logo

Sekolah Kita

Pendidikan Khas Kejogjaan akan Diterapkan di Sekolah

Pendidikan Khas Kejogjaan akan Diterapkan di Sekolah
Mahasiswa baru UAJY tengah berlatih jemparingan di kawasan Keraton Yogyakarta, Sabtu (21/2/2026). Kegiatan ini merupakan salah satu penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di UAJY yang bertujuan agar para mahasiswa tidak hanya memahami budaya secara teroritis, tetapi juga mengalami praktik budaya secara langsung. (EDUWARA/Dok. UAJY)
Setyono, Sekolah Kita25 Februari, 2026 04:46 WIB

Eduwara.com, JOGJA – Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menargetkan penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di seluruh satuan pendidikan mulai tahun ajaran 2026-2027. Kebijakan ini merupakan arahan langsung Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, kepada Dewan Pendidikan DIY.

Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa, melaporkan pelaksanaan PKJ yang telah diuji coba sejak 2024 di sejumlah sekolah di DIY. Sri Sultan meminta PKJ segera diberlakukan secara menyeluruh, tidak hanya di sekolah dasar dan menengah, tetapi juga di perguruan tinggi.

“Memang, harus kami akui pelaksanaan PKJ belum di semua sekolah. Kami tentu perlu berhati-hati dalam melakukan uji coba. Tadi, kami diminta untuk segera ada kepyakan atau peresmian untuk dilakukan di semua sekolah, mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA/SMK dan juga perguruan tinggi,” ujar Sutrisna, dikutip Selasa (24/2/2026).

Berdasarkan hasil evaluasi uji coba di 10 sekolah, implementasi PKJ menunjukkan dampak positif terhadap pembentukan karakter peserta didik. Pada indikator pengukuran karakter dengan skala 1 hingga 5, nilai rata-rata mencapai 4,1.

“Artinya, ini sudah bagus. Karena itu, kami pun merasa sekolah lain perlu untuk melaksanakannya juga,” imbuhnya.

Sutrisna menjelaskan, PKJ merupakan pendidikan berbasis nilai-nilai khas Jogja yang berorientasi pada pembentukan karakter. Perumusan PKJ merupakan tindak lanjut dari pidato Gubernur DIY pada 2019 mengenai pentingnya pendidikan berbasis kebudayaan.

Meski menggunakan istilah pendidikan, PKJ bukan mata pelajaran baru. Konsepnya berupa penyisipan nilai dan filosofi ke-Jogja-an ke dalam mata pelajaran yang sudah ada.

“Misalnya saja masuk dalam pelajaran Bahasa Jawa karena mungkin itu yang paling mudah. Tapi banyak juga materi PKJ yang dapat disisipkan pada mata pelajaran lain, seperti pendidikan agama dengan filosofi sankanparaning dumadi tentang asal-usul dan tujuan manusia diciptakan. Begitu pula dengan Bahasa Indonesia atau IPS yang dapat disisipi wacana-wacana Jogja,” paparnya.

Untuk jenjang perguruan tinggi, PKJ dapat diperkenalkan sejak masa pengenalan kampus. Saat ini, beberapa perguruan tinggi di DIY telah mulai menerapkannya. Ke depan, Dewan Pendidikan DIY berharap semakin banyak kajian akademik yang menggali nilai dan budaya Jogja dari berbagai perspektif keilmuan.

Bimbingan Teknis

Terkait kesiapan pelaksanaan, Sutrisna memastikan bahwa buku panduan PKJ serta media pembelajaran telah tersedia. Selain itu, rangkaian bimbingan teknis bagi tenaga pendidik juga telah disiapkan dan akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan.

Dengan penerapan menyeluruh pada tahun ajaran mendatang, Pemda DIY berharap PKJ dapat memperkuat identitas budaya sekaligus membentuk karakter generasi muda yang berakar pada nilai-nilai luhur Kejogjaan.

Penerapan PKJ di perguruan tinggi sudah dilakukan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), yang mengajak mahasiswa barunya mengenal nilai-nilai Jawa di Kawasan Keraton Ngayogyakarta pada Sabtu (21/2/2026) pekan lalu.

Dimonitori Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) UAJY, mahasiswa dibagi dalam lima kelompok, dengan ragam kegiatan budaya yang mencerminkan kekayaan tradisi Keraton, seperti ketapel, jemparingan, pedalangan, tata busana, karawitan, dan joged Mataram. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami budaya secara teoritis, tetapi juga mengalami praktik budaya secara langsung.

Dalam sesi jemparingan, pengajar memperkenalkan teknik dasar serta filosofi di balik peralatan dan gerakan memanah tradisional. Mahasiswa diajak memahami posisi tubuh, cara memegang busur, hingga makna simbolik dalam setiap gerakan.

Sementara itu, pada kelas joged Mataram, mahasiswa dibimbing untuk memahami teknik dasar tari klasik Jawa, mulai dari sikap tangan, kaki, hingga postur tubuh. Pengajar menekankan pentingnya ketepatan teknik sebagai dasar sebelum mempelajari ragam gerak yang lebih kompleks. 

Read Next