langsung dilakukan Wakil Menteri P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla pada Sabtu (24/1/2026).

“PMI adalah pahlawan devisa yang dana remitensi menjadi pendongkrak perekonomian. Namun berbagai isu PMI masih membayangi. Salah satu di antaranya adalah nilai tambah pekerja migran dari segi keterampilan dan kemampuan,” kata Dzulfikar, dikutip Minggu (25/1/2026).

Menurut Dzulfikar, isu mengenai PMI yang unskilled selalu menjadi faktor yang membuat mereka dipandang sebelah mata. Secara statistik, penempatan PMI sepanjang 2025 sebanyak 296.948 penempatan. Dari jumlah tersebut, 63,94 persen PMI terkonsentrasi di lima jabatan yaitu House Maid, Caregiver, Plantation Worker, Worker, dan Domestic Worker.

“Jumlah ini menunjukkan posisi Indonesia di perpetaan negara-negara pengirim pekerja migran. Dari sisi jumlah, Indonesia bersaing dengan Filipina, Myanmar, India, Pakistan dan Bangladesh untuk posisi pekerjaan serupa,” jelasnya.

Bersama dengan LPP Agro Nusantara, kata Dzulfikar, nantinya akan dihasilkan tenaga kerja terampil di bidang perkebunan, baik teknis maupun manajemen. Tenaga kerja ini masih dibutuhkan oleh negara-negara seperti Malaysia, Jepang, Korea dan beberapa negara di Eropa yang saat ini tengah dijajaki kemungkinan kerja sama bilateral.

Sedangkan bersama dengan UPN Veteran, kehadiran MTC bertujuan untuk membekali calon PMI di sektor minyak dan gas (migas).

“Se-Indonesia, total kita sudah mempunyai sembilan MTC di berbagai kota dengan keahlian khusus yang berbeda. Migrant Center bertujuan untuk mendukung terwujudnya pekerja migran Indonesia yang kompeten dan terlindungi,” jelasnya.

Sertifikasi

Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi Raharjo, mengatakan kerja sama ini semakin menguatkan komitmen pihaknya untuk turut berkontribusi dalam membangun kemajuan. Melalui pelatihan dan sertifikasi yang sudah disiapkan, diharapkan bisa menjadi bekal yang berguna bagi PMI di bidang agro.

“Kurikulum bagi PMI sudah kami desain sesuai dengan kebutuhan, tidak hanya seputar keterampilan kerja. Kami juga sudah mendesain pelatihan yang bisa memberi gambaran kerja dan industri,” jelasnya.

Tak hanya itu, pelatihan dan sertifikasi tentunya disesuaikan dengan karakteristik kerja negara penempatan sehingga akan meenjadikan desain pembelajaran unggul dan tepat sasaran.

Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Mohamad Irhas Effendi, menjelaskan keunggulan MTC di kampusnya adalah mampu memenuhi kompetensi tenaga migran di sektor migas, di beberapa negara yang membutuhkan tenaga-tenaga migran di sektor migas seperti Arab Saudi.

“Kami mengintegrasikan pelatihan, sertifikasi, dan pendampingan dalam satu sistem demi mewujudkan PMI yang profesional dan berintegritas,” paparnya.

Selain itu UPN Veteran juga menyediakan pelatihan bahasa yang dilengkapi dengan infrastruktur modern dan tenaga profesional. Dengan 35 skema sertifikasi aktif, Irhas menjamin kompetensi kerja yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Read Next