
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Selama enam bulan bergelut dalam penelitian dan pengembangan, akhirnya dua siswa SMAN 3 Kota Yogyakarta, yaitu Teresa Amelia Hertada dan Godeliva Belinda Putri, berhasil menghadirkan aplikasi BatikLens Padmanaba. Ini adalah aplikasi yang digunakan untuk mengenal nama dan asal motif batik.
Dengan aplikasi BatikLens Padmanaba, Teresa dan Putri berupaya menghadirkan cara belajar budaya yang lebih dekat dengan kebiasaan pelajar saat ini.
“Penelitian dan pengembangan berlangsung sekitar enam bulan, dari Maret hingga Agustus 2026. Alasan kami sebenarnya kekhawatiran terhadap semakin jauhnya generasi muda dari pengetahuan mengenai motif dan makna batik menjadi titik awal lahirnya BatikLens Padmanaba,” kata Teresa, Jumat (28/8/2026).
Baik Teresa maupun Putri melihat bahwa batik sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui seragam, pakaian resmi, maupun berbagai kegiatan budaya. Namun, kedekatan tersebut belum selalu diikuti pemahaman tentang nama motif, daerah asal, sejarah, dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya.
Banyak pelajar mengenal batik sebatas sebagai kain bermotif tanpa mengetahui cerita budaya di balik motif yang mereka lihat. Dari keprihatinan itu, BatikLens Padmanaba dirancang sebagai media edukasi budaya yang memanfaatkan telepon pintar yang sudah akrab dengan keseharian siswa.
Melalui aplikasi ini, pengguna dapat mengarahkan kamera pada motif batik dan memperoleh informasi mengenai motif yang dikenali.
“Informasi tersebut kemudian menjadi pintu masuk bagi siswa untuk mengenal asal, sejarah, serta makna filosofis batik dengan cara yang lebih interaktif,” jelas Teresa.
Putri menambahkan selama proses penelitian dan pengembangan BatikLens Padmanaba mereka mendapatkan bimbingan penuh dari guru, Devy Estu Anna Putri. Pengembangan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengumpulan dan pengelompokan gambar motif, pengembangan model sistem pengenalan, penyusunan informasi budaya dari sumber pustaka, pembuatan aplikasi yang dapat digunakan melalui telepon pintar, hingga pengujian langsung kepada pengguna.
“Dalam proses tersebut, guru pembimbing berperan mengarahkan tahapan penelitian, ketepatan pelaksanaan, serta keterkaitan aplikasi dengan tujuan edukasi budaya bagi siswa,” tutur Putri.
Nilai Edukatif
Pada tahap pengembangan, Teresa dan Putri tidak hanya berupaya membuat aplikasi yang mampu mengenali motif, tetapi juga memastikan bahwa hasil pemindaian memiliki nilai edukatif. Karena itu, aplikasi tidak berhenti pada penyebutan nama motif. Pengguna juga diarahkan untuk membaca informasi budaya yang menyertainya. Motif yang saat ini dikenali antara lain Kawung, Truntum, Mega Mendung, Sidomukti, Parang, Dayak, dan Maluku.
Teresa dan Putri berharap kehadiran aplikasi ini memberi manfaat yang lebih luas, baik bagi pemerintah maupun lembaga yang bergerak dalam pelestarian budaya. Kehadiran aplikasi BatikLens menunjukkan peluang pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas edukasi budaya kepada generasi muda. Bahwa pelestarian tidak hanya dilakukan melalui penyimpanan artefak atau dokumentasi, tetapi juga melalui media yang mampu membawa pengetahuan budaya ke ruang digital yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Setelah tahap pengembangan, BatikLens Padmanaba kemudian diujicobakan kepada 70 siswa kelas XI di SMAN 3 Kota Yogyakarta. Pelaksanaan uji coba dilakukan setelah penelitian memperoleh persetujuan etik (ethical clearance) untuk memastikan proses penelitian yang melibatkan siswa dilaksanakan sesuai dengan prinsip etika penelitian.
Para siswa menggunakan aplikasi untuk mengenali motif batik sekaligus membaca informasi budaya yang tersedia. Uji coba tersebut menjadi tahap penting karena aplikasi tidak lagi hanya dinilai sebagai prototipe, tetapi digunakan langsung oleh siswa sebagai media belajar. Proses ini juga memberikan gambaran tentang bagaimana BatikLens Padmanaba dapat membantu siswa berinteraksi dengan materi budaya secara lebih praktis dan menarik.
Rampungnya uji coba menjadi salah satu tonggak penting dalam penelitian ini. Data yang diperoleh digunakan untuk mengevaluasi pengalaman penggunaan dan kebermanfaatan aplikasi sebagai media edukasi budaya. Kehadiran BatikLens Padmanaba menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan bukan hanya untuk kebutuhan praktis, tetapi juga untuk membantu menjaga hubungan generasi muda dengan kekayaan budaya Indonesia.
Kepala Sekolah SMAN 3 Kota Yogyakarta, Fadiyah Suryani, mengatakan kehadiran BatikLens Padmanaba menjadi contoh penelitian siswa yang dapat menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya dalam satu karya yang kontekstual.
Suryani juga memastikan aplikasi ini dapat digunakan sebagai media pendamping pembelajaran, terutama pada kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan, sejarah, seni, maupun proyek lintas mata pelajaran. Penggunaan telepon pintar membuat proses pengenalan budaya dapat dilakukan secara lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari siswa.
“Bagi pembelajaran, keberadaan BatikLens menawarkan pendekatan yang berbeda dari pembelajaran satu arah. Siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi dapat melakukan eksplorasi terhadap motif yang mereka temui,” ucapnya.
Pengembangan BatikLens Padmanaba belum akan berhenti pada tujuh kelompok motif yang tersedia saat ini. Ke depan, aplikasi ini masih dapat diperluas dengan menambahkan lebih banyak motif batik dari berbagai daerah di nusantara, memperkaya informasi budaya, dan meningkatkan kemampuan pengenalan pada variasi motif yang semakin beragam.
Dengan pengembangan berkelanjutan, BatikLens Padmanaba diharapkan dapat menjadi salah satu media yang mempertemukan teknologi, pendidikan, dan pelestarian budaya dalam pengalaman belajar yang mudah diakses generasi muda.