Jelang AKMI, Kemenag Lakukan Pengembangan dan Validasi Instrumen Literasi

17 Juli, 2022 20:15 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Ida Gautama

17072022-Direktur Kurikulum Kemenag.jpeg
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Moh Isom. (EDUWARA/Dirjen Pendis Kemenag)

Eduwara.com, JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah melakukan pengembangan dan validasi instrumen literasi tahap dua. 

Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas asesmen bagi peserta didik madrasah melalui Asesmen Kompetensi Madrasah Se-Indonesia (AKMI).

Direktur KSKK Madrasah, Moh Isom mengungkapkan dirinya mempunyai keinginan yang kuat dalam projek ini. Dengan didanai World Bank, integrasi dan interkoneksi antar empat komponen berkelindan satu sama lain dan harus saling bekerja sama. 

“Inilah yang kita harapkan dari pinjaman World Bank yang akan menjadi sarana perbaikan madrasah. Empat komponen itu di antaranya e-RKAM, AKMI, PKB dan EMIS,” ungkap Isom seperti ilansir Eduwara.com, Sabtu (15/07/2022) dari laman Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag.

Isom berharap keempat komponen tersebut menjadi modal dasar yang terintegrasi untuk mewujudkan madrasah yang semakin bermutu ke depannya. 

“Jika proyek ini dibuat dengan baik, maka pada tahun terakhir proyek ini (2024, red) hasilnya akan bisa menjadi legacy kita untuk perbaikan madrasah ke depan,” ujar Isom.

Menurut Isom, manajemen madrasah se-Indonesia (e-RKAM) bisa merekam kemampuan SDM, sarpras dan lainnya. Pengelolaan yang bagus dari e-RKAM akan berujung pada suksesnya komponen dua yaitu AKMI.

“Jika tata kelola e-RKAM bagus, maka berujung pada komponen dua-nya, yaitu AKMI. Dari AKMI akan dipotret kompetensi madrasah di semua jenjang, dari Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah,” terang dia.

Potensi Madrasah Se-Indonesia

Jenis literasi yang dikembangkan pada AKMI, lanjut Isom, di antaranya literasi membaca, numerasi, sosial budaya dan sains. Dia berharap dengan instrumen yang telah dikembangkan bisa memetakan potensi madrasah se-Indonesia. 

Idealnya, melalui asesmen itu akan diketahui kompetensi per satuan kerja dan lebih dalamnya per individu.

“Jadi kita tahu, kelemahan dan kelebihan siswa di setiap literasinya. Ujungnya tentu kita punya data kompetensi madrasah se-Indonesia di semua literasi. Dari situ akan menghasilkan laporan diagnostik dan rekomendasi perbaikan,” tandas dia.

Isom berharap pada tahun 2024, madrasah sudah semakin baik dengan kondisi kompetensi siswa dan guru madrasah yang telah diketahui dan dipetakan menjadi data yang valid dan faktual. 

Data itu akan menjadi kekuatan, sebagai alat untuk bargainingpower dan bargaining position agar madrasah semakin bisa berdaya saing dengan lembaga yang lain.

“Setelah tergambar, termapping semuanya, harus undang Kabid, Kasi Pendma seluruh Indonesia agar mereka tahu kondisi di lapangan daerah masing-masing. Nah, dari situ kita bisa menginterverensi program berbasis data penelitian yang telah dilakukan,” tegas dia.

Isom berpesan, masing-masing komponen harus saling berkolaborasi untuk mewujudkan pelayanan madrasah yang mandiri dan berprestasi. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan holistik, maka tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, sehingga perbaikan bisa dilakukan secara simultan dan saling bersinergi.

Sementara itu, Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi, Suwardi menuturkan penyusunan instrumen AKMI ini telah disusun pada tahun 2021 lalu dan pada tahun ini dilakukan perbaikan, pengembangan serta validasi dari instrumen tersebut.

“Kami berharap dengan kegiatan ini, maka instrument AKMI ini memiliki mutu yang lebih baik. Hal ini tentu upaya kita untuk mewujudkan madrasah yang mandiri berprestasi,” harap dia. (K. Setia Widodo/*)