logo

Kampus

UGM Ingin Perubahan Prodi Disesuaikan Kebutuhan Terbaru

UGM Ingin Perubahan Prodi Disesuaikan Kebutuhan Terbaru
Rektor UGM, Ova Emilia, dalam gelaran Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun 2026 di Grha Sabha Pramana, Rabu (20/5/2026). (EDUWARA/Dok. UGM)
Setyono, Kampus21 Mei, 2026 04:28 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Menyikapi wacana penghapusan program studi (Prodi) yang dinilai kurang relevan, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Ova Emilia, meminta dilakukan kajian mendalam. Hal ini bertujuan agar kehadiran prodi mampu menyesuaikan dengan kebutuhan terbaru.

Penegasan ini disampaikan Ova saat memberikan sambutan dalam gelaran Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun 2026 di Grha Sabha Pramana, Rabu (20/5/2026).

“Kehadiran prodi sebetulnya menyesuaikan dengan kebutuhan, baik dari kebutuhan industri, kehidupan berrmasyarakat, keberlanjutan dan pengembangan keilmuan itu sendiri,” jelasnya.

Menurut Ova, UGM dengan 28 bidang ilmu yang masuk dalam QS WUR by Subject, terdapat tiga bidang ilmu dari Sosial Humaniora yang masuk dalam top 100 besar dunia. Ketiga prodi tersebut adalah Theology yang masuk dalam 45 besar dunia sebagai posisi yang sangat strategis, serta bidang ilmu Anthropology dan Development Studies berhasil menempati kelompok 100 besar dunia.

“Penguatan pada bidang-bidang tersebut mencerminkan kualitas keilmuan UGM yang semakin diakui secara global dan menunjukkan bahwa pengembangan akademik dilakukan secara terarah dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ova menjelaskan pengembangan akademik di UGM dilakukan secara komprehensif, termasuk melalui penguatan bidang ilmu Sosial Humaniora yang memperoleh pengakuan dunia.

“Pendidikan berperan sebagai ruang pembebasan yang menghadirkan keadilan dan kemajuan bagi masyarakat, karena kebutuhan manusia tidak selalu diukur dari kebutuhan industri semata, melainkan juga kebutuhan kehidupan itu sendiri,” ungkapnya.

Menurut Ova, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif di tengah perubahan global. Perkembangan teknologi dan dinamika sosial menuntut kolaborasi lintas sektor sekaligus penguatan karakter mahasiswa.

Tidak Wajib

Sedangkan Dekan Fakultas Teknik (FT) UGM, Selo, mengatakan masih menunggu aturan resmi tentang perubahan nama fakultasnya menjadi Fakultas Rekayasa. Namun, bila nantinya kebijakan penyesuaian nomenklatur tersebut tidak bersifat mengikat, pihaknya memilih untuk mempertahankan istilah yang digunakan saat ini.

“Karena dalam edaran tersebut sifatnya tidak wajib, FT akan saya dorong untuk tetap seperti sekarang, dan belum akan mengubah nomenklatur,” ujarnya.

Selo mengatakan sifat kebijakan yang berupa pilihan membuat FT UGM merasa belum perlu membawa persoalan ini ke tingkat pembahasan yang lebih jauh. Ia menilai, proses perubahan nama memerlukan kajian mendalam serta mekanisme internal yang panjang, termasuk pemaparan dan keterlibatan Senat Fakultas.

“Karena sifatnya opsional, kami melihat FT belum perlu untuk melakukan pembahasan lebih jauh. Ada proses yang harus dipelajari dan dijalankan, termasuk keterlibatan Senat Fakultas. Pendek kata, kami menginterpretasikan kata ‘boleh’ sebagai sesuatu hal yang tidak urgen bagi FT dan belum penting untuk segera dilaksanakan,” tegasnya.

Dibandingkan melakukan perubahan secara administratif pada penamaan program studi, FT UGM saat ini memilih untuk mengalihkan fokus pada capaian kerja substantif. Selo memaparkan terdapat dua prioritas utama yang sedang dikejar institusinya, yaitu peningkatan mutu sumber daya manusia dan hilirisasi riset.

“FT lebih fokus pada bagaimana dapat berkontribusi pada dua hal utama, yaitu menyiapkan SDM unggul dan menghasilkan penelitian yang manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat. FT akan terus fokus pada dampak nyata perguruan tinggi, khususnya di bidang engineering pada masyarakat,” ujarnya.

Rabu (20/5/2026), UGM mewisuda sebanyak 1.762 mahasiswa yang terdiri dari 1.644 lulusan program sarjana dan 118 lulusan sarjana terapan, termasuk lima lulusan warga negara asing.

Read Next