
Bagikan:

Bagikan:
Eduwara.com, JOGJA – Tim mahasiswa lintas fakultas Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan inovasi kotak penyimpanan menyerupai lemari pendingin yang mampu menjaga kesegaran buah dan sayur lebih lama tanpa menggunakan listrik. Inovasi ini menjadi solusi alternatif dalam mendukung keamanan pangan dan ketahanan pascapanen di sektor pertanian Indonesia.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Mukhlis Ibrahim dari Fakultas Pertanian, Tirta Pandu Winata dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), serta Mutia Nurul Makhfirah dari Sekolah Pascasarjana UGM.
“Ide kami berangkat dari persoalan banyaknya penjual yang mengalami kerugian karena buah dan sayur cepat busuk akibat keterbatasan freezer listrik,” ujar Mutia mewakili timnya, Kamis (4/3/2026).
Menurutnya, keterbatasan fasilitas penyimpanan masih menjadi tantangan utama bagi petani maupun pelaku usaha, khususnya di wilayah pedesaan dan desa wisata yang belum sepenuhnya memahami penanganan pascapanen produk hortikultura agar tetap segar hingga ke pasar.
Inovasi yang diberi nama SAFE-BOX ini dirancang menggunakan material bio-adsorben alami yang mampu menyerap logam berat sekaligus mengurangi residu pestisida pada produk pertanian. Teknologi pendingin ramah lingkungan yang diterapkan juga memungkinkan proses penyimpanan berlangsung tanpa kebutuhan energi listrik.
Hortikultura
Berkat inovasi tersebut, tim mahasiswa UGM berhasil meraih Silver Medal pada kategori inovasi pertanian berkelanjutan dalam ajang 2nd International Student Summit yang berlangsung pada 14–15 Februari 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam kompetisi Essay and Innovation Competition, mereka mengusung karya ilmiah berjudul SAFE-BOX (Sustainable Agro-Food Enhancement).
Mutia menjelaskan, teknologi ini dikembangkan untuk meningkatkan kualitas serta keamanan produk hortikultura melalui sistem penyimpanan berkelanjutan yang sekaligus menekan dampak lingkungan akibat penggunaan pestisida dan paparan logam berat.
“Keunggulan inovasi ini terletak pada pendekatannya yang sederhana, aplikatif, dan berpotensi diterapkan di berbagai wilayah pertanian, khususnya pada skala desa,” katanya.
Selain memperpanjang masa simpan, Safe-Box juga mampu memperlambat proses pematangan buah dan sayur sehingga produk tetap layak jual dalam waktu lebih lama.
Sebagai mahasiswa Program Magister Kajian Pariwisata, Mutia menilai inovasi ini memiliki nilai strategis dalam mendukung pengembangan desa wisata dan agrowisata berkelanjutan. Teknologi penyimpanan tersebut dinilai dapat meningkatkan kualitas produk lokal yang dikonsumsi maupun dipasarkan kepada wisatawan sekaligus memperkuat citra destinasi berbasis keberlanjutan dan keamanan pangan.
Keberhasilan mahasiswa UGM meraih penghargaan di forum internasional ini diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus menghadirkan riset dan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Saya berharap produk ini dapat terus dikembangkan dan diaplikasikan sehingga benar-benar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan petani lokal,” pungkasnya.