Kampus
11 Februari, 2026 22:51 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA – Melalui kolaborasi riset antara Universitas Gadjah Mada (UGM) dan University of Nottingham, Inggris, terungkap bahwa dunia pendidikan tinggi Indonesia belum ramah bagi dosen penyandang disabilitas. Hasil survei terhadap 59 dosen penyandang disabilitas dari 26 perguruan tinggi negeri dan swasta menunjukkan bahwa hampir seluruh kampus di tanah air masih jauh dari kata inklusif.
Berdasarkan laporan penelitian bertajuk Shining a Light on Unheard Voices of Disabled Researchers (SHINE), hambatan fisik dan digital masih menjadi kendala utama. Fasilitas seperti tangga curam tanpa lift, toilet sempit, hingga gedung bertingkat yang mustahil diakses kursi roda masih jamak ditemukan.
Tak hanya fisik, hambatan digital juga nyata. Aplikasi administrasi kampus seringkali tidak kompatibel dengan screen reader bagi dosen netra. Sedangkan dosen dengan hambatan dengar kerap merasa terisolasi dalam rapat jurusan tanpa pendampingan yang memadai.
Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM sekaligus Ketua Tim Peneliti, Wuri Handayani, mengungkapkan bahwa kondisi ini memicu kecemasan berlebih dan kelelahan berpikir bagi para dosen.
“Kondisi ini bukan karena mereka malas, tapi energi mereka habis untuk menaklukkan hambatan lingkungan sebelum sempat mengajar,” ujar Wuri, dikutip pada Rabu (11/2/2026).
Mimpi Buruk
Dampak dari lingkungan yang tidak mendukung ini sangat sistemik. Banyak dosen disabilitas merasa rendah diri dan ragu untuk mengejar karir akademik yang lebih tinggi, seperti melanjutkan studi S3 atau naik jabatan. Urusan birokrasi, seperti formulir hibah riset yang tidak aksesibel hingga jadwal kuliah yang berubah mendadak, seringkali menjadi "mimpi buruk" yang mengubur ide-ide brilian mereka.
Sebagai langkah konkret menghadapi ketidakadilan ini, sebanyak 16 dosen disabilitas yang hadir dalam forum strategis yang didanai oleh British Council tersebut sepakat membentuk Asosiasi Dosen Disabilitas Indonesia (ADDI). Wadah ini diharapkan menjadi motor penggerak untuk mendorong kebijakan inklusif dan memastikan adanya akomodasi yang layak di tingkat pemerintah maupun universitas.
Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Wening Udasmoro, menegaskan komitmennya untuk membawa isu ini melampaui sekadar jargon. Ia menekankan pentingnya audit aksesibilitas di setiap fakultas guna menciptakan lingkungan belajar yang bebas hambatan.
“Saya berharap rekomendasi riset ini tidak hanya menjadi dokumen di atas meja, melainkan menjadi refleksi bagi perubahan komprehensif di seluruh universitas di Indonesia,” pungkas Wening.
Bagikan