
Bagikan:

Bagikan:
JOGJA, Eduwara.com - Dalam konteks pendekatan pengembangan pariwisata berbasis komunitas, desa dan masyarakat menjadi subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek wisata. Pengembangan ini diharapkan bukan hanya berasal dari ruang literasi berbasis buku, tetapi juga melalui dialog, pengalaman hidup, kegiatan seni, dan praktik ekonomi kreatif yang melibatkan warga desa.
Hal ini mengemukan dalam program pengembangan pariwisata berbasis komunitas ‘Taste & Create in Betakan’ yang diinisiatif Literasi Desa Tumbuh (LDT) dan Omah Tumbuh Betakan (OTB).
Berlangsung pada Kamis (9/4/2026), program yang diikuti 17 peserta dari Indonesia, Singapura dan Malaysia berlokasi di Dusun Betakan, Desa Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Pendiri yayasan Literasi Desa Tumbuh, Noor Huda Ismail, menerangkan proyek ini sepenuhnya mengusung konsep ‘wisata di desa’, bukan ‘desa wisata’.
“Ini adalah sebuah model yang menempatkan desa dan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek wisata,” katanya.
Para peserta kegiatan diajak merasakan pengalaman belajar lintas budaya yang mempertemukan komunitas regional ASEAN dengan masyarakat desa melalui berbagai aktivitas berbasis ekonomi kreatif, literasi komunitas, dan praktik keberlanjutan lingkungan. Peserta juga diajak memahami kehidupan desa secara langsung.
“Desa tidak seharusnya hanya menjadi tempat wisata. Desa adalah ruang hidup yang memiliki pengetahuan, budaya, dan cara hidup yang berkelanjutan. Pendekatan kami adalah mengundang orang untuk saling belajar dengan masyarakat desa, bukan mengubah desa agar sesuai dengan selera wisata,” ujarnya.

Pengalaman Kreatif
Melalui inisiatif ini, LDT berusaha mengembangkan ruang literasi yang tidak hanya berbasis buku, tetapi juga melalui dialog, pengalaman hidup, kegiatan seni, dan praktik ekonomi kreatif yang melibatkan warga desa.
Sepenuhnya kegiatan ini dikemas sebagai pengalaman kreatif yang menyenangkan dengan latar suasana pedesaan yang asri. Peserta dipandu oleh mahasiswa dan pegiat seni yang tidak hanya mengajarkan teknik membatik, tetapi juga berbagi cerita mengenai sejarah batik kuno, proses koleksi dan lelang batik, hingga pengalaman berburu batik berkualitas.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Huda ingin memperlihatkan bagaimana di Betakan ekonomi kreatif dapat tumbuh dari kehidupan desa, mulai dari praktik pertanian berkelanjutan, kuliner lokal, seni dan kerajinan, hingga inisiatif literasi bagi anak-anak.
“Pendekatan ini menjadi bagian dari filosofi Stay, Learn, and Grow. Stay tidak hanya dimaknai sebagai menginap di homestay desa, tetapi sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak dan merasakan kehidupan bersama masyarakat lokal,” ujar Huda yang aktif di Singapura dan terlibat dalam berbagai kegiatan akademik serta komunitas di Malaysia.
Learn menggambarkan proses belajar melalui pengalaman langsung, melalui percakapan, seni, kuliner, dan praktik kehidupan desa yang tumbuh secara kontekstual. Sementara Grow merepresentasikan nilai keberlanjutan dan kesadaran untuk menghormati alam sebagai sumber kehidupan sekaligus fondasi masa depan komunitas.
Ke depan, kegiatan Taste & Create in Betakan akan terus dikembangkan sebagai program berkelanjutan yang mempertemukan komunitas, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, serta mitra pembangunan dari berbagai negara di kawasan ASEAN.
Inisiatif ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana desa dapat berkembang secara ekonomi tanpa kehilangan identitas, nilai budaya, dan kohesi sosial masyarakatnya. Jejaring regional tersebut kemudian berkembang menjadi dukungan nyata terhadap inisiatif literasi dan pemberdayaan masyarakat desa di Betakan.