Dies Natalis ke-42, ISI Yogyakarta Petakan Arah Pendidikan Tinggi Seni di Era AI

27 Mei, 2026 04:19 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

26052026-ISI Yk Konpres.jpg
Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, saat memberikan penjelasan kepada awak medis seputar peringatan Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta. Dalam konferensi pers Lobby Gedung Rektorat, Selasa (26/5/2026), dijelaskan bahwa peringatan Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta ini mengusung tema “Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence”. (EDUWARA/Dok. ISI Yogyakarta)

Eduwara.com, JOGJA - Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menjadikan peringatan Dies Natalis ke-42 sebagai momentum untuk menegaskan kembali peran dan posisi sebagai Kampus Seni dalam membaca perubahan zaman. 

ISI Yogyakarta mencoba memetakan arah pendidikan seni di masa depan dan menegaskan posisinya sebagai Kampus Seni yang menghidupkan rasa, merawat kebudayaan, membaca teknologi secara kritis, dan menghadirkan seni sebagai kekuatan yang relevan bagi masyarakat.

Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, menjelaskan tema yang diusung pada peringatan Dies Natalis ke-42 adalah “Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence”. Tema ini dipilih untuk mengingatkan publik bahwa perkembangan teknologi, termasuk Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), harus tetap dibaca melalui perspektif etika, rasa, dan kemanusiaan.

Seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung mulai Mei-Agustus 2026 dirancang bukan hanya sebagai agenda seremonial, melainkan sebagai ruang refleksi, produksi pengetahuan, praktik artistik, dan kolaborasi lintas disiplin.

“Di usia ke-42 ini, kami tidak sekadar merayakan perjalanan institusi seni, tetapi menegaskan kembali peran seni sebagai cara membaca zaman. Di tengah percepatan AI, ISI Yogyakarta menghadirkan gagasan bahwa teknologi harus tetap berpihak pada kemanusiaan, kreativitas, dan daya rasa,” jelas Irwandi, Selasa (26/5/2026).

Di tengah percepatan disrupsi ini, lanjut Irwandi, tugas Kampus Seni bukan hanya mengikuti teknologi, tetapi memastikan teknologi tetap berhubungan dengan rasa, pengalaman manusia, dan nilai kebudayaan.

Sebagai langkah nyata, ke depan, ISI Yogyakarta secara perlahan-lahan akan mengubah kurikulum pengajaran di setiap Program Studi (Prodi), baik di program sarjana maupun pasca sarjana, untuk melibatkan perkembangan teknologi dan algoritmat dalam pembuatan karya seni.

“Melalui perubahan kurikulum itu, kami ingin menghadirkan seni sebagai ruang refleksi kritis sekaligus kekuatan kreatif yang memberi arah bagi masa depan yang lebih manusiawi dan juga menjaga hal-hal yang tidak bisa dilakukan AI seperti karakter,” katanya.

Kolaborasi

Bagi ISI Yogyakarta, peringatan Dies Natalies tahun ini merupakan ‘panggung’ untuk menunjukkan seni memiliki kapasitas untuk beradaptasi, mengkritisi, sekaligus bersinergi dengan teknologi secara bermakna. Irwandi menekankan bahwa perguruan tinggi seni perlu hadir sebagai ruang yang menjaga martabat manusia di tengah dominasi logika algoritmik.

Ketua Panitia Dies Natalies ke-42 ISI Yogyakarta, Rahmat Aditya Warman, mengatakan pada peringatan dies natalis ini akan ada 21 kegiatan, mulai sidang senat, seminar, pameran, simposium, festival, konser, hingga pesta rakyat dari Mei-Agustus 2026.

“Seluruh kegiatan melibatkan serta hasil kolaborasi lintas fakultas, yaitu seni pertunjukan, seni rupa dan desain, serta seni media rekam. Lalu program pascasarjana, sivitas akademika, seniman, jejaring internasional, serta publik luas,” terangnya.

Keseluruhan agenda, disebut Rahmat, menjadi upaya untuk memperlihatkan serta menegaskan karakter ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang terus menghubungkan tradisi, inovasi, teknologi, dan nilai kemanusiaan.

Salah satu mitra peringatan Dies Natalis ISI Yogyakarta pada tahun ini, Australia Art Orchestra & Project Eleven, menjadi pembuka kegiatan para seniman di ranah pendidikan. Australia Art Orchestra & Project Eleven menyebut kerja sama dengan ISI Yogyakarta dalam tiga tahun terakhir, menjadikan pendidikan seni melahirkan seniman yang unggul, kreatif dan inovatif. 

“Bersama ISI Yogyakarta kami mengkolaborasikan seniman muda untuk bisa melakukan pameran di luar negeri maupun berkolaborasi dengan seniman internasional dalam berbagai ajang pameran,” kata Dewi Bukit dari Project Eleven.