logo

Kampus

Kesehatan Reproduksi Bukan Sekadar Pencegahan Penyakit

Kesehatan Reproduksi Bukan Sekadar Pencegahan Penyakit
Staf pengajar Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Al-Irsyad Cilacap (UNAIC), Pri Hastuti, menjadi pembicara pada pertemuan DWP Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Jumat (20/2/2026). Pada kesempatan tersrbut, Pri Hastuti menegaskan masyarakat harus mulai mengubah paradigma mengenai kesehatan reproduksi. Agro-Constitutional Shield (Aconshi). (EDUWARA/Dok. pitik)
Setyono, Kampus20 Februari, 2026 22:34 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Kesehatan reproduksi perempuan sering kali hanya dipandang sebagai upaya pencegahan penyakit. Padahal, cakupannya jauh lebih luas, menyentuh kesejahteraan fisik, mental, hingga kesiapan sosial.

Hal ini menjadi poin utama dalam pertemuan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) yang digelar pada Jumat (20/2/2026).

Narasumber pada pertemuan ini adalah, staf pengajar Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Al-Irsyad Cilacap (UNAIC), Pri Hastuti. Ia menegaskan masyarakat harus mulai mengubah paradigma mengenai kesehatan reproduksi.

Mengacu pada standar World Health Organization (WHO), Pri Hastuti menjelaskan kondisi sehat berarti sejahtera secara utuh dalam seluruh aspek sistem, fungsi, dan proses reproduksi. 

“Perempuan perlu memahami tubuhnya sejak dini, mulai dari masa pubertas hingga menopause. Edukasi ini penting agar setiap perempuan mampu menjaga dan mengambil keputusan terbaik terkait kesehatan reproduksinya,” ujar Pri Hastuti, yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah TPA PAUD Athahira, Bantul.

Dalam paparannya, Pri Hastuti menyoroti risiko tinggi pada kehamilan usia remaja. Dibandingkan usia dewasa, remaja yang hamil memiliki risiko medis yang jauh lebih besar, seperti preeklamsia, kelahiran prematur, hingga ancaman kematian ibu dan bayi.

Perencanaan

Pri Hastuti menekankan pentingnya perencanaan keluarga yang matang serta mengikuti rekomendasi usia ideal pernikahan yang telah dicanangkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kesiapan biologis, psikologis, dan sosial menjadi fondasi utama sebelum seseorang memutuskan untuk memasuki jenjang pernikahan.

Tidak hanya menyasar usia muda, edukasi ini turut membedah persoalan yang kerap dialami perempuan dewasa, mulai dari gangguan haid, infeksi menular seksual (IMS), infertilitas, hingga perubahan fisik dan psikis saat memasuki masa menopause.

Peserta diajak memahami peran hormon seperti estrogen dan GnRH yang mengatur sistem tubuh mereka secara fisiologis.

Wakil Ketua DWP Fapet UGM, Sri Hastuti, berharap kegiatan ini mampu meningkatkan literasi kesehatan para anggota sehingga mereka dapat menjadi agen edukasi di lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

"Edukasi ini diharapkan mendorong kesadaran perempuan untuk melakukan deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan secara berkala," pungkasnya.

Read Next