logo

Kampus

Di Tuban, Alumnus Fapet UGM Berhasil Mengembangkan Peternakan Modern

Di Tuban, Alumnus Fapet UGM Berhasil Mengembangkan Peternakan Modern
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2021, Mila Arlinda, berhasil mengembangkan peternakan modern kambing dan domba ‘Kerabat Ternak’ di Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Tuban. (EDUWARA/Dok. UGM)
Setyono, Kampus29 Juni, 2026 18:16 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Berbekal lima ekor kambing yang dirawat semasa di bangku SMA, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2021, Mila Arlinda, berhasil mengembangkan peternakan modern kambing dan domba di Tuban, Jawa Timur.

Setiap tahun, peternakan ‘Kerabat Ternak’ yang ada di Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Tuban mampu menghasilkan omzet Rp 500-700 juta dalam setahun. Bersama sang suami, Sahroni, Mila mengembangkan usaha kambing dan domba yang kini memiliki berbagai lini bisnis, mulai dari penggemukan, pembibitan, ternak perah, hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak).

“Dulu, keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,” kenang Mila saat ditemui di kandang Kerabat Ternak, beberapa waktu lalu.

Ketertarikan Mila pada dunia peternakan sudah muncul sejak remaja. Bahkan jauh sebelum menjadi mahasiswa, tepatnya saat masih duduk di bangku SMA kelas 2 pada 2014, Mila mulai memelihara lima ekor domba.

Saat resmi menyelesaikan pendidikan di Fapet UGM pada 2021, Mila memutuskan untuk fokus menekuni usaha ternak. Ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan.

“Di Fapet UGM kami belajar bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha,” ujarnya.

Selama kuliah, Mila dikenal aktif belajar langsung dari para dosen, praktisi, hingga peternak senior di berbagai daerah. Ia percaya bahwa keberhasilan peternakan lahir dari perpaduan ilmu pengetahuan dan pengalaman lapangan.

“Teori itu penting, tapi tidak cukup, harus turun langsung ke lapangan,” katanya.

Pakan Ternak

Perjalanan bisnis Mila tidak selalu berjalan mulus. Kematian ternak yang ia pelihara menjadi pembelajaran. Namun, setiap kali ada kematian ternak, Mila selalu melakukan observasi sebagai bahan pembelajaran agar tidak terulang.

Dari pengalaman tersebut, Mila semakin memahami manajemen kesehatan ternak, mulai dari pneumonia akibat perubahan suhu hingga berbagai infeksi lain yang umum menyerang kambing dan domba. Kini, Kerabat Ternak 1-3 berkembang menjadi usaha peternakan yang tidak hanya fokus pada jumlah populasi, tetapi juga kualitas ternak dan kenyamanan hewan.

Selain kebersihan, pakan ternak juga dikelola Mila secara serius. Mila memiliki lahan hijauan pakan ternak seluas sekitar 1,5 hektare dan memanfaatkan pakan tambahan seperti ampas tahu serta kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.

Berbeda dengan sebagian peternak yang mengejar populasi besar, Mila justru lebih fokus pada kualitas dan genetika ternak. Strategi tersebut terbukti berhasil. Untuk kambing kualitas unggul, harga jual bisa mencapai Rp 16 juta hingga Rp 23 juta per ekor, sedangkan kambing lokal berkisar Rp 3 juta hingga Rp5 juta.

Tidak hanya menjual ternak kurban dan aqiqah, Kerabat Ternak juga mengembangkan bisnis sapronak seperti susu cempe, vitamin, hingga peralatan peternakan yang dipasarkan ke berbagai daerah.

Momentum Iduladha menjadi salah satu puncak usaha mereka. Dua bulan menjelang musim kurban tahun 2024, omzet Kerabat Ternak disebut mencapai Rp 500 juta hingga Rp 700 juta. Sementara pada hari biasa, usaha aqiqah, penjualan bibit, susu, dan sapronak menghasilkan perputaran sekitar Rp 50 juta per bulan, ditambah bisnis sarana produksi ternak sekitar Rp 75 juta.

Pasar ternak Mila kini meluas hingga Lamongan, Bojonegoro, dan berbagai wilayah lain di Jawa Timur. Menurut Mila, keberadaan Kerabat Ternak sangat membantu peternak kecil, terutama dalam distribusi susu kambing.

Bagi Mila, kesuksesan bukan hanya soal keuntungan pribadi, melainkan bagaimana peternakan dapat menjadi ruang belajar, pemberdayaan, dan sumber penghidupan masyarakat.

Read Next