Kampus
09 September, 2026 20:52 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Lewat penelitian kualitatif tentang hubungan literasi keuangan, pembelian impulsif, dan kecenderungan self-reward, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mendapati Gen Z lebih boros dalam hal pembelian makanan untuk menyenangkan serta penghargaan pada diri sendiri.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) UGM yang terdiri atas Rodiyyah Nurul Adawiyyah, Anggita Rasya Ananta, Ardhia Revalina Asyifa, Kadja Elyoenai Kale Lado, dan Zahrotuz Zakiyah meneliti fenomena tersebut melalui konsep intertemporal choice serta melibatkan 384 responden Gen Z.
Anggota tim PKM-RSH UGM, Anggita Rasya Ananta, mengatakan penelitian ini berangkat dari kebiasaan yang tampak sederhana, tetapi dapat memperlihatkan bagaimana seseorang mengambil keputusan konsumsi.
“Kami tertarik melihat self-reward sebagai bagian dari keseharian Gen Z dan memahami bagaimana keputusan untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri berkaitan dengan kondisi keuangan serta pilihan konsumsi,” kata Anggita, dikutip Rabu (9/9/2026).
Dari 384 responden Generasi Z, tim PKM-RSH UGM menemukan makanan menjadi bentuk self-reward yang paling banyak dipilih. Sebanyak 42 persen responden menggunakan makanan sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri, disusul pembelian barang sebesar 33,5 persen dan bentuk self-reward yang tidak melibatkan pembelian barang sebesar 24,5 persen. Temuan tersebut menjadi bagian dari riset
Temuan penelitian menunjukkan bahwa memiliki pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan belum tentu membuat seseorang terbebas dari pembelian impulsif. Seseorang dapat memahami pentingnya menyusun anggaran, menabung, serta membedakan kebutuhan dan keinginan, tetapi keputusan konsumsi tetap dapat dipengaruhi oleh dorongan untuk memperoleh kepuasan secara cepat.
Situasi tersebut, kata Anggita, membuat kemampuan mengendalikan dorongan menjadi bagian penting dalam mengelola self-reward.
“Literasi keuangan memberi dasar bagi seseorang untuk memahami konsekuensi dari keputusan finansial, tetapi dalam praktiknya kita juga perlu melihat bagaimana seseorang mengendalikan dorongan ketika ada keinginan untuk mendapatkan kepuasan secara langsung,” jelasnya.
Untuk melihat proses pengambilan keputusan tersebut, penelitian menggunakan konsep intertemporal choice, yakni cara seseorang mempertimbangkan manfaat yang diperoleh saat ini dengan kebutuhan yang mungkin muncul pada masa mendatang.
Emosional
Penelitian juga menemukan adanya dimensi emosional dalam praktik self-reward. Rasa lelah, tekanan pekerjaan, stres, kejenuhan, maupun kebahagiaan setelah mencapai sesuatu dapat mendorong seseorang mencari kepuasan melalui konsumsi. Makanan favorit, barang baru, atau aktivitas belanja kemudian menjadi cara untuk memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah melalui pengalaman emosional tertentu.
“Dari temuan kualitatif, kami melihat bahwa keputusan self-reward bisa muncul sebagai respons terhadap perasaan yang sedang dialami, sehingga konteks emosional menjadi hal yang penting untuk dipahami ketika membicarakan perilaku konsumsi,” ungkapnya.
Kondisi emosional tersebut menjadi perhatian ketika pembelian mulai digunakan berulang kali sebagai cara untuk meredakan lelah atau stres. Dalam situasi seperti itu, self-reward berpotensi berkembang menjadi kebiasaan konsumtif karena kepuasan sesaat terus dicari melalui transaksi.
Meski demikian, penelitian ini tidak menempatkan self-reward sebagai perilaku yang selalu bermasalah. Penghargaan terhadap diri sendiri tetap dapat menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan emosional selama dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan finansial dan prioritas masa depan.
Bagi Tim PKM-RSH UGM, memahami pola self-reward dapat membantu Gen Z melihat kembali hubungan antara kondisi emosional, keputusan konsumsi, dan perencanaan keuangan. Apresiasi terhadap diri sendiri tetap dapat dilakukan, tetapi keputusan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks kebutuhan yang lebih panjang.
Bagikan