Guru SD Lulus Kuliah dengan IPK 4

27 November, 2021 20:56 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Ida Gautama

UNY - Dita Ardwiyanti.jpg
Dita Ardwiyanti bersama kedua orangtuanya ((EDUWARA/Humas UNY))

Dita Ardwiyanti kembali mengulang prestasi terbaik. Pada wisuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode November yang dihelat pada Sabtu (27/11/2021), mahasiswa Prodi Magister Pendidikan Sains UNY tersebut berhasil membukukan IPK 4.00.

Gadis kelahiran Pontianak, 30 Desember 1995 ini merupakan awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pada upacara wisuda tersebut, Dita juga menjadi wisudawan terbaik dari Prodi Magister Pendidikan Sains UNY.

Bukan sekali ini Dita meraih prestasi terbaik. Saat menempuh S1 pada Prodi Pendidikan IPA FMIPA UNY Tahun 2013-2017, Dita juga pernah menerima beasiswa Bidikmisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Saat itu, ia pernah membukukan indeks prestasi sempurna 4,00. 

Meski mampu mengulang prestasi terbaik, Dita mengaku proses belajar di jenjang magister jauh berbeda dengan jenjang sarjana. Menurut warga Gedongsari, Wijirejo, Pandak, Bantul ini, untuk meraih gelar magister harus memiliki bekal yang cukup yaitu kemauan untuk terus belajar. 

“Setiap orang bisa dengan mudah melanjutkan studi ke jenjang magister, tapi tidak semuanya mampu menghayati ‘semangat belajar sepanjang hayat’,” kata Dita,  seperti dikutip dalam siaran pers, Sabtu (27/11/2021).

Kemampuan untuk meramu pengetahuan dari berbagai sumber ilmu secara mandiri, diyakini Dita, mutlak diperlukan di jenjang magister. 

“Saat sarjana, dosen masih memberikan ‘rel’ bagi kami untuk mengembangkan diri. Namun pada jenjang magister, kami benar-benar dituntut untuk menjadi pemikir bebas yang independen, namun bertanggung jawab,” kata Dita. 

Inilah yang membuat Dita, mulai dari semester 1, mendisiplinkan dirinya sendiri. Setiap hari, ia mewajibkan dirinya untuk membaca berbagai hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal nasional dan internasional. Berbagai artikel yang telah selesai dibaca, kemudian ia ringkas dengan bahasa sendiri dan dituliskan dalam buku khusus. 

Strategi belajar ini ternyata sangat membantu Dita dalam perkuliahan, khususnya dalam meniti jalan untuk publikasi melalui jurnal dan seminar. Seperti diketahui, publikasi ilmiah adalah tuntutan primer mahasiswa Program Magister. 

Dengan taktik tersebut, Dita berhasil menerbitkan artikelnya pada dua seminar nasional, tiga seminar internasional, dan satu jurnal nasional terakreditasi Sinta 2.

Musuh Terbesar

Toh demikian, Dita mengaku perkuliahan yang dilakoninya tak selamanya berjalan mulus tanpa kendala. Ia harus berhadapan dan menaklukkan “musuh terbesar” yaitu, dirinya sendiri.

“Ini sudah saya buktikan selama kuliah, khususnya selama penyelesaian tugas akhir. Saya adalah pribadi perfeksionis dalam hal apapun. Ternyata kepribadian tersebut membuat saya takut melangkah, takut salah, dan takut tidak sesuai ekspektasi,” ujarnya. 

Beruntung, putri pertama pasangan Sarjiyono yang berprofesi sebagai tukang las dan Arfina seorang ibu rumah tangga ini mampu mengatasi hal tersebut dengan baik. Ia memutuskan membatasi diri membuat proyeksi masa depan. 

“Bukan berarti saya tidak visioner, tapi proyeksi masa depan yang berlebihan, menurut saya, hanya akan mengurangi kekhidmatan kita menjalani hidup,” paparnya. 

Sekarang Dita masih tercatat sebagai pendidik di SDIT Salsabila 4 Bantul. Saat memutuskan melanjutkan studi ke jenjang Magister, Dita mengaku, banyak yang bertanya kepada dirinya, untuk apa sekolah lagi? Bukankah gelar S.Pd sudah cukup untuk berkarya sebagai guru SD?

Bagi Dita, gelar bukanlah tujuan akhir baginya. Ia ingin terus mengaktualisasi diri dengan cara menambah wawasan baru. Di sisi lain, sebagai seorang guru, Dita berkeinginan untuk mencambuk dirinya agar menjadi teladan bagi siswa-siswanya, terutama dalam hal belajar.

“Mimpi saya adalah menjadi dosen inspiratif. Saya akan terus berjuang untuk merealisasikan mimpi tersebut dengan cara dan waktu terbaik,” pungkasnya.