Cak Imin: Setelah Dipaksakan, Manfaat Dana Pendidikan Abadi Bisa Dirasakan

28 September, 2022 21:33 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

28092022-UGM Bedah Buku Cak Imin.jpg
Di UGM, Rabu (28/9/2022), Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar menegaskan jika mau didetailkan dana abadi pendidikan 20 persen APBN bisa dimaksimalkan untuk membiayai pendidikan wajib 18 tahun dan mengirim 100 ribu mahasiswa ke luar negeri. (EDUWARA/K. Setyono)

Eduwara.com, JOGJA – Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar menyatakan 25 tahun keberadaan anggaran abadi pendidikan yang diambilkan dari 20 persen APBN baru dirasakan manfaatnya sekarang. Meski banyak ditemui kendala, namun jika dimaksimalkan, anggaran ini cukup untuk membiayai pendidikan wajib 18 tahun.

"Saya masih ingat saat dulu mengubah UUD 45 di mana kita memaksakan ada anggaran abadi buat pendidikan sebesar 20 persen. Banyak ahli keuangan yang apatis karena takut mengganggu keuangan negara karena dipaksakan," kata Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin Iskandar, di UGM Yogyakarta, Rabu (28/9/2022).

Cak Imin hadir di UGM sebagai pembicara utama Fisipol Leadership Forum Seri #2: Road to 2024 yang bertajuk 'Membedah Pemikiran Muhaimin Iskandar dalam Buku Visioning Indonesia' di Auditorium Fisipol UGM.

Meski dinilai masih belum masih belum matching dengan praktiknya, keberadaan anggaran 20 persen bagi pendidikan sekarang ini baru dirasakan manfaatnya. Kualitas pendidikan semakin terdongkrak dan memberikan peningkatan mutu pendidikan nasional pada semua tingkatan.

Tapi Cak Imin menyatakan jika dilihat lebih detail lagi, sebenarnya penggunaan anggaran abadi pendidikan ini masih bisa diperuntukan untuk berbagai program baru. Sebab, saat ini penggunaan anggaran tersebut masih sangat rendah. Cak Imin menyebut setiap tahun peserta didik di negeri ini hanya menerima kurang dari Rp 2 juta setiap tahun. Dan itu harus terus didorong untuk ditingkatkan.

Dirinya mencontohkan, masih ada peluang menerapkan pendidikan wajib 18 tahun melalui anggaran ini sehingga setiap anak bisa mendapatkan pendidikan sampai sarjana.

Tidak hanya itu, lewat anggaran ini pemerintah juga bisa mengirimkan hampir 100 ribu pemuda untuk kuliah berbagai kampus besar di negara maju. Saat ini, setiap tahun pemerintah hanya mampu mengirimkan 3-4 ribu pemuda.

"Ini contoh bagaimana memilih peran negara agar aktif untuk satu sektor. Keberadaan dana abadi pendidikan ini wujud dan komitmen pemerintah memajukan sektor pendidikan," jelasnya.

Dalam buku berjudul 'Visioning Indonesia: Arah Kebijakan dan Peta Jalan Kesejahteraan', Cak Imin menulis bahwa perlunya mewujudkan pendidikan gratis hingga pendidikan tinggi. Maka, tidak ada lagi rakyat Indonesia yang buta huruf.

"Pendidikan adalah dasar utama pertumbuhan mental dan intelektual manusia. Dengan kebijakan itu, orang miskin sekalipun akan memiliki keahlian dan keterampilan sebagai modal kerja, baik melalui jalur negeri maupun mandiri," paparnya.