logo

Bisnis

Ketersediaan Tenaga Terampil TI Indonesia Masih Kurang

Ketersediaan Tenaga Terampil TI Indonesia Masih Kurang
Indonesia VP Marketing Practicum Putra Nasution dan Co-Founder & CMO Tukoni dan Botika, Eri Kuncoro saat berbicara mengenai masa depan tenaga terampil TI, Jumat (19/8/2022). Hingga 2030, Indonesia membutuhkan 17 juta SDM dalam bidang TI. (EDUWARA/Setyono)
Setyono, Bisnis19 Agustus, 2022 23:59 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Diproyeksikan, hingga 2025 kebutuhan dunia industri Teknologi Informasi (TI) Indonesia akan terus meningkat hingga mencapai kebutuhan total 1,97 juta orang per tahun. Padahal, setiap tahun, dunia pendidikan Indonesia hanya mampu menyediakan 600 ribu orang.

Hal ini mengemuka dalam talkshow yang diselenggarakan pada Jumat (19/8/2022) bertema 'Strategi Memulai Karir di Dunia IT dengan Potensi Gaji 2 Digit dalam Satu Tahun Bersama Practicum'.

"Sayangnya, setiap tahun ketersediaan tenaga terampil digital yang siap pakai Indonesia berkisar 600 ribu tenaga kerja. Kita ketinggalan jauh," kata Indonesia VP Marketing Practicum Putra Nasution saat menjadi pembicara.

Bahkan jika melihat masifnya transformasi dunia TI, terutama pada masa pandemi, nilai ekonomi yang dihasilkan dari dunia informasi dan teknologi pada 2030 akan mengalami peningkatan drastis.

Putra mencontohkan bagaimana pada 2030 nanti, industri armada kendaraan tanpa pengemudi akan menghasilkan nilai ekonomi hingga 30 miliar USD. Kemudian pengiriman barang dengan Drone bernilai 2 miliar USD, dan pengindetifikasian data melalui mata bernilai 5 miliar USD.

"Melihat data-data dan proyeksi ini, diproyeksikan pada 2030 nanti Indonesia akan membutuhkan sebanyak 17 juta tenaga terampil digital teknologi informasi," kata Putra.

Ini belum lagi dengan gambaran dari survey World Economic Forum pada beberapa negara yang dengan jelas menyebutkan pekerjaan paling diminati pada 2021 semuanya dapat dilakukan dari jarak jauh.

Untuk menjawab kebutuhan akan tenaga terampil digital, Practicum meluncurkan Bootcamp Online di Indonesia yang berstandar internasional, lewat berbagai program pendidikan yang ditawarkan seperti data scientist, data analyst, dan fullstack engineer.

Literasi Data

Putra menyebut lulusan profesi-profesi dalam dunia TI banyak diminati para fresh graduate di seluruh dunia yang ingin bertumbuh serta bekerja di lingkungan yang modern dan ingin meningkatkan keahlian mereka.

"Program-program pendidikan digital itu juga menarik minat para pekerja profesional di tingkat global yang ingin memahami pentingnya literasi data di bidang teknologi," ungkapnya.

Menurut Putra, sekitar 5.000 lulusan di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa memajukan karir mereka di bidang digital dan data atas bantuan Practicum dalam dua tahun ini. Sejumlah lulusan lembaga ini juga diklaim berkarir di perusahaan teknologi ternama dunia, seperti Google, Apple, Spotify, Microsoft, Tesla, Cisco, dan Nielsen.

"Hampir 80 persen alumni kami telah langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus tanpa pendidikan teknis dan 70,4 persen alumni berhasil mendapatkan pekerjaan tanpa memiliki pengalaman di bidang IT sebelumnya," kata dia.

Para talenta digital itu dipastikan memiliki standar internasional dengan metode praktik menggunakan data secara nyata dan berasal dari studi kasus perusahaan global.

Tahun ini, Practicum kembali menjadi salah satu program bootcamp terbaik di dunia dalam The Best 41 Online Bootcamps menurut CourseReport.com.

Di Indonesia, Practicum telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan seperti GoTo dan Flip dan menjajaki kolaborasi dengan beberapa bank dan kementerian.

"Practicum Indonesia dibuat khusus bagi masyarakat Indonesia dan kami telah khusus membuat program dalam Bahasa Indonesia untuk memudahkan siapa saja yang tertarik untuk meningkatkan kemampuan, serta membantu memotivasi pengalihan karir ke bidang teknologi," paparnya.

Co-Founder & CMO Tukoni dan Botika, Eri Kuncoro menyebut tingginya permintaan tenaga terampil digital ini karena hadirnya transformasi atau perubahan kebiasaan manusia pada teknologi digital yang berorientasi masa depan.

"Pandemi telah menghadirkan digitalisasi di masyarakat. Sekarang semuanya berlomba-lomba menguasai masa depan. Karenanya, setiap individu nantinya harus siap memperbarui kemampuan digital mereka dan membuka diri pada berbagai peluang yang ada," jelasnya.

Read Next