logo

Kampus

UIN Sunan Kalijaga Tuan Rumah Simposium Keagamaan dan Kebudayaan Internasional ke-4

UIN Sunan Kalijaga Tuan Rumah Simposium Keagamaan dan Kebudayaan Internasional ke-4
Pembukaan Simposium Keagamaan dan Kebudayaan Internasional Keempat (The 4th Islage International Symposium of Religious Literature Heritage) yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, mulai Rabu (2/8/2023) sampai Jumat (4/8/2023). (EDUWARA/Dok. UIN Sunan Kalijaga)
Setyono, Kampus02 Agustus, 2023 23:58 WIB

Eduwara.com, JOGJA - Para akademisi dari berbagai universitas di dalam dan luar negeri akan berbicara mengenai hasil riset keberagaman agama dan budaya dewasa ini. Mereka hadir dalam Simposium Keagamaan dan Kebudayaan Internasional Keempat (The 4th Islage International Symposium of Religious Literature Heritage) yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, mulai Rabu (2/8/2023) sampai Jumat (4/8/2023).

Rektor UIN Sunan Kalijaga Al Makin menyampaikan kehadiran agenda internasional ini dapat menjaga persahabatan UIN Sunan Kalijaga dengan berbagai pihak, seperti Kementerian Agama, BRIN, dan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

"Kami ingin dapat bersama-sama mengembangkan keilmuan yang berpijak pada moderasi beragama dalam bingkai kemajemukan yang harmonis di Indonesia," jelas Al Makin.

Menyandur tembang MijilSerat Centhini, Makin mengatakan tembang ini melambangkan perbedaan cara pandang terhadap kebudayaan maupun hal-hal lain. Namun tetap akan bermuara pada satu titik, yakni keharmonisan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. 

"Setiap individu dapat sesuka hati mencari jalan, ada yang ke arah timur, barat, selatan dan utara. Tapi semuanya akan bermuara di lautan yang sama, yaitu keilmuan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat," ucapnya.

Memanusiakan Manusia

Wakil Menteri Agama, Saiful Rahmat Dasuki, menyampaikan harapan agar forum ini dapat memberi dampak baik bagi negara serta membangun citra positif bahwa Indonesia adalah negara yang moderat. 

"Tantangan terbesar yang dihadapi dalam realita kehidupan manusia kita saat ini adalah bagaimana menghadirkan semangat toleransi seperti yang digelorakan Gur Dur," katanya.

Dengan semangat toleransi, lanjut Saiful, Indonesia yang dikarunia dengan beragam suku, ras dan budaya yang melahirkan Pancasila, akan dapat terjaga.  

"Untuk menjaga itu semua, hasil kajian GP Ansor, penting bagi Indonesia untuk diwaspadai tiga hal, yaitu ideologi transnasional, kajian tunggal kebenaran, dan ekslusifisme jejaring (anggota)," tegasnya.

Kepala Badan Litbang Agama Kementerian Agama, Amin Suyitno, menyampaikan tema Symposium 'Religious Heritage on Tolerance Non-Violance, and Accommodated Traditions' sangat erat kaitannya dengan moderasi beragama. Karena, saat ini Indonesia sedang menghadapi trend intoleransi yang terus naik secara signifikan, utamanya di dunia pendidikan terutama di tingkat kampus. 

"Moderasi beragama mengusung sisi universalisme manusia. Maka sudah seharusnya untuk memanusiakan manusia yang merupakan substansi moderasi beragama dan agama. Kampus harus dapat membantu menyukseskan terbentuknya Rumah Moderasi," ungkapnya.

Dalam simposium ini, selain Al Makin dan Amin Suyitno, para pembicara kunci yang hadir sebanyak 100 peneliti keberagaman dan kebudayaan.

Read Next