
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) 2026, yang diselenggarakan komunitas Lingkar Belajar Daerah (LDB), mendorong pimpinan di tingkat pemerintah daerah (Pemda) memperkuat komitmen dalam mentransformasi pendidikan.
KPI 2026, yang berlangsung dua hari, Rabu-Kamis (1-2/6/2026) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menekankan pentingnya pendekatan sistemik dan kolaboratif antarpihak dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat, kontekstual, dan berkelanjutan.
Dewan Penasihat LDB dan inisiator KPI, Najeela Shihab, menerangkan berbeda dengan penyelenggaran sebelumnya, mulai saat ini, KPI diselenggarakan bersama pemerintah daerah. Tahun ini, Sleman mengajukan diri sebagai tuan rumah dan akan disusul daerah lainnya.
“Kami mengapresiasi dukungan sepenuhnya dari Pemkab Sleman yang bersedia menjadi tuan rumah. KPI selama ini telah menjadi forum yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat pembelajaran antardaerah, mendorong advokasi kebijakan berbasis praktik baik, serta mempercepat transformasi pendidikan yang lebih adil, kontekstual, dan berkelanjutan,” kata Najeela Shihab, saat pembukaan di UNY, Rabu (1/6).
Mengusung tema "Membangun Ekosistem Pendidikan untuk Masyarakat Sembada", Najeela menegaskan KPI 2026 kembali mendorong agar pemerintah bersama pemangku kepentingan di daerah memperkuat serta mendorong transformasi pendidikan menuju masyarakat yang sejahtera.
Najeela melihat kolaborasi antar semua pemangku menjadi bagian penting pondasi memajukan dunia kualitas pendidikan yang melahirkan manusia Indonesia yang berdaya, Sejahtera dan mampu menghadapi tantangan di masa depan.
"Transformasi pendidikan tidak bisa dilakukan sendiri. Pendidikan harus menjadi prioritas bersama yang dikerjakan melalui kolaborasi pemerintah, sekolah, masyarakat, komunitas, dunia usaha, hingga keluarga,” ucapnya.
Berpihak pada Anak
Bagi Najeela, komitmen untuk berpihak kepada anak bukanlah tujuan yang selesai dalam satu forum, melainkan perjalanan yang harus ditempuh bersama. Perubahan paradigma menjadi hal yang paling dibutuhkan, bagaimana menempatkan anak sebagai yang utama dalam setiap kebijakan dan praktik pendidikan.
Perubahan paradigma yang diharapkan dari pemimpin daerah sekarang tidak lagi dalam konteks memasukkan anak ke sekolah. Bukan hanya sekadar soal, menyediakan aksesnya atau memberikan beasiswa.
“Tetapi komitmen untuk menjalin komunikasi dan menunjukkan kepercayaan dan keyakinan pada masyarakat akan pentingnya serta berartinya pendidikan betapa pendidikan,” tegasnya.
Sehingga, lanjut Nadjeela, dengan terselenggarannya KPI secara rutin, akan menjadi ruang penguatan kapasitas untuk berbagai pemangku kepentingan di daerah masing-masing sehingga menikmati hasilnya. Komitmen dan konsistensi betul-betul diperlukan untuk meningkatkan pendidikan, kualitasnya, sehingga pada akhirnya menuju masyarakat yang sejahtera.
Najeela mencontohkan bagaimana Sleman, sebagai daerah yang kaya dengan sumber daya pendukung pendidikan mampu menjadikan data sebagai rujukan untuk terus memperkuat ekosistem pendidikan. Resep yang tidak sepenuhnya mengandalkan anggaran menjadi contoh baik bagi Pemda yang lain.
Sebagai tuan rumah, Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyebut konferensi ini menjadi ruang bersama untuk berbagi praktik baik, mendiskusikan berbagai tantangan pendidikan, menyampaikan gagasan inovatif, sekaligus membangun komitmen bersama dalam memperkuat transformasi pendidikan Indonesia.
“Ini sesuai dengan semangat kami dalam memajukan mutu serta kualitas pendidikan dengan menyediakan sarana pendidikan yang aman dan nyaman. Kita juga terus menambah jumlah sekolah yang aman, bebas dari kekerasan yang mampu mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Harda menambahkan ehadiran 350 peserta dari berbagai bidang akan saling belajar tentang berbagai praktik baik pendidikan di daerah. Melalui diskusi antar perwakilan daerah, maka diharapkan saling belajar untuk menemukan solusi bersama.