UMY Tingkatkan Sistem Layanan Pendidikan Inklusif

20 Juli, 2026 21:38 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

20072026-layanan pendidikan inklusif.jpg
UMY gelar Talkshow Inklusivitas bertajuk ‘Menumbuhkan Ruang Aman untuk Semua’. Dalam talkshow tersebut Sekretaris Universitas UMY, Bachtiar Dwi Kurniawan, menegaskan komitmen untuk menghadirkan akses yang setara bagi seluruh sivitas akademika diwujudkan tidak hanya melalui kebijakan dan layanan, tetapi juga melalui penyediaan infrastruktur yang ramah bagi seluruh warga kampus tanpa memandang usia maupun kondisi fisik. (EDUWARA/Dok. UMY)

Eduwara.com, JOGJA - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus memperkuat komitmen dalam mewujudkan kampus yang inklusif melalui pengembangan infrastruktur ramah disabilitas, peningkatan sistem layanan, serta penguatan budaya kampus yang menghargai keberagaman.

Komitmen untuk menghadirkan akses yang setara bagi seluruh sivitas akademika tersebut diwujudkan tidak hanya melalui kebijakan dan layanan, tetapi juga melalui penyediaan infrastruktur yang ramah bagi seluruh warga kampus tanpa memandang usia maupun kondisi fisik.

Penegasan ini disampaikan Sekretaris Universitas UMY, Bachtiar Dwi Kurniawan, saat Talkshow Inklusivitas bertajuk ‘Menumbuhkan Ruang Aman untuk Semua’.

“Kami tidak membedakan usia, baik mahasiswa yang lebih muda maupun yang lebih senior. Karena itu, kami terus membangun dan menyempurnakan berbagai fasilitas kampus agar dapat diakses oleh seluruh warga kampus,” ujar Bachtiar, Senin (20/7/2026).

Semangat inklusivitas di UMY tidak hanya dimaknai sebagai penyediaan akses bagi penyandang disabilitas. Lebih dari itu, inklusivitas merupakan upaya membangun budaya kampus yang menghargai keberagaman, menjunjung tinggi kesetaraan, dan memberikan ruang yang aman bagi setiap individu.

Nilai-nilai tersebut, menurut Bachtiar, sejalan dengan prinsip Muhammadiyah yang menempatkan kemanusiaan dan keadilan sebagai fondasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Karena itu, UMY terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang ramah, aman, dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh civitas academica untuk berkembang tanpa diskriminasi.

Sistem Pengaduan

Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, UMY juga terus mengembangkan fasilitas kampus yang lebih inklusif. Salah satu rencana yang sedang diusulkan adalah pembangunan lift di Masjid KH Ahmad Dahlan UMY untuk memudahkan akses menuju lantai satu dan dua.

“Semangat inklusivitas juga harus hadir dalam proses pembelajaran, pelayanan administrasi, aktivitas kemahasiswaan, hingga penyelenggaraan ibadah sehingga seluruh civitas academica dapat merasakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan menggembirakan.

Direktur Direktorat Operasional dan Infrastruktur Berkelanjutan UMY, Surya Budi Lesmana, menjelaskan secara rutin, UMY melakukan evaluasi terhadap fasilitas kampus melalui sistem pengaduan yang menerima ratusan laporan setiap bulan. Seluruh laporan tersebut menjadi dasar bagi tim operasional dalam menentukan prioritas perbaikan.

“Pengembangan kampus inklusif tidak hanya dilakukan melalui pembangunan gedung baru, tetapi juga dengan melakukan penyesuaian terhadap bangunan yang telah ada agar semakin mudah diakses oleh seluruh sivitas akademika,” paparnya.

Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Studi Islam dan Peradaban (KPI-FSIP) UMY, Intan Tri Agustin, yang merupakan penyandang disabilitas daksa, membagikan pengalamannya sebagai mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan UMY.

Menurut Intan, kampus telah menyediakan lingkungan belajar yang nyaman dan memberikan ruang bagi mahasiswa disabilitas untuk beraktivitas serta berinteraksi. Meski demikian, ia menilai masih terdapat sejumlah fasilitas yang perlu terus disempurnakan, terutama yang berkaitan dengan aksesibilitas fisik.

“Toilet disabilitas, tidak hanya sebaiknya tersedia di lantai dasar atau lantai satu, tetapi juga di setiap lantai yang aktif digunakan mahasiswa. Selain itu, diperlukan perawatan fasilitas secara rutin serta kanal pengaduan yang mudah diakses agar mahasiswa dapat menyampaikan masukan terkait aksesibilitas kampus,” pungkas Intan.