Kampus
14 Oktober, 2026 21:59 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Lewat penelitiannya terhadap perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence /AI) yang mulai mengubah industri film secara mendasar, Kepala Program Stusdi (Kaprodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Filosa Gita Sukmono, terpilih mengikuti program Visiting Fellowship yang diselenggarakan Japan Foundation Southeast Asia Partnership (JFSEAP) di Kyoto University, Jepang.
Fellowship ini berlangsung selama empat bulan, mulai Oktober 2026 hingga akhir Januari 2027. Keikutsertaan Filosa menjadi kesempatan untuk memperluas kolaborasi akademik. Program ini juga mendukung pengembangan kajian komunikasi dan perfilman di tengah perkembangan teknologi.
Dalam penelitiannya, Filosa melihat pemanfaatan AI dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari pengembangan naskah hingga penyuntingan dan pembuatan efek visual. Melalui riset ini, Filosa akan meneliti pengaruh AI terhadap produksi film di Indonesia, Asia Tenggara, dan Jepang.
Menurut Filosa, penelitian ini berangkat dari perubahan nyata dalam proses produksi film. AI kini dapat membantu pengembangan cerita, pravisualisasi, penyuntingan, hingga produksi efek visual.
Namun, pemanfaatan teknologi tersebut juga memunculkan sejumlah pertanyaan. Isu yang muncul mencakup kreativitas, kepengarangan, etika, dan nasib tenaga kerja kreatif. Selain itu, terdapat tantangan dalam menjaga keberlanjutan identitas artistik sebuah karya.
“Penelitian saya berfokus pada bagaimana AI memengaruhi produksi film, baik di Indonesia maupun di kawasan Asia Tenggara dan Jepang. Saya ingin melihat bagaimana teknologi ini digunakan, apa tantangannya, serta bagaimana pengaruhnya terhadap proses kreatif dan praktik produksi film,” jelasnya Rabu (14/10/2026).
Komparatif
Penelitian ini menggunakan pendekatan komparatif. Filosa akan mengkaji bagaimana pembuat film dan praktisi kreatif di Indonesia, Asia Tenggara, dan Jepang mengadopsi AI dalam pekerjaan mereka. Perbedaan budaya, kondisi industri film, dan lingkungan teknologi menjadi aspek penting dalam kajian tersebut.
Bagi Filosa, transformasi perfilman tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan perangkat. "Transformasi tersebut juga menyangkut peran manusia dalam mempertahankan kreativitas. Selain itu, penggunaan teknologi juga perlu memperhatikan prinsip tanggung jawab," jelasnya.
Penelitian ini turut memberi perhatian pada implikasi budaya dan etika. Penggunaan AI dalam produksi film bukan sekadar persoalan efisiensi teknologi. Pemanfaatannya juga berkaitan dengan pengambilan keputusan kreatif dan peran manusia dalam proses produksi.
Filosa menjadi salah satu akademisi Indonesia yang terpilih mengikuti program tersebut. Ia juga menjadi satu-satunya peneliti dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang memperoleh kesempatan melakukan riset di institusi mitra Jepang.
JFSEAP merupakan program kemitraan Japan Foundation. Program ini bertujuan memperkuat kolaborasi intelektual, membangun jejaring, dan mendukung penelitian bersama. Kemitraan tersebut melibatkan Jepang dan negara-negara Asia Tenggara.
Melalui penelitian di Kyoto University, Filosa berharap dapat memperkaya pemahaman tentang masa depan produksi film di tengah perkembangan AI. Kajian ini juga membuka peluang untuk menghubungkan perspektif akademik dengan kebutuhan industri kreatif yang terus berubah.
Bagikan