logo

Kampus

Fapet UGM Dorong Ekonomi Sirkular Melalui Pengelolaan Sampah

Fapet UGM Dorong Ekonomi Sirkular Melalui Pengelolaan Sampah
Peserta pelatihan Pengolahan Sampah CircuLife – SLI 2025 Batch 3 tekun menyimak materi yang disampaikan narasumber, Kampus Fapet UGM, Rabu (7/1/2026). Pelatihan yang diinisiasi Fapet UGM bertujuan untuk mendorong penerapan ekonomi sirkular berbasis komunitas di wilayah Yogyakarta dengan cara mengubah paradigma pengelolaan sampah dari sekadar pembuangan menjadi penciptaan nilai tambah ekonomi. (EDUWARA/Dok. UGM)
Setyono, Kampus08 Januari, 2026 23:22 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) memperkuat komitmennya dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan bertajuk ‘Pengolahan Sampah CircuLife – SLI 2025 Batch 3’.

Kegiatan yang berlangsung di Engineering Lecture Room 2, Gedung ASLC Fapet UGM pada Rabu (7/1/2026) ini bertujuan untuk mendorong penerapan ekonomi sirkular berbasis komunitas di wilayah Yogyakarta.

Acara ini merupakan kolaborasi antara akademisi, praktisi lingkungan, tokoh masyarakat, serta aparat desa. Fokus utamanya adalah mengubah paradigma pengelolaan sampah dari sekadar pembuangan menjadi penciptaan nilai tambah ekonomi.

Koordinator acara sekaligus tenaga pendidik Fapet UGM, Rima Amalia Eka Widya, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memberikan edukasi komprehensif mengenai tata kelola sampah di tingkat lingkungan.

“Fapet UGM berharap dapat meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah secara berkelanjutan. Kami ingin memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan lingkungan dan ekonomi sirkular berbasis komunitas,” ujar Rima, yang juga menjabat sebagai Pengelola Administrasi Kerja Sama Luar Negeri Fapet UGM.

Dalam sesi praktik, peserta dibekali keterampilan mengolah sampah organik menjadi kompos, penggunaan metode eco-enzyme, hingga budidaya maggot. Rima menekankan bahwa Fapet UGM memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan limbah peternakan dengan limbah organik rumah tangga.

“Limbah pakan dan kotoran ternak bisa diolah menggunakan teknologi mikrobia dari laboratorium kami menjadi pupuk bernilai. Kami juga meriset pemanfaatan maggot sebagai sumber protein tambahan pakan ternak,” tambahnya.

Potensi Bisnis

Selain sampah organik, pelatihan ini menggandeng praktisi dari Jogja Life Cycle untuk mengedukasi peserta mengenai daur ulang plastik dan pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi.

Pendiri Jogja Life Cycle, Ilham Zulfa Pradipta, memaparkan fakta krusial bahwa pada tahun 2024, Indonesia tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kelima di dunia. Ia menekankan pentingnya konsep upcycling, sebuah pendekatan yang mampu meningkatkan nilai dan kualitas produk dari sampah plastik.

“Sampah plastik sulit terurai dan berbahaya bagi kesehatan. Solusinya adalah pengelolaan melalui recycling, downcycling, dan terutama upcycling,” kata Ilham. 

Sejak 2021, Jogja Life Cycle telah mengembangkan ekosistem ekonomi sirkular melalui kerja sama dengan belasan bank sampah dan sekolah di Yogyakarta.

Edukasi ini disambut positif oleh peserta, salah satunya Adnan Januar, warga Dusun Murangan, Sleman. Ia mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai potensi bisnis dari pemilahan sampah yang tepat.

“Selama ini pemilahan kami kurang efektif. Di sini kami baru tahu bahwa plastik yang dipilah berdasarkan warna dan jenisnya memiliki harga jual berbeda. Ilmu ini sangat bermanfaat untuk ditularkan kepada warga desa,” ungkap Adnan.

Melalui inisiatif ini, Fakultas Peternakan UGM berharap dapat menciptakan model pengelolaan sampah mandiri yang tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan Yogyakarta, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi masyarakat.

Read Next