Pendidikan Disepakati Jadi Kunci Keberlangsungan Kebudayaan Jawa

25 Oktober, 2022 14:57 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Bunga NurSY

IMG_20221024_172352.jpg
Kepala Disbud DIY Dian Lakshmi Pratiwi, Selasa (25/10/2022) mengatakan DIY terpilih sebagai tuan rumah KKJ ke-III pada 14-17 November. Kongres ini akan menjadikan pendidikan sebagai kunci dari revitalisasi kebudayaan Jawa. (Eduwara/Setyono )

Eduwara.com, JOGJA – Daerah Istimewa Yogyakarta terpilih sebagai tuan rumah Kongres Kebudayaan Jawa (KKJ) ke-111 pada 14-17 November. 

Dalam event empat tahunan ini, perwakilan tiga provinsi menyepakati dunia pendidikan sebagai kunci keberlangsungan peradaban kebudayaan Jawa.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi menyebutkan, bidang pendidikan menjadi salah satu pembahasan utama dalam berbagai forum diskusi group (FDG) maupun pertemuan-pertemuan pra kongres yang dilaksanakan Oktober ini.

"Pembahasan utama dalam KKJ ke-III nanti adalah sebagai tindak lanjut atas rekomendasi KKJ ke-II di Surabaya November 2018 lalu. Dimana KKJ saat itu menetapkan Saptagati Budaya Jawa atau Tujuh Keutamaan Budaya Jawa," kata Dian, Selasa (25/10/2022).

Dengan tema besar KKJ ke-III, ' Kebudayaan Jawa Anjayeng Bawana' atau kebudayaan Jawa mendunia dimaksudkan sebagai upaya menggugah masyarakat Jawa di berbagai belahan dunia untuk tidak melupakan asal serta budaya Jawa.

Tema ini menurut Dian ditetapkan atas latar belakang penetapan lima produk kebudayaan Jawa yang sudah ditetapkan Unesco sebagai warisan dunia yaitu Batik, Keris, Gamelan, Wayang dan Cerita Panji.

"Kami telah memetakan banyak persoalan yang akan dibahas dalam pertemuan. Hasil dari pembahasan sebagai kesepakatan akan kami jalankan dan evaluasi pada kongres berikutnya," papar Dian.

Khusus bidang pendidikan, dalam pra kongres yang dihadiri oleh perwakilan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY disepakati ini adalah kunci penting dalam keberlangsungan pelestarian kebudayaan Jawa di tengah dekadensi oleh kebudayaan asing.

"Pada sektor pendidikan, kita akan menekankan bahwa aspek ini sangat penting dalam proses revitalisasi kebudayaan Jawa. Tujuannya, supaya orang Jawa tidak kehilangan kejawaannya. Ada nilai-nilai kejawaan yang masih relevan namun ada pula yang tidak. Di sinilah pentingnya revitalisasi," ungkapnya.

Dirinya juga memastikan perwakilan dari DIY yang diwakili oleh Dewan Pendidikan DIY akan memaparkan mengenai 'Kurikulum Jawa Ngayogyakarta' yang selama ini sudah muatan lokal yang diajarkan ke seluruh anak didik.

Di hari pembukaan KKJ ke-III, Dian menyatakan tiga gubernur yaitu Sri Sultan HB X, Ganjar Pranowo, dan Khofifah Indar Parawansa akan memaparkan mengenai perkembangan kebudayaan Jawa di daerahnya.

"Harapannya di KKJ ke-III ini, kita nanti bisa merumuskan bagaimana strategi yang akan diambil untuk menjadikan kebudayaan Jawa lebih dinamis dan mengakomodir perkembangan jaman. Ini diperlukan untuk menghadapi berbagai isu-isu global," ungkapnya.

Saptagati Budaya Jawa

Di KKJ ke-II di Surabaya, Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra dan Permuseuman Dinas Kebudayaan DIY Budi Husada mengatakan telah menghasilkan keputusan yang disebut Saptagati Budaya Jawa.

Dimana isinya yang pertama kebudayaan Jawa adalah jati diri nasional bersama kebudayaan lokal lain. Kedua, kebudayaan Jawa adalah sendi dasar pembangunan bangsa, khususnya pada masyarakat Jawa. Ketiga, kebudayaan Jawa adalah kekuatan pilar penyangga kesatuan negara RI.

Keempat, kebudayaan Jawa adalah pagu nilai-nilai luhur perilaku kepemimpinan nasional. Kelima, kebudayaan Jawa adalah benteng penangkal erosi identitas lokal dan nasional. Keenam, kebudayaan Jawa adalah cahaya pemahaman nilai global dalam bingkai nasional. Ketujuh, kebudayaan Jawa adalah daya mental spiritual tata pergaulan internasional.

"Saptagati Budaya Jawa tersebut merupakan abstraksi prinsipial yang pada tataran pelaksanaan dinyatakan dalam rekomendasi sebagai satu kesatuan dengan keputusan ini," kata dia.