Art
21 Oktober, 2026 20:00 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA – Taman Budaya Yogyakarta (TBY) memperkuat edukasi seni rupa kontemporer melalui penyelenggaraan pameran seni rupa tahunan ‘’Nandur Srawung’’ ke-13 pada Rabu (21/10/2026) hingga Rabu (28/10/2026). Tahun ini, Nandur Srawung tidak hanya menjadi ruang pamer karya, tetapi juga platform pengembangan pengetahuan, kapasitas, dan jejaring bagi seniman muda Indonesia.
Kepala TBY, Purwiati, dalam jumpa pers di Yogyakarta, Rabu (21/10/2026), mengatakan tahun ini, Nandur Srawung menghadirkan kurator-kurator muda berbakat yang diharapkan mampu mendorong perkembangan seni rupa kontemporer di Yogyakarta.
“Nandur Srawung memperkenalkan formasi tim kurator baru yang akan mendampingi perjalanan tiga tahun ke depan, yakni Gintani Swastika, Febrian A Hasibuan, dan Tomi Firdaus,” katanya.
Sebagai agenda rutin tahunan TBY, mulai tahun ini, Nandur Srawung dirancang berlangsung hingga 2028 dengan tiga konsep berbeda. Ketiga kurator menyusun platform kuratorial jangka panjang bertema ‘’Payung Akademi’’, yang merujuk pada berbagai ruang produksi pengetahuan, dengan fokus pada pengembangan praktik, pengetahuan, dan jejaring bagi seniman muda Indonesia. Tema tersebut dikembangkan ke dalam tiga subtema tahunan, yakni Lanskap (2026), Lab (2027), dan Lintasan (2028).
Kurator Gintani Swastika menjelaskan, pada penyelenggaraan tahun pertama bertajuk Nandur Srawung Taman Budaya Yogyakarta #13 2026 | Akademi: Lanskap, pihaknya ingin membaca sekaligus memetakan lanskap seni rupa kontemporer Indonesia saat ini dari beragam sudut pandang.
Menurutnya, kondisi dunia kesenian di Yogyakarta menjadi salah satu pertimbangan untuk menempatkan Nandur Srawung sebagai upaya reposisi dalam lanskap seni, termasuk terkait infrastruktur pengelolaan dan penyelenggaraan berbagai peristiwa seni.
“Kami perlu memberikan perhatian kepada teman-teman seniman muda, khususnya untuk kemudian memberikan ekosistem yang mendukung,” katanya.
Melalui pameran dan program publik, Nandur Srawung 2026 mengajak peserta dan pengunjung menelusuri beragam gagasan artistik, metode kerja, praktik berkesenian, serta keterlibatan publik dalam dunia seni. Berbagai aspek tersebut menjadi bahan untuk memetakan perkembangan seni kontemporer Indonesia saat ini.
100 Seniman
Kurator Tomi Firdaus menjelaskan, pameran utama Nandur Srawung 2026 melibatkan 100 seniman yang terpilih dari 264 pendaftar melalui mekanisme open call. Para seniman berasal dari berbagai daerah, antara lain Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung, Bali, Jambi, hingga Riau, dengan latar belakang dan medium berkarya yang beragam.
Pameran ini menampilkan keragaman praktik seni sekaligus menghadirkan karya-karya yang relevan dengan tema Lanskap. Sejumlah seniman yang terlibat di antaranya Siti Adiyati, Titarubi, Nadiah Bamadhaj, dan Maryanto, bersama seniman muda seperti Ipeh Nur, Marten Bayuaji, dan Mira Rizki.
Untuk memperkaya pembacaan terhadap lanskap seni kontemporer, Nandur Srawung 2026 menghadirkan sejumlah program publik, meliputi Kelas Penulisan Seni, Diskusi Publik, Kuliah Umum, Lifetime Achievement Award dan Pidato Kebudayaan, Wicara Seniman, Kios Seni, hingga Audience Recognition Award.
Dalam paparannya, Febrian A Hasibuan menerangkan bahwa Kelas Penulisan Seni menjadi salah satu program kunci untuk mengembangkan kapasitas penulis seni. Program ini diikuti 10 penulis seni muda dari Yogyakarta dan sekitarnya untuk mengasah kemampuan menulis, membaca, serta mengartikulasikan gagasan seni kontemporer.
“Kelas ini akan dipandu fasilitator dengan fokus pada kritik seni, observasi, analisis karya dan pameran, serta penulisan kontekstual,”katanya.
Sementara itu, dua agenda Diskusi Publik menjadi ruang produksi pengetahuan yang mengangkat persoalan seni dan pendidikan. Diskusi bertajuk “Polemik Seni Pasca Reformasi” menyoroti kecenderungan, motif, dan implikasi polemik kesenian yang membentuk cara masyarakat menilai dan mendefinisikan kesenian saat ini.
Diskusi kedua, Ide-ide di (Balik) Pendidikan Seni, membahas praktik pendidikan seni dari dalam maupun luar institusi, termasuk tantangan dan strategi untuk menjaga keberlangsungannya. Adapun Kuliah Umum “Festival dan Seni” akan membahas peran festival seni dalam memetakan berbagai persoalan, mulai dari ketimpangan relasi kuasa dan perbedaan kepentingan hingga akumulasi nilai serta tata kelola yang kontekstual.
Lifetime Achievement Award
Program Wicara Seniman turut dihadirkan agar karya-karya dalam pameran dapat dibaca melalui beragam perspektif. Lima seniman yang akan menjadi narasumber ialah Bonggal Hutagalung, Maryanto, Nina Widjaja, Pangestumu, dan Yudha Kusuma Putera.
“Dalam program ini, peserta Kelas Penulisan Seni berperan sebagai penanggap sekaligus memperoleh ruang untuk berlatih mengembangkan pembacaan kritis terhadap karya seni,” kata Gintani.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Kios Seni digelar melalui kolaborasi dengan Yogyakarta Art Book Club (YKABC), komunitas yang menaungi Yogyakarta Art Book Fair. Kios tersebut dibuka untuk publik selama periode pameran dan akan ditutup dengan lokakarya pada Selasa (27/10/2026).
Selain rangkaian pameran dan program edukasi, Nandur Srawung 2026 juga memberikan Lifetime Achievement Award kepada seniman performans terkemuka, Melati Suryodarmo. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi, komitmen, dan kontribusinya yang berkelanjutan terhadap perkembangan seni kontemporer Indonesia.
Pemberian penghargaan akan dilanjutkan dengan Pidato Kebudayaan yang memuat refleksi Melati Suryodarmo mengenai gagasan “diri” dan “jiwa” sebagai poros utama pandangan kebudayaannya. Refleksi tersebut juga menempatkan kedua gagasan itu dalam perspektif yang melampaui dikotomi Barat dan Timur di tengah konteks masyarakat pascakolonial.
Melalui tema Akademi: Lanskap, Nandur Srawung 2026 diharapkan tidak hanya memperluas ruang apresiasi seni rupa kontemporer, tetapi juga memperkuat ekosistem pembelajaran, pertukaran gagasan, dan pengembangan praktik seni bagi generasi seniman berikutnya.
Bagikan