
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JAKARTA – Era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah meruntuhkan tembok monopoli pengetahuan yang selama ini dikuasai oleh para pendidik. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), yang juga pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, memperingatkan jika perguruan tinggi tidak segera berbenah, eksistensi institusi pendidikan terancam oleh skeptisisme generasi muda.
"Dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Gen Z sekarang lebih percaya pada 'orang cerdas' di gawai mereka (AI) yang mampu menjelaskan lintas disiplin ilmu. Kalau kita diam saja, AI siap menghancurkan monopoli pengetahuan dosen," ujar Rhenald Khasali dalam acara Executive Workshop SEVIMA bertajuk “LeadThe Future” di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Pernyataan Rhenald ini menanggapi fenomena viral di media sosial di mana sebagian generasi muda mulai melabeli kuliah sebagai scam atau penipuan.
Paradigma pendidikan, menurut Rhenald, harus bergeser dari sekadar menyalurkan ilmu menjadi proses mengonstruksi manusia, yakni membentuk dan mengembangkan potensi individu sesuai keunikan masing-masing mahasiswa.
Menjawab tantangan tersebut, platform edutech SEVIMA meluncurkan Edlink Dosen Pro AI. Produk ini merupakan hasil hilirisasi riset yang didanai oleh Hibah Riset Prioritas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui skema Ajakan Industri.
Teknologi ini dirancang untuk memposisikan AI sebagai agen aktif dalam pembelajaran, dengan fitur-fitur unggulan seperti otomasi video pembelajaran yang bisa mengonversi powerpoint atau bahan ajar menjadi video secara otomatis.
Teknologi Cerdas
Kemudian, ada modul penyusunan kurikulum atau draf Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis Outcome Based Education (OBE). Terakhir, evaluasi cerdas guna menghasilkan bank soal yang terpetakan ke taksonomi Bloom dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).
Selain itu, diluncurkan pula ekosistem AI SEVIMA yang mencakup prediksi kelulusan, Computer-Based Test, hingga presensi berbasis AI DeepFace untuk efisiensi tata kelola kampus.
Transformasi ini, menurut CEO SEVIMA, Sugianto Halim, bersifat mendesak mengingat Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Indonesia stagnan pada angka 32,89 persen selama delapan tahun terakhir. Padahal, target Indonesia Emas 2045 mematok angka 60 persen.
"Data ini adalah alarm. Kesenjangan antar wilayah sangat lebar, contohnya APK Yogyakarta mencapai 74 persen sementara Papua Pegunungan hanya 13 persen. Belum lagi ada 9,9 juta anak muda berstatus NEET (tidak kuliah, tidak bekerja, tidak pelatihan)," paparnya.
Meski demikian, ada optimisme besar. Survei SEVIMA terhadap 300 lebih pimpinan perguruan tinggi menunjukkan bahwa 68,1 persen institusi berencana memprioritaskan teknologi Generative AI dalam tiga tahun ke depan.
Hal ini menandakan pergeseran arah transformasi digital dari sekadar urusan administratif menuju pemanfaatan teknologi cerdas yang berdampak langsung pada kualitas lulusan.