
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendorong sekolah-sekolah menerapkan pembelajaran membatik sebagai bagian dari kurikulum. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan batik sekaligus mewariskan pengetahuan dan keterampilan membatik kepada generasi muda.
Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Noviar Rahmad, mengatakan batik tidak hanya berbicara tentang kain dan motif yang dihasilkan. Lebih dari itu, batik mengandung proses, pengetahuan, keterampilan, cara berpikir, hingga cara pandang terhadap kerja dan kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal itu disampaikan Noviar dalam perayaan Hari Batik Nasional melalui acara “Simfoni 1.001 Pembatik di Malioboro”. Menurutnya, menjaga keberlangsungan batik harus dilakukan dengan memastikan proses pembuatannya tetap hidup dan keterampilan membatik terus diwariskan di tengah perubahan zaman.
“Karena itu, menjaga keberlangsungan batik perlu dilakukan dengan memastikan prosesnya tetap hidup dan keterampilannya terus diwariskan di tengah perubahan zaman,” kata Noviar, dikutip Senin (5/10/2026).
Merujuk pernyataan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Noviar mengatakan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan membuat berbagai pekerjaan dapat diselesaikan semakin cepat, bahkan berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan manusia. Dalam kondisi tersebut, batik justru memberikan pelajaran penting mengenai arti sebuah proses.
Dalam proses membatik tradisional, setiap garis harus dilalui satu per satu dan setiap motif membutuhkan ketekunan. Setiap lembar kain juga menuntut perhatian yang tidak dapat digantikan oleh ketergesaan.
Di balik sebuah karya batik terdapat waktu, pengalaman, kerja tangan, dan kerja sama yang tidak sederhana. Karena itu, menurut Noviar, batik tidak boleh direduksi hanya menjadi hasil akhir berupa kain bermotif.
Hal serupa berlaku dalam upaya pelestarian batik. Menjaga batik bukan sekadar menyimpan hasil karya yang telah dibuat, tetapi juga memastikan proses pembuatannya terus berlangsung dan keterampilan membatik dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Warisan budaya hanya akan tetap hidup apabila terus ada tangan yang mengerjakannya, pikiran yang mempelajarinya, dan hati yang bersedia meneruskannya,” ujarnya.
Kurikulum Membatik
Noviar menegaskan batik merupakan warisan budaya yang memuat nilai sejarah, kreativitas, dan kearifan lokal yang terus diwariskan lintas generasi. Karena itu, edukasi kepada generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan batik.
Selain itu, masyarakat juga didorong menggunakan batik asli karya perajin dalam negeri. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mendorong sekolah-sekolah menerapkan pembelajaran atau kurikulum membatik.
“Mari kita jadikan batik bukan hanya warisan masa lalu, melainkan karya yang terus hidup, berkembang, dan berinovasi untuk masa depan bangsa,” tegasnya.
Praktik pembelajaran membatik telah diterapkan di Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul. Di wilayah tersebut, keterampilan membatik menjadi salah satu bagian dari syarat kelulusan bagi siswa SD/MI.
Gagasan tersebut merupakan inovasi Pusat Kegiatan Guru Mandiri (PKGM) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Pandak. Program tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta.
Menurut Aris, kegiatan membatik di sekolah penting karena batik merupakan karya yang telah menjadi bagian dari identitas budaya, bukan semata-mata kain atau pakaian. Peringatan Hari Batik Nasional, menurutnya, dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap batik, khususnya di kalangan generasi muda.
“Para guru dapat mengenalkan nilai-nilai budaya kepada anak-anak melalui kegiatan di lingkungan sekolah. Sementara bagi anak-anak, saya berpesan agar jangan malu mengenakan batik dan jangan merasa budaya tradisional kalah menarik dibandingkan budaya dari luar,” kata Aris.
Pembelajaran membatik di sekolah juga tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengenalan budaya, tetapi sekaligus melatih kemampuan dan ketelitian anak. Saat membuat titik dan garis mengikuti pola, misalnya, siswa belajar mengasah keterampilan sekaligus rasa. Melalui muatan lokal tersebut, setiap siswa SD di wilayah Korwil Pandak diwajibkan menghasilkan sedikitnya dua karya batik sebagai salah satu bagian dari syarat kelulusan.
“Sehingga setiap anak SD di Kapanewon Pandak ini pasti bisa membatik, bisa berkarya,” pungkas Aris.