logo

Sains

Ini Konsep Rumah untuk Permukiman Kembali Pasca Erupsi Gunung Semeru

Ini Konsep Rumah untuk Permukiman Kembali Pasca Erupsi Gunung Semeru
Pemaparan simulasi rancangan dari rumah ramah bencana alam, gagasan tim peneliti ITS (ITS)
Bunga NurSY, Sains28 Desember, 2021 05:54 WIB

Eduwara.com, SURABAYA—Tim peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi, Kebencanaan, dan Perubahan Iklim (MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengusulkan rancangan hunian berkonsep hibrida (hybrid) bagi permukiman kembali pascaerupsi Gunung Semeru.

Hal itu sempat dibahas dalam sebuah diskusi yang diadakan secara daring, baru-baru ini. 

Kepala Pusat Penelitian MKPI ITS Adjie Pamungkas mengatakan bahwa diskusi tersebut bertujuan untuk memberikan solusi dalam upaya permukiman kembali (resettlement) pascabencana erupsi Gunung Semeru.

Dalam diskusi tersebut, diusulkan sebuah konsep hybrid hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap). Hal ini dilakukan supaya menghindari potensi konflik akibat penundaan yang kerap terjadi pada saat pembangunan.

Dia menambahkan, hybrid yang dimaksud adalah rumah itu bisa menjadi hunian sementara, kemudian dapat dikembangkan oleh masyarakat menjadi hunian tetap.  “Rumah tersebut dapat direduksi seperti ruang studio maupun ditambah menjadi rumah yang lebih luas,” tambahnya seperti dikutip dari situs resmi ITS, Selasa (28/12/2021).

Selain itu, konsep modular tahan gempa dan abu vulkanik juga bisa diterapkan untuk fasilitas umum, seperti kantor desa, sekolah, puskesmas, dan lain sebagainya.

Wahyu juga berharap bahwa pembangunan permukiman ini bisa ditambah dengan penanaman hutan bambu di sekitar kaki Gunung Semeru. “Penanaman bambu ini dapat menjadi alarm bagi warga desa karena bambu akan mengeluarkan suara keras ketika terkena awan panas,” ungkapnya.

Adapun, Peneliti dari Departemen Arsitektur ITS Johanes Krisdianto  memaparkan konsep dari rumah tahan gempa dan abu vulkanik. Rumah tersebut dibentuk dengan atap yang mampu menahan curahan abu vulkanik gunung berapi. 

Selain itu, rumah tersebut harus berbahan material sederhana, kokoh, dan mudah dicari di daerah Semeru. “Hal ini dilakukan untuk mempermudah masyarakat desa dalam mengembangkan rumah mereka secara mandiri tanpa keahlian khusus,” jelasnya.

Peneliti dari Departemen Teknik Sipil ITS Bambang Piscesa menegaskan rumah yang dikonsep oleh tim ITS ini dapat dibangun dengan cepat dan dapat dipindahkan secara mudah.  

Oleh karena itu, Bambang berpendapat bahwa bahan material yang digunakan harus ringan sehingga dapat dipindahkan dengan mudah dan tidak mudah roboh ketika terkena dampak gempa.

“Rumah tersebut sudah memiliki fasilitas sesuai standar rumah inti, yaitu terdapat kamar mandi, kamar tidur, maupun dapur,” bebernya.

Wujud rumah yang ramah terhadap bencana alam yang digagas oleh tim ITS (ITS)

Diharapkan konsep ini dapat segera direalisasikan, sehingga, rumah yang dibangun ke depannya bisa lebih ramah terhadap bencana alam, khususnya di daerah kaki Gunung Semeru. “Kami berharap rumah tersebut bisa lebih resilien dan tidak mudah roboh,” ujarnya.

Sementara itu, peneliti dari Departemen Arsitektur ITS Wahyu Setyawan mengatakan, masyarakat desa harus responsif terhadap bahaya bencana di kaki Gunung Semeru. 

Maka dari itu, dengan implementasi konsep resettlement tersebut, masyarakat desa di kaki Gunung Semeru diharapkan dapat berpartisipasi dalam pemulihan pascabencana. 

“Mulai dari meningkatkan perekonomiannya, hingga meningkatkan pengetahuannya mengenai mitigasi bencana alam,” ujarnya.

 

Read Next