Gagasan
07 November, 2026 13:10 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, SLEMAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) terus mempercepat langkah modernisasj dan digitalisasi di pasar-pasar rakyat dengan Pasar Godean sebagai salah satu pilot project utama. Langkah tersebut diambil untuk menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga eksistensi pasar tradisional di tengah gempuran transaksi daring.
Hal itu mengemuka dalam program talkshow Sleman Menjawab yang menghadirkan narasumber dari Disperindag Kabupaten Sleman dan Anggota DPRD Sleman di Pasar Godean, Kabupaten Sleman, pada Senin (19/10/2026).
Sekretaris Disperindag Kabupaten Sleman, Aris Herbandang, mengungkapkan perilaku konsumsi masyarakat mulai mengalami perubahan pasca-pandemi Covid-19 melanda. Perubahan tersebut dapat terlihat dari kebiasaan belanja masyarakat yang beralih ke platform daring (online) karena pembatasan interaksi sosial (lockdown).
Kondisi tersebut dikatakan Bandang –sapaan Aris Herbandang-- menjadi titik awal perubahan peradaban perdagangan global, termasuk di Kabupaten Sleman.
"Berawal dari masa pandemi dan sistem lockdown saat itu, perilaku individu dalam melakukan jual-beli mau tidak mau berubah. Setelah situasi kembali normal, kebiasaan belanja secara digital tersebut sudah melekat dan semakin berkembang," katanya.
Bandang menyebut, pergeseran pola komsumsi masyarakat itu menuntut pasar tradisional untuk beradaptasi. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Disperindag Sleman tidak tinggal diam dan telah menyiapkan sejumlah strategi akselerasi.
Modernisasi Tata Kelola Pasar
Satu langkah awal yang diterapkan Disperindag Sleman adalah dengan memodernisasi tata kelola pasar tradisional. Langkah digitalisasi itu dilakukan dengan menerapkan sistem e-registrasi dan e-billing kepada seluruh pedagang, sehingga memiliki nomor identitas pembayaran retribusi yang tercatat secara transparan.
"Dengan adanya e-billing, pembayaran retribusi langsung masuk ke kas daerah, sehingga dapat menekan tingkat kecurangan. Kami juga bisa mendata secara akurat bahwa di Pasar Godean saat ini terdapat sekitar 1.400 los dan kios," ujarnya.
Meski demikian, Bandang menyadari tidak semua pedagang melek digitalisasi. Oleh karena itu, Disperindag Sleman berkolaborasi dengan bank daerah menghadirkan program Laku Pandai. Program tersebut membantu para pedagang sepuh untuk tetap melakukan pembayaran retribusi secara digital dengan didampingi petugas.
Tak hanya itu, Disperindag Sleman juga menyediakan platform khusus untuk memantau pergerakan harga pangan di pasar tradisional. Melalui laman hargapangan.slemankab.go.id, masyarakat maupun pedagang di Bumi Sembada dapat memantau harga sembilan bahan pokok secara real-time setiap hari.
Selain aspek tata kelola dan transparansi harga, Disperindag Sleman juga menyiapkan program pelatihan live selling bagi para pedagang pasar tradisional. Langkah itu bertujuan agar para pedagang tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang ke lapak, tetapi juga mampu menjangkau pasar lebih luas secara digital.
Nguri-uri Budaya
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Sleman, Bambang Sigit Sulaksono, menegaskan pentingnya dukungan infrastruktur dan payung hukum untuk mengoptimalkan kembali fungsi pasar tradisional. Politisi PDIP itu menyoroti pentingnya fasilitas penunjang seperti area parkir yang memadai dan kebersihan lingkungan demi kenyamanan pengunjung.
"Punya pasar megah seperti ini, tapi kalau parkirnya tidak diatur dengan baik, ya pasar tidak bisa optimal dan orang malas datang. Makanya, kami dari dewan terus mengawal penganggaran agar fasilitas pasar bisa membuat pasar kembali ramai," tuturnya.
Menurut Bambang, pasar tradisional bukan sekadar tempat bertransaksi ekonomi, melainkan ruang interaksi sosial dan pelestarian budaya lokal (nguri-nguri budaya). Oleh karena itu, dia menilai sinergi antara pemerintah, pengelola pasar, paguyuban, serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sangat diperlukan untuk membuat pasar tradisional kembali ramai.
"Apalagi, Pasar Godean ini punya nilai historis yang kuat dan menjadi ikon Sleman Barat. Ke depan, kami ingin mengemas pasar tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang bisa disandingkan dengan ragam kuliner khas seperti keripik belut dan sambal belut yang legendaris," tambahnya.
"Mari bersama-sama melarisi pasar-pasar tradisional, khususnya Pasar Godean. Berbelanja di pasar tradisional adalah wujud nyata untuk nguri-nguri kebudayaan, merawat tradisi gotong-royong, dan menjaga denyut perekonomian lokal tetap langgeng," tandasnya.
Bagikan