logo

Gagasan

Sejuta Sarjana Belum Dapat Pekerjaan Sesuai Jurusan dan Kompetensi

19 Agustus, 2026 21:45 WIB
Sejuta Sarjana Belum Dapat Pekerjaan Sesuai Jurusan dan Kompetensi
Para pencari kerja tengah mencari informasi terkait lowongan kerja dengan berbagai perusahaan yang mengikuti Job Fair yang diselenggarakan Pemerintah Kota Yogyakarta pada tahun 2025. (https://warta.jogjakota.go.id/)

Eduwara.com, JOGJA - Para akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyoroti fenomena sejuta sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan sesuai dengan jurusan serta kompetensinya. Pada sisi lain, perkembangan dunia menuntut calon tenaga kerja untuk tidak hanya mengandalkan latar belakang pendidikan, tetapi juga memperkuat keterampilan dan pengalaman kerja.

Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Mei 2026 mencatat terdapat sekitar 14,31 persen atau 1.033.132 orang dengan latar belakang lulusan D-4, S-1, S-2, dan S-3 masih belum mendapat pekerjaan.

Kondisi ini terjadi ketika dunia kerja juga terus berubah, ditandai dengan perkembangan teknologi, tuntutan keterampilan baru, serta efisiensi di sejumlah sektor industri. Polemik inilah menjadi suatu hal yang perlu disorot dalam memahami meningkatnya pengangguran terdidik.

Guru Besar Fisipol UGM sekaligus pengamat ketenagakerjaan, Tadjuddin Noer Effendi, menilai meningkatnya jumlah pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi tidak hanya disebabkan terbatasnya lapangan pekerjaan.

“Persoalan ketidaksesuaian atau mismatch antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja turut menjadi penyebab sulitnya sarjana memasuki pasar kerja. Dunia pendidikan selama ini cenderung memberikan bekal teori, sementara dunia kerja membutuhkan tenaga yang memiliki keterampilan praktis,” kata Tadjuddin, dikutip Rabu (19/8/2026).

Kondisi tersebut semakin menjadi tantangan ketika dunia industri berkembang dengan pemanfaatan teknologi, termasuk munculnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, serta robotika. Ia menilai, perkembangan tersebut membuat kebutuhan industri terhadap tenaga kerja tidak lagi hanya didasarkan pada latar belakang pendidikan, tetapi juga pada kemampuan dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi.

“Ijazah yang dimiliki belum cukup menjadi dasar bagi perusahaan untuk menerima lulusan apabila tidak disertai keterampilan. Jadi kalau sarjana hanya bawa ijazah mencari kerja itu kelihatannya sekarang sulit,” tuturnya.

Sebagai upaya mengurangi pengangguran, Tadjuddin mendorong pemerintah memperluas pusat pelatihan kerja modern yang berorientasi pada kebutuhan industri. Kehadiran pusat pelatihan dinilai dapat menjadi jalan lebih cepat untuk meningkatkan keterampilan lulusan khususnya pada sarjana yang belum terserap pasar kerja.

Modalitas

Wakil Ketua Umum IV PP KAGAMA, Anwar Sanusi, sekaligus Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) Kemnaker, menyatakan terdapat setidaknya tiga faktor utama yang mendorong perubahan dunia kerja saat ini, yakni disrupsi AI dan digitalisasi, transisi energi hijau dan keberlanjutan, serta perubahan demografi dan pergeseran care economy.

“Adanya pekerjaan-pekerjaan baru tersebut membutuhkan sebuah modalitas, yaitu reskilling dan upskilling,” jelasnya.

Reskilling merupakan proses mengubah orientasi keterampilan dari keterampilan sebelumnya menuju keterampilan baru, sedangkan upskilling merupakan upaya meningkatkan keterampilan yang telah dimiliki. Perubahan tersebut juga terlihat dari munculnya berbagai profesi yang sebelumnya belum dikenal. Ia mencontohkan pekerjaan seperti social media manager, datascientist, dan AI engineer yang berkembang seiring perubahan teknologi.

Rektor UMY, Achmad Nurmandi, mengatakan menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan perubahan kebutuhan dunia kerja. Universitas mendorong dosen untuk terus meningkatkan kompetensi atau upskilling agar pembelajaran yang diberikan tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan mahasiswa.

“Perubahan tidak hanya terjadi pada teknologi, tetapi juga pada karakter mahasiswa dan kebutuhan pasar kerja. Karena itu, dosen perlu memahami perkembangan tersebut agar metode pembelajaran, kompetensi yang diberikan, hingga kurikulum dapat terus disesuaikan,” paparnya.

Kebutuhan untuk memperkuat kompetensi lulusan juga terlihat dari hasil survei alumni UMY dalam beberapa tahun terakhir. Nurmandi menyebutkan berdasarkan survei yang ada, tren alumni yang belum bekerja berada pada kisaran 20 persen.

Kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bagi perguruan tinggi, terutama dalam memastikan kompetensi yang diberikan selama perkuliahan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Perubahan kebutuhan tersebut mendorong UMY untuk terus mengevaluasi kurikulum dan pengembangan program studi. Nurmandi menegaskan bahwa kurikulum tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang permanen, tetapi perlu diperbarui mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dunia kerja termasuk perkembangan AI yang mulai mengubah berbagai jenis pekerjaan.

Read Next