Berkat 'Pendeteksi Depresi', Siswa Jogja Raih Penghargaan Internasional

10 Desember, 2021 19:38 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

10122021-Pemenang AI.jpg
Kelompok dua dengan karya 'Mental Illnes Early Detection System Referring to Tweets Based on NLP-based AI' saat ditinjau juri perlombaan internal program 'Intel Prakarsa Muda 2021', Jumat (10/12/2021). ((EDUWARA/Setyono))

Eduwara.com, JOGJA — Prihatin dengan tingginya tingkat depresi selama pandemi Covid-19, empat siswa sekolah menengah atas dari Daerah Istimewa Yogyakarta berhasil meraih tempat bergengsi di ajang internasional melalui karya berjudul 'Mental Illnes Early Detection System Referring to Tweets Based on NLP-based AI' .

Karya tersebut berupa aplikasi berbasis kecerdasan artificial (Artificial Intelligence/AI) yang ditujukan untuk mendeteksi tingkat depresi seseorang. Karya ini ditetapkan sebagai Global Winner pada ajang AI internasional, ‘Intel AI Global Impact Festival 2021’ yang berlangsung pada 15-30 November 2021 secara online.

Keempat siswa tersebut berasal dari sekolah berbeda. Mereka adalah Alifais Farrel Ramdhani dari SMAN I Yogyakarta, Dinda Pramesti Handayani (SMAN I Sleman), Muhammad Ridlo (SMKN 2 Depok Sleman) dan Mufidha Zulfulansyah PS (MAN I Yogyakarta).

Keempat siswa tersebut tergabung dalam kelompok 2 (dua) dan merupakan satu dari 21 kelompok yang mendapatkan pelatihan mengenai materi pembuatan program berbasis AI yang digagas oleh Yayasan Sagasitas Indonesia (Sagasitas) bekerja sama dengan Intel Corporation. Program ini bertajuk 'Intel Prakarsa Muda 2021'.

"Dari angka depresi yang meningkat selama pandemi, kami mencoba mengolah data base sebagai dasar model bagi beberapa perangkat yang dikembangkan,' kata Farrel mewakili timnya, Jumat (10/12/2021)

Setelah model didapatkan, program ini lantas ditanamkan dalam bentuk website agar bisa diakses dari berbagai perangkat. Menggunakan akun Twitter, aplikasi kemudian akan menganalisi tentang seberapa berat tingkat depresi dari berbagai tweet yang dimunculkan dalam rentan waktu tertentu.

"Jika diagnosis mengarah pada munculnya depresi, maka pengguna akan di bawa ke halaman treatment. Di sana kami telah menyiapkan daftar musik yang bisa diputar untuk mengurangi depresi," jelasnya.

Namun jika tingkat depresi masuk kategori berat maka aplikasi akan menyarankan pengguna menghubungi psikolog yang direkomendasikan.

Berkat inovasi ini, Farrel dan ketiga kawannya masuk dalam enam besar pemenang yang terdiri dari 20 negara. Mereka bersaing dengan dua pemenang dari Jerman, satu dari Cina, Korea Selatan dan Malaysia.

Sedangkan untuk tingkat nasional pada ajang yang sama, diraih oleh kelompok 8 yang terdiri dari Ahmad Syafii Hidayatulloh dari SMKN 2 Depok, Agustina Mely Wijayanti (SMAN 2 Wates), Rabani Adiet Pratama (MAN 2 Yogyakarta) dan Hernadgif Rafif Wiryawan (SMAN 4 Yogyakarta).

Karya mereka yang berjudul ‘SOCA', berupa aplikasi berbasis AI dan metode CNN, bisa digunakan mendeteksi apakah seseorang menderita katarak, glaukoma, atau mata sehat berdasarkan data hasil x-ray retina mata.

Bertemakan 'Enriching Lives with AI Innovations', Intel AI Global Impact Festival diikuti lebih dari 110.000 siswa dari 135 negara dengan 230+ Inovasi AI. Dari jumlah ini, perwakilan dari 20 negara kemudian berkompetisi menjadi yang terbaik.