Mahasiswa UNY Berhasil Terapkan Ecoprint pada Kulit

07 Maret, 2022 18:28 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

07032022-UNY Ecoprint Kulit.jpg
Novi Saraswati, mahasiswa Prodi Pendidikan Kriya FBS UNY berhasil menerapkan teknik ecoprint pada material kulit. (EDUWARA/Dok. Pribadi)

Eduwara.com, JOGJA – Dikenal sebagai teknik memberi warna menggunakan bahan alami dan mencetak atau menjiplak motif dengan dedaunan, bunga atau bagian tanaman lainnya, teknik Ecoprint biasa diterapkan pada media kain. Namun, Novi Saraswati, mahasiswa Program Studi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berhasil menerapkan teknik ecoprint pada material kulit.

"Teknik pewarnaan ecoprint dilakukan dengan cara mentransfer warna dan bentuk pada media melalui kontak langsung. Umumnya diterapkan pada permukaan kain dan menghasilkan motif dengan berbagai macam bentuk dan warna," kata Novi dalam rilis Senin (7/3/2022).

Berdasarkan penelitian di home industry Batik Kampung Ngadiwinatan, Ngampilan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Novi mendapatkan pemahaman, jika dilihat dari sisi bahan yaitu kulit ternyata ada dua kelompok besar.

Pertama, kulit yang telah mengalami proses pengolahan penyamakan kulit yang kemudian disebut leather atau kulit-jadi (kulit tersamak). Kedua, kulit yang belum mengalami pengolahan dengan bahan kimiawi.

Jenis kulit pertama digunakan sebagai bahan baku industri persepatuan dan non persepatuan, yang pada umumnya merupakan barang-barang terpakai (fungsional) sehingga masih alami dan merupakan bahan mentah.

"Sedangkan jenis kulit yang kedua ini digunakan dalam seni tatah-sungging sebagai bahan utama. Kulit yang masih alami ini dalam dunia perkulitan dikenal dengan sebutan kulit perkamen atau kulit mentah," jelasnya.

Alumni SMKN 1 Kalasan tersebut mengungkapkan bahan baku yang digunakan untuk pewarnaan (ecoprint) di Bengkel Batik Kampung adalah kulit mentah domba, tawas, tunjung, kain katun, cuka, soda abu, plastik wrap, air, tali (rafia), bunga (kenikir, kamboja) dan daun (pucuk daun jati, daun lanang, daun jarak wulung, daun kalpataru, daun pepaya jepang).

"Bahan baku tersebut didapatkan dari toko-toko yang ada di sekitar daerah Yogyakarta. Sementara air, bunga dan daun diperoleh dari lingkungan sekitar. Proses ecoprint diawali dengan mordanting yaitu untuk meningkatkan daya serap kulit terhadap zat pewarna alami," kata Novi yang tinggal di Prambanan, Sleman.

Tingkatkan Kualitas Produk

Dalam penanganannya, Novi memulai dengan membersihkan dan membuka pori-pori kulit supaya warna yang dihasilkan akan maksimum. Lalu dilanjutkan dengan penanganan kulit dan daun dengan tujuan membersihkan segala kotoran yang menempel pada daun.

Penanganan ini wajib dilakukan supaya warna yang muncul lebih pekat dan maksimal. Ada beberapa jenis daun yang tidak memerlukan penanganan seperti daun lanang dan daun jati.

"Sedangkan semua jenis bunga juga tidak perlu melalui proses ini. Proses ecoprint dilanjutkan dengan teknik menutup kulit dengan kain katun yang telah diberi pewarna alami (iron blanket), pengukusan dan finishing," jelasnya.

Warga Nglengkong Sambirejo Prambanan tersebut mengatakan bahwa hasil karya ecoprint di media kulit ini dapat dibuat menjadi berbagai macam kerajinan seperti sepatu, tas, bahkan busana seperti rompi kulit, dress, kemeja atau celana.

Di bengkel Batik Kampung Ngadiwinatan, sejak 2018 hanya menerapkan teknik pewarnaan ecoprint pada kain saja. Kehadiran ecoprint dengan media kulit dinilai akan menjaga dan meningkatkan kualitas produk supaya mampu bersaing di kancah internasional.