SAPA NETRA Perkuat Sistem Edukasi Inklusif bagi Ibu Tunanetra dalam Menyusui

09 Agustus, 2026 21:06 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

09082026-Sapanetra.jpg
Didampingi pakar laktasi senior Indonesia Utami Roesli dan pegiat perlindungan menyusui Irma Hidayana, kawan-kawan tunanetra melakukan edukasi interaktif dan praktik langsung (hands-on) menggunakan Kit Taktil 3D serta membaca Modul Braille, di Ruang Berkarya Lt. 6, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Kompleks TIM, Sabtu (8/8/2026). Program SAPA NETRA yang digagas URINDO bekerja sama dengan PERTUNI ini menjadi puncak acara Pekan Menyusui Sedunia 2026. (EDUWARA/Dok. URINDO)

Eduwara.com, JOGJA - Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) 2026 sepanjang minggu pertama Agustus ini diperingati puncaknya dengan gelaran program Support, Advokasi, dan Pendidikan Aksesibel bagi Ibu Tunanetra dalam Menyusui (SAPA NETRA).

Program yang digagas Universitas Respati Indonesia (URINDO) bekerja sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) yang digelar Sabtu (8/8/2026) menegaskan kembali hak kesehatan reproduksi dan laktasi bagi seluruh perempuan tanpa diskriminasi.

Berlangsung di Ruang Berkarya Lt. 6, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Pekan Menyusui Sedunia tahun ini berfokus pada memperkuat dan melanjutkan jejaring dukungan menyusui yang sudah berjalan dengan baik.

“Sejalan dengan tema SAPA NETRA, kami hadir untuk memperluas cakupan dukungan bagi kelompok rentan disabilitas netra agar tidak ada satu pun ibu yang tertinggal dalam memberikan ASI bagi buah hatinya,” kata Ketua Tim Pelaksana SAPA NETRA, Kusmayra Ambarwati, Minggu (9/8/2026).

Pada momen yang sangat istimewa, puluhan peserta kawan tunanetra melakukan edukasi interaktif dan praktik langsung (hands-on) menggunakan Kit Taktil 3D serta membaca Modul Braille yang didampingi langsung oleh pakar laktasi senior Indonesia, Utami Roesli, dan pegiat perlindungan menyusui, Irma Hidayana.  

Kusmayra menjelaskan perayaan Pekan Menyusui Sedunia menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali hak kesehatan reproduksi dan laktasi bagi seluruh perempuan tanpa diskriminasi.

"Semangat Pekan Menyusui Sedunia adalah memastikan sistem dukungan di sekitar ibu baik keluarga, tenaga kesehatan, hingga lingkungan komunitas berjalan secara berkelanjutan,” lanjutnya.

Dipaparkan Kusmayra, keterbatasan penglihatan tidak boleh membatasi hak seorang ibu untuk menyusui bayinya secara mandiri. 

“Hari ini sangat spesial karena kawan-kawan netra tidak hanya membaca modul Braille bersama dokter Utami Roesli, tetapi juga mempraktikkan langsung posisi-pelekatan, teknik perah Marmet, hingga pemberian ASIP berbasis rabaan taktil. Kita hadir untuk memperkuat sistem dukungan inklusif tersebut," kata Kusmayra.

Sesi utama diawali dengan pembacaan Modul Braille bersama dalam kelompok kecil yang dipandu oleh tim pelaksana dan Utami Roesli, dilanjutkan dengan sesi praktik hands-on pelekatan dan posisi menyusui.

Selain pembekalan teknis laktasi, kawan tunanetra juga mendapatkan edukasi penting mengenai advokasi dan perlindungan menyusui dari bahaya pemasaran susu formula yang tidak etis melalui pengenalan inovasi WA Bot Pelanggaran Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI oleh Irma Hidayana.

Chatbot

Memasuki era digital, SAPA NETRA juga memperkenalkan inovasi teknologi untuk pengawasan di mana Irma Hidayana memperkenalkan WhatsApp Chatbot "Pelanggaran Kode". Melalui chatbot ini, tenaga kesehatan, kader, maupun masyarakat umum dapat dengan mudah melaporkan dugaan pelanggaran Kode Internasional Pemasaran BMS langsung dari lapangan.

Laporan yang masuk akan diverifikasi dan diteruskan kepada pihak berwenang untuk ditindaklanjuti.

"Kami percaya edukasi tidak cukup hanya teori. Ibu harus praktik, dan masyarakat harus punya alat untuk mengawasi. Dengan chatbot ini, kita sama-sama bisa 'memecah keheningan' terhadap praktik pemasaran susu formula yang tidak etis," ujar Irma Hidayana.

Ketua Ketua 1 Bidang Advokasi dan Kerja Sama DPP PERTUNI, Agatha Febriany Anjarsari berharap melalui pelatihan hands-on yang didukung pendanaan Diktisaintek, SAPA NETRA mampu mencetak kader peer counselor (konselor sebaya) di lingkungan PERTUNI yang siap melanjutkan rantai dukungan bagi sesama ibu tunanetra di daerahnya masing-masing secara aman, mandiri, dan bermartabat.

“Monitoring dan evaluasi akan dilakukan untuk mengetahui progress program. Kemudian, pemantauan secara berkala dan melahirkan edukasi berkelanjutan dengan cara mengadopsi model edukasi di cabang menggunakan kits yang sudah dibagikan,” katanya.

Nantinya, tim secara berkala akan memonitor keberlanjutannya, serta mengevaluasi sistem pembelajaran yang sudah dilakukan, dan membentuk kelompok ibu netra yang berdaya lainnya di cabang PERTUNI.