logo

Sekolah Kita

Asesmen Diagnostik Jadi Cara Memotret Profil Siswa

Asesmen Diagnostik Jadi Cara Memotret Profil Siswa
Pelaksanaan Asesmen Diagnostik di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, Jumat (10/6/2022). (Humas SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo)
Redaksi, Sekolah Kita13 Juni, 2022 13:01 WIB

Eduwara.com, SOLO – Asesmen Diagnostik (AD) merupakan salah satu cara memotret profil siswa, yang bermanfaat bagi sekolah, guru, dan orang tua sebagai landasan dalam mendidik serta membimbing siswa untuk mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan.

Demikianlah yang disampaikan Kepala Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 1 Ketelan Solo Sri Sayekti pada Rapat Koordinasi Kegiatan Sekolah yang digelar secara tatap muka, Jumat (10/6/2022).

 Acara yang dilaksanakan oleh guru yang berkolaborasi dengan Biro Psikologi dan Konsultan Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), Cindo Consulting itu merupakan implementasi dari Program sekolah penggerak dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek).

Secara spesifik, sambung Sayekti, tujuan AD ialah mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, kelemahan siswa, sehingga pembelajaran bisa dirancang sesuai dengan kompetensi dan kondisi siswa. "Kelas I berkaitan profil siswa dan tipe belajar siswa. Kemudian bagi guru kelas II untuk mengetahui cara belajar,” ujar dia seperti siaran pers yang diterima Eduwara.com, Minggu (12/6/2022).

Asesmen Diagnostik, sambung dia, perlu dilakukan karena akan memudahkan guru mengidentifikasi ketertinggalan kompetensi, kekuatan, dan kelemahan siswa. Hasil Asesmen Diagnostik akan digunakan sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran. Oleh karena itu, setelah dilakukan asesmen, guru perlu merancang dan melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dan kondisi siswa.

Dengan diadakannya AD, diharapkan bisa berdampak pada karakter dan membangun sekaligus meningkatkan hasil belajar siswa. Ketika hal tersebut bisa dicapai, tentunya bisa sebagai acuan pendidik untuk mendesain proses pembelajaran ataupun menyusun bahan ajar dan media pembelajaran sesuai dengan gaya belajar siswa.

Lebih lanjut, Sayekti mengatakan bahwa kelas III berkaitan dengan bakat dan minat, sedangkan kelas IV pengelompokan berdasarkan minatnya. Sehingga tidak ada yang namanya penjurusan maupun moving class. 

“Berdasarkan hasil Asesmen Diagnosis, terdapat tiga jenis gaya belajar siswa yang bisa diketahui yakni visual, auditori, dan kinestetik. Maka masing-masing siswa ada menonjol di bidang tahfiz, seni, olahraga, sains, teknologi informasi komunikasi, dan Bahasa inggris,” tutur dia.

Sayekti berharap dengan dilaksanakannya AD tersebut, bisa benar-benar memotret profil siswa di Program Sekolah Penggerak. Yang mana berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik. Hal tersebut perlu diawali dengan SDM yang unggul baik kepala sekolah, guru dan warga sekolah. (K. Setia Widodo)

Read Next