logo

Kampus

Puan: Identitas Pemuda Indonesia Jangan Disorientasi Teknologi

Puan: Identitas Pemuda Indonesia Jangan Disorientasi Teknologi
Ketua DPR RI Puan Maharani, di UNY, Kamis (11/11), meminta generasi muda jangan mengalami disorientasi di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan kepribadian generasi muda yang kuat, maka budaya asing dapat disaring dan dilarutkan dalam kebudayaan nasional ((Humas UNY))
Setyono, Kampus12 November, 2021 15:15 WIB

Eduwara.com, JOGJA -- Ketua DPR RI Puan Maharani meminta generasi muda jangan sampai mengalami disorientasi di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan kepribadian generasi muda yang kuat, maka budaya asing dapat disaring dan dilarutkan dalam kebudayaan nasional.

Hal ini disampaikan Puan saat memberikan kuliah umum civitas akademika di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (11/11).

Mengambil tema 'Internalisasi Wawasan Kebangsaan Menuju Indonesia Tumbuh, Indonesia Tangguh', Puan mengatakan keberadaan generasi muda sangat penting bagi Indonesia di masa depan.

"Merekalah yang di masa mendatang akan mengubah Indonesia. Sebuah negara tidak akan maju ketika generasi mudanya meninggalkan nilai kebangsaaannya, jati dirinya," jelasnya.

Puan sangat berharap, generasi muda jangan pernah menganggap nilai-nilai kebangsaan Indonesia terus bertahan ketika hanya berdiam diri.  Apalagi sekarang kemajuan teknologi telah membawa masyarakat dan bangsa di dunia terhubung secara sosial ekonomi, budaya dan politik.

"Kemajuan teknologi dan komunikasi apabila tidak diantisipasi akan menciptakan kondisi dimana generasi muda mengalami disorientasi dalam cara pandang terhadap kehidupannya sebagai warga negara," tegasnya.

Karenanya ini sudah menjadi pekerjaan rumah bagi semua agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya bangsa baik dalam etika maupun moral.

Jika ini yang terjadi, maka bangsa Indonesia ke depan akan menjadi komunitas bangsa yang tenggelam dalam pusaran gejolak disrupsi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

"Dengan kepribadian bangsa yang kuat maka budaya asing dapat disaring dan dilarutkan dalam kebudayaan nasional," paparnya.

Di hadapan 3000 mahasiswa baru UNY jenjang D4 hingga S3, secara luring maupun daring, Puan berpesan di era disrupsi yang melanda dunia, hendaknya dipandang sebagai peluang. Sehingga yang perlu dibangun adalah sistem imunitas bangsa melalui pemberian serum ideologi pada generasi muda dengan penanaman nilai-nilai Pancasila sejak dini sebagai pandangan hidup bangsa.

"Kita tidak ingin ideologi seperti transnasional, individualisme, liberalisme, radikalisme dan ekstrimisme agama berkembang dengan membonceng perkembangan teknologi informasi," ucapnya.

Bagi Puan, Indonesia dapat mencontoh apa yang dilakukan Korea dalam membranding budaya dan nilai-nilai bangsa. Dimana mereka menonjolkan identitas Korea mulai dari makanan hingga kosmetik, termasuk promosi produk lokal melalui pemberian souvenir bagi tamu yang berkunjung.

"Peran perguruan tinggi, termasuk UNY sangatlah penting dalam mengaktifkan nilai-nilai kebangsaan Indonesia sehingga tidak terpisahkan dari sistem pendidikan. Peran perguruan tinggi juga penting bagi lahirnya pahlawan dalam bidang riset dan inovasi," paparnya.

Rektor UNY Sumaryanto mengapresiasi kesediaan Ketua DPR RI mengisi kuliah umum bagi mahasiswa baru UNY. Ia melihat bahwa berkepribadian dalam budaya Indonesia bukan berarti anti dengan budaya asing.

"Dari apa yang dipaparkan, kami meminta seluruh mahasiswa bisa mempertahankan dan meningkatkan semangat kebangsaan, cinta kebhinekaan dan menjaga ketangguhan NKRI," ujarnya.

Read Next