Kupas Crossgender dalam Lengger Lanang, Mahasiswa UNS Raih Juara 1 Lomba Esai Tingkat Nasional

07 Januari, 2023 00:32 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Ida Gautama

06012023-UNS Esai Croosgender dalam Lengger Lanang.jpg
Mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS, Akhyar Royan Fadhil. (EDUWARA/Dok. Humas UNS)

Eduwara.com, SOLO – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Akhyar Royan Fadhil meraih juara 1 lomba esai tingkat nasional. 

Prestasi mahasiswa semester akhir tersebut diraih setelah mengikuti kompetisi bertajuk Sunan Kalijaga Festival Historia (Sukafestoria) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam (HMPS SKI) UIN Sunan Kalijaga Jogja.

Dalam kompetisi esai tersebut, Akhyar berhasil menyisihkan 25 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dia membuat esai tentang fenomena crossgender yang banyak mengisi dunia hiburan masa kini.

Menurut dia, hiburan yang tersedia pada masa kini sudah sangat beragam. Fenomena crossgender menjadi salah satu fenomena yang ikut mengisi konten-konten hiburan di jagat maya.

Mereka adalah para konten kreator yang merepresentasikan keperempuanan dalam tubuh seorang lelaki. Menyikapi fenomena tersebut, Akhyar mencoba meninjau dari fenomena yang sama dari sisi historis, yaitu kesenian lengger lanang dari Kabupaten Banyumas.

"Lengger lanang merupakan salah satu hiburan masyarakat Banyumasan yang memuat unsur persilangan gender antara feminin dan maskulin,” jelas Akhyar seperti dilansir Eduwara.com, Jumat (6/1/2023), dari laman UNS Solo.

Kesenian tersebut, sambung dia, sudah ada sejak zaman dahulu dan keberadaannya masih eksis hingga saat ini. Lengger lanang mempertontonkan penari laki-laki yang berdandan menyerupai wanita.

“Saya mencoba menuliskan nilai-nilai yang berubah maupun yang tetap dipertahankan dari fenomena tersebut. Saya percaya bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam setiap peristiwa sejarah dapat diimplementasikan pada kehidupan masa sekarang maupun sebagai pegangan untuk menyikapi fenomena yang muncul di masa sekarang,” imbuhnya.

Saat diumumkan meraih juara pertama pada kompetisi yang berlangsung pada akhir November 2022, Akhyar mengaku tidak menyangka. Sejak awal, dia tidak menargetkan untuk menang sehingga saat diumumkan dia tidak menyangka bisa juara.

"Saya hanya mencoba untuk menuliskan tulisan sebaik-baiknya. Alhamdulillah, mendapatkan juara dan saya sangat bersyukur untuk itu. Semoga kita semua bisa belajar dari sejarah karena dengan belajar sejarah diharapkan seseorang bisa lebih bijak lagi dalam menyikapi berbagai fenomena yang terjadi,” pungkas dia. (K. Setia Widodo/*)