logo

Sekolah Kita

Pelajar di Kota Yogyakarta dan Bantul Dikenalkan Budi Daya Pertanian

Pelajar di Kota Yogyakarta dan Bantul Dikenalkan Budi Daya Pertanian
Siswa-siswi SDN Keputran 2 Yogyakarta seusai mengikuti pembelajaran budi daya pertanian di Tani Mase. Diinisiasi DPP Kota Yogyakarta, program Tani Mase atau Pertanian Masuk Sekolah bertujuan untuk memberikan edukasi kepada siswa mengenal budi daya pertanian. Selain SDN Keputran 2 Yogyakarta, program Tani Mase juga menyasar sejumlah SD di Kota Yogyakarta. (EDUWARA/Dok. SDN Keputran 2 Yogyakarta)
Setyono, Sekolah Kita16 Juni, 2026 21:13 WIB

Eduwara.com, JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab Bantul) memulai program mengenalkan literasi pertanian kepada pelajar di sejumlah sekolah. Ini merupakan salah satu upaya agar generasi muda tetap melestarikan dan menjadikan budi daya menanam tanaman pertanian tidak punah sehingga ketersediaan pangan, sehingga ketersediaan pangan dapat berkelanjutan.

Di Kota Yogyakarta, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) menginisiasi program bernama ‘Pertanian Masuk Sekolah’ atau Tani Mase mulai Senin (15/6/2026), di SDN Keputran 2 Yogyakarta dan MIN 1 Yogyakarta. Dalam dua hari ke depan, program serupa akan menyasar dua sekolah lainnya, yaitu SDN Karanganyar Yogyakarta dan SDN Gedongtengen Yogyakarta.

Ketua Tim Kerja Bimbingan Usaha Pertanian DPP Kota Yogyakarta, Rita Damayanti Christiningsih, menjelaskan program Tani Mase bertujuan untuk memberikan edukasi kepada siswa mengenal budi daya pertanian.

"Kegiatan Tani Mase ini memang sasaran kita sama anak SD. Tujuannya kita edukasi dulu biar anak-anak lebih mengenal pertanian, terus pada akhirnya mereka cinta pertanian," kata Christiningsih dikutip, Selasa (16/6/2026).

Dengan membawa dan mengenalkan dunia pertanian masuk sekolah, ke depan, diharapkan budi daya menanam tanaman pertanian tersebut tidak akan punah, sehingga ketersediaan pangan dapat berkelanjutan.

Dalam praktiknya, para pelajar mendapatkan edukasi mengenai pengenalan cara menanam, teknik menanam, beserta hama penyakit. Kemudian, dilanjutkan dengan praktik langsung menanam di mana setiap siswa mendapatkan bahan media tanah, polybag dan bibit sayur.

Berbagai sayur mayur yang dikenalkan untuk dibudidayakan dalam media tanam tersebut adalah sawi caisin, sawi pakcoy, terong, dan cabai rawit. Menurut Rita tiga komoditas tersebut dipilih karena sayuran-sayuran  tersebut seringkali dikonsumsi dan mempunyai kandungan untuk kesehatan.

"Anak-anak biar kenal dunia pertanian, karena kan selama ini mereka lebih senang gadget. Nah, kita berusaha mengingatkan kembali pada mereka lebih mengenal dunia pertanian, makanya dimulai dari teknik, cara menanamnya sejak dari bibit," katanya.

Kepala Sekolah SDN 2 Keputran, Novi Kristiani, mengapresiasi program ini dan mengatakan anak-anak sangat antusias mengikuti pembelajaran budi daya pertanian di Tani Mase. Para siswa diajari langsung cara menanam sayur dengan tepat menggunakan media tanam.

Bibit Hortikultura

Sementara di Bantul, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul menyasar 32 sekolah SD sampai SLB dalam program pembelajaran dan literasi tentang pertanian. Langkah ini sebagai upaya menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian sejak dini.

Bergulir pada April 2026, dan sudah dijalankan di belasan sekolah, setiap sekolah mendapat paket bibit hortikultura yang terdiri dari 150 bibit cabai, 150 bibit tomat, dan 150 bibit terong sebagai tahap awal untuk dikelola secara mandiri di lingkungan masing-masing.

Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, mengatakan program ini lebih menitikberatkan pada edukasi dibanding hasil produksi. Pengenalan pertanian sejak usia dini dinilai penting untuk membangun ketertarikan anak terhadap sektor yang mulai ditinggalkan generasi muda.

“Ini adalah salah satu bentuk upaya untuk memperkenalkan sektor pertanian pada anak usia dini. Karena kalau kita sudah dewasa, sudah terlambat. Di program ini siswa akan mempelajari tentang pengetahuan alam, cara menanam yang baik dan macam-macam tumbuhan,” jelasnya.

Joko memastikan ke depan, program ini tentunya akan diperluas hingga mencangkup seluruh SD dan SLB. Saat ini keterbatasan anggaran masih menjadi kendala utama dalam perluasan program.

Pelaksanaan program ini melibatkan kolaborasi lintas dinas. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian menyediakan bibit dan benih, sementara kebutuhan pupuk organik didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup melalui pengolahan sampah organik.

Pihaknya berharap kegiatan pertanian masuk sekolah bisa menjadi pembelajaran karakter bagi siswa sekolah, mengingat kegiatan budi daya tanaman sayuran juga dilakukan sehari hari bagi masyarakat khususnya petani.

Joko memastikan seluruh tanaman yang dikenalkan untuk kemudian dibudidayakan dipilih karena memiliki siklus panen berulang, sehingga siswa dapat mengikuti proses dari penanaman hingga panen secara berkelanjutan. 

Read Next