logo

Kampus

Kuliah Bersama Praktisi, UMBY Perkecil Gap Akademik dan Realita Industri

Kuliah Bersama Praktisi, UMBY Perkecil Gap Akademik dan Realita Industri
Founder sekaligus Direktur PT Shadani Insan Mulia Abadi (SHIMA), Hadi Mustofa, usai memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Prodi Agroteknologi UMBY, di Kampus UMBY, Jumat (12/6/2026). Bertajuk ‘Tantangan dan Strategi Pengembangan Bisnis di Sektor Pertanian’, kuliah umum bersama praktisi ini bertujuan untuk memperkecil celah antara teori akademik dan realita industri pertanian. (EDUWARA/Dok. UMBY)
Setyono, Kampus18 Juni, 2026 21:32 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Berupaya memperkecil celah antara teori akademik dan realita industri pertanian, mahasiswa Prodi Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menyelenggarakan Kuliah Dosen Tamu, di Ruang Teater Barat, Rektorat Lantai 3 UMBY, Jumat (12/6/2026). 

Bertajuk ‘Tantangan dan Strategi Pengembangan Bisnis di Sektor Pertanian’, kuliah umum yang diikuti 50 mahasiswa ini menghadirkan Founder sekaligus Direktur PT Shadani Insan Mulia Abadi (SHIMA), Hadi Mustofa.

Dosen Prodi Agroteknologi UMBY, Reo Sambodo, menjelaskan kuliah bersama praktisi ini dirancang khusus sebagai persiapan awal bagi mahasiswa sebelum lulus.

"Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori di bangku kuliah, tetapi juga memiliki pemahaman yang utuh tentang tantangan dan peluang yang ada di lapangan, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik sebelum terjun ke dunia kerja," tutur Reo dalam rilis, Kamis (18/6/2026).

Rio memastikan melalui agenda ini, Prodi Agroteknologi UMBY mempertegas komitmennya, mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, namun juga adaptif dan siap kerja di industri pertanian nasional.

Pada awal paparannya, Hadi, menjelaskan PT SHIMA merupakan perusahaan agroindustri yang telah bergerak di bidang produksi pupuk fosfat, NPK, organik, serta perdagangan pupuk sejak tahun 2014. 

Saat ini, menurut Hadi, sektor pertanian memegang peranan yang sangat vital bagi perekonomian nasional. Tidak hanya menyediakan kebutuhan pangan masyarakat dan menjadi sumber mata pencaharian jutaan petani, tetapi sektor ini juga menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional, berkontribusi terhadap perekonomian daerah, dan memiliki potensi besar untuk ekspor serta hilirisasi produk.

“Meski Indonesia diberkahi sumber daya alam melimpah, iklim tropis, keanekaragaman komoditas yang tinggi, serta pasar domestik yang besar, saya tidak menampik adanya tantangan nyata yang membayangi industri ini,” tegasnya.

Strategi

Tantangan tersebut, menurut Hadi, mulai dari produktivitas yang belum optimal, rendahnya regenerasi petani muda, teknologi yang belum merata, fluktuasi harga komoditas, serta alih fungsi lahan pertanian. Tak hanya itu, pelaku bisnis pertanian juga menghadapi tantangan internal berupa keterbatasan modal, SDM yang belum kompetitif, dan manajemen usaha yang belum profesional. 

Sedangkan tantangan eksternal, lanjut Hadi, mencakup perubahan iklim, persaingan global, perubahan regulasi, dan ketidakstabilan harga pasar

"Membangun bisnis di sektor pertanian itu tidak semudah yang dibayangkan. Kita harus siap menghadapi berbagai risiko, belajar dari kesalahan, dan terus berinovasi. Yang membedakan pengusaha sukses dengan yang gagal bukan karena mereka tidak pernah jatuh, tapi karena mereka selalu bangkit dan terus bergerak maju," tegasnya.

Hadi menggarisbawahi kesenjangan (gap) antara ekspektasi pemula yang menginginkan keuntungan cepat, dengan realita lapangan yang penuh ketidakpastian serta membutuhkan mental tahan banting. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Hadi membagikan enam strategi utama yang telah diterapkan di PT SHIMA. 

Strategi pertama meliputi inovasi produk, mengembangkan produk pertanian bernilai tambah yang sesuai kebutuhan pasar. Kedua, efisiensi operasional, meningkatkan efisiensi proses produksi dan penggunaan sumber daya. Ketiga, digitalisasi dengan memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pengambilan keputusan dan manajemen usaha.

Keempat, penguatan kemitraan dengan membangun kolaborasi strategis dengan petani, mitra usaha, dan pemangku kepentingan. Kelima, hilirisasi produk dengan mengolah hasil pertanian menjadi produk turunan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing.

“Terakhir, pengembangan SDM yang sangat terkait dengan peningkatan kompetensi dan kapasitas sumber daya manusia pertanian secara berkelanjutan,” tegasnya.

Saat sesi tanya jawab, mahasiswa terlihat aktif mengulik peluang karier, tips memulai usaha, hingga prospek cerah pupuk organik di masa depan. Selfa, salah satu mahasiswa, mengaku mendapatkan sudut pandang baru yang lebih realistis. Apa yang telah disampaikan Hadi memberikan gambaran yang sangat jujur, bukan hanya soal peluangnya, tapi juga risiko dan kerja keras di baliknya.

“Ini jadi motivasi buat saya untuk lebih serius mempersiapkan diri," pungkasnya.

Read Next