logo

Kampus

Mahasiswa UMM Raih Best Speaker PIMAF

Mahasiswa UMM Raih Best Speaker PIMAF
Syi'ar Aprillia Tanazza (kiri) dan Lina Mitsalina Erawati, dua mahasiswa Fisioterapi UMM berhasil meraih Best Speaker Pekan Ilmiah Mahasiswa Fisioterapi. Rabu (20/4/2022) lalu. (EDUWARA/Istimewa)
Fathul Muin, Kampus23 April, 2022 16:13 WIB

Eduwara.com, MALANG — Syi'ar Aprillia Tanazza dan Lina Mitsalina Erawati, dua mahasiswa Fisioterapi UMM berhasil meraih Best Speaker dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Fisioterapi (PIMAF) yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia (IMFI), Rabu (20/4/2022) lalu.

Syi'ar Aprillia selaku perwakilan tim mengatakan paper penelitian yang diikutsertakan pada perlombaan ini berjudul "Analisis Intervensi Fisioterapi Pada Penyakit Parkinson Menggunakan Vosviewer". Paper itu menjelaskan penyakit parkinson disease serta cara pencegahan dan penyembuhannya. 

Parkinson disease adalah penyakit yang menyerang sistem saraf, mengganggu kemampuan tubuh dalam mengendalikan dan mengontrol gerakan.

"Selain itu, parkinson ini memiliki efek nyeri otot dan tremor pada tubuh. Biasanya parkinson menyerang dan diderita mereka yang berumur 50 tahun ke atas," ujarnya, Sabtu (23/4/2022).

Ada tiga terapi untuk parkinson, baik itu untuk mencegah ataupun menyembuhkan, yakni intervensi konvensional yang lebih memaksimalkan kemampuan fisioterapis dan latihan penguatan. Selanjutnya intervensi modern yang mengedepankan teknologi yang dapat memulihkan syaraf, salah satunya inframerah. 

Terakhir yakni intervensi music and dance yang menjadi inovasi pengobatan parkinson di Indonesia. Para pasien diajak menari dengan mengikuti irama musik yang memberikan efek rileks untuk syaraf.

"Intervesi musik dan tari ini bisa diaplikasikan di sini dengan menggunakan tari lokal Indonesia, mengingat intervensi ini baru dilakukan di Argentina dengan tari Tango," ucapnya.

Mahasiswa asli Sumbawa ini menceritakan bahwa selama presentasi, dia dan tim tidak mengalami kegugupan dan sudah melakukan persiapan matang, mulai dari pendalaman materi, penguasaan panggung hingga dan yang paling penting adalah upaya untuk memberikan pemahaman bagi audiens.

Persiapan tersebut tidak sia-sia, bahkan membuahkan hasil dengan predikat best speaker pada ajang PIMAF ini. Namun, bukan berarti keberhasilan tersebut tanpa diiringi dengan halangan. Salah satu yang ditemui adalah kurangnya penelitian terbaru yang mengkaji materi terkait.

Dia berharap intervensi musik dan tari ini bisa dikembangkan dan diaplikasikan di Indonesia. Apalagi mengingat Indonesia memiliki budaya tari yang bermacam-macam sehingga dapat meningkatkan kesembuhan penderita parkinson. Ia juga berharap semangat penelitian dan belajar tetap membara dalam diri semua mahasiswa.

"Jangan pernah takut berkompetisi karena dengan ajang itulah kita bisa mengukur kemampuan diri serta mengetahui luasnya dunia. Kemudian kita bisa meningkatkan dan memperbaiki diri sehingga mampu berprestasi," ujarnya.

Read Next