
Bagikan:

Bagikan:
JOGJA, Eduwara.com - Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Sumatera Utara dinilai lebih Unggul dibandingkan dengan perguruan tinggi serupa di Jawa-Bali, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Bali. Dari 12 Institusi Perguruan Tinggi (IPT) di bawah LLDIKTI Wilayah I Sumatera Utara, kini semua telah berstatus Akreditasi Unggul.
Penilaian tersebut disampaikan Kepala LLDIKTI Wilayah I Sumatera Utara, Saiful Anwar Matondang, dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) LLDIKTI Wilayah I Sumatera Utara, yang berlangsung pada Kamis-Jumat (9-10/4/2026).
“Selama ini, Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pelajar, dan Bali identik dengan perguruan tinggi bertaraf internasional. Namun data terbaru membalik persepsi itu. LLDIKTI Wilayah I tercatat sebagai wilayah dengan jumlah institusi perguruan tinggi (IPT) berpredikat Unggul terbanyak di luar Pulau Jawa,” terang Saiful Anwar dalam rilis Kamis (9/4/2026).
Saiful bercerita ketika pertama kali membuat pemetaan pada 2023, tidak ada satu program studi (prodi) di Sumatera Utara yang akreditasinya Unggul. Tapi pada update terakhir, terdapat 109 program studi yang Unggul, dan 12 institusi perguruan tinggi yang Unggul.
“Jadi bertambah 11 dan yang luar biasa, kita melampaui Yogyakarta dan Bali. Jadi mari kuliah dekat rumah saja!" katanya.
Dampak dari bertambahnya kampus Unggul di Sumatera Utara tidak hanya dirasakan di dunia akademik. Saiful menjelaskan ketika mahasiswa dari luar provinsi memilih kuliah di Sumatera Utara ketimbang Jawa, efek gandanya langsung dirasakan masyarakat sekitar kampus.
"Ini suatu kesyukuran karena multiplier effect-nya kepada masyarakat, kepada UMKM, laundry, rumah makan, tempat kos. Tidak lagi ke Jogja, tapi ke kita," katanya.
‘PR’
Di balik capaian gemilang itu, Saiful tidak menutup mata terhadap pekerjaan rumah yang masih besar. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Sumatera Utara baru menyentuh 32,5 persen dari lulusan SMA tahun 2025. Angka ini tertinggal dari Aceh yang mencapai 40 persen dan masih di bawah rata-rata nasional.
Hal ini bukan semata disebabkan kapasitas kampus, melainkan pola pilihan keluarga kelas menengah atas Sumatera Utara yang secara kultural masih mengarahkan anak mereka ke Jawa, Malaysia, bahkan Singapura.
"Orang Sumut kelas menengah ke atas itu tidak mau anaknya kuliah di Medan. Anaknya kuliah ke Jawa, ke Bandung, ke Jakarta, ke Yogyakarta, Surabaya. Termasuk saya, dua anak saya tidak kuliah di Medan. Yang paling besar di Malaysia dulu S1-nya, yang kedua di Yogyakarta," akunya dengan terbuka.
Saiful menyampaikan kondisi itu langsung ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai realita yang perlu direspons dengan kebijakan, bukan diabaikan. Solusinya satu, yaitu kualitas kampus Sumatera Utara harus terus didorong hingga menjadi pilihan pertama, bukan pilihan terakhir.
Rektor Universitas Medan Area, Dadan Ramdan, menyoroti keunggulan strategis PTS Sumatera Utara yang tidak dimiliki Perguruan Tinggi Negeri (PTN), seperti jangkauan geografis hingga ke kabupaten-kabupaten terpencil. Mayoritas PTN terkonsentrasi di Medan, sedangkan PTS tersebar hingga Nias Selatan dan Mandailing Natal, menjangkau anak-anak bangsa yang tidak memiliki akses ke kota besar.
"Kalau PTN, dia semuanya hampir di Medan. Tapi kita ada di Nias Selatan, ada di Mandailing Natal. Jadi anak-anak bangsa yang di kabupaten kota itu bisa mengenyam pendidikan karena kita ada di kabupaten," jelasnya.
Kondisi ini disebutnya mencerminkan inklusivitas yang sesuai dengan tema Rakerwil tahun ini ‘Pendidikan Tinggi Inklusif, Adaptif, dan Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045’. Inklusif bukan hanya soal keterjangkauan biaya, tetapi soal keterjangkauan jarak dari desa hingga kota, seluruh anak bangsa harus bisa masuk perguruan tinggi.