Menteri Bappenas Ingin Ada Prodi Manajemen Risiko Infrastruktur Publik di UGM

27 September, 2023 06:07 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

27092023-SekVokasi ugm kunjungan menbappenas.jpg
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Menbappenas), Suharso Monoarfa, menyaksikan Pameran Teknologi Hasil Produk Penelitian Sekolah Vokasi UGM. Dalam kunjungan tersebut, Suharso menginginkan UGM melahirkan Prodi Manajemen Risiko Infrastruktur Publik yang nantinya akan menjadi rujukan bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia. (EDUWARA/Dok. UGM)

Eduwara.com, JOGJA – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Menbappenas), Suharso Monoarfa, menginginkan Universitas Gadjah Mada (UGM) melahirkan Program Studi (Prodi) Manajemen Risiko Infrastruktur Publik, yang nantinya akan menjadi rujukan bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Keinginan ini disampaikan Suharso saat mengunjungi Sekolah Vokasi (SV) UGM pada Selasa (26/9/2023).

"Kami akan membangun kerja sama dengan UGM dan kita punya satu kesepakatan khusus terhadap Sekolah Vokasi. Kita menginginkan adanya satu Prodi baru terkait dengan manajemen risiko infrastruktur publik," katanya.

Dengan inisiasi ini, nantinya akan terwujud koneksi antara perguruan tinggi yang lain dengan industri-industri besar kelas dunia yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang vokasi.

Suharso memaparkan pihaknya terus mengikuti perkembangan Sekolah Vokasi UGM yang kemudian menjadi contoh sekolah-sekolah vokasi yang lain di Indonesia. Sekolah Vokasi UGM dinilai mampu mendekatkan penguasaan ilmu pengetahuan secara teoritis yang didapatkan mahasiswa untuk dipertanggungjawabkan melalui praktik kerja di masyarakat.

"Ini penting sekali, seperti yang saya sampaikan. Indonesia kekurangan tenaga-tenaga di tengah meningkatnya pertumbuhan masyarakat kelas menengah," jelasnya.

Keberadaan sekolah vokasi ini dinilainya juga sejalan dengan kondisi kurangnya SDM Indonesia untuk mengembalikan sektor industri manufaktur yang dalam pendapatan domestik bruto (PDB) di bawah 20 persen.

"Kalaupun kita punya tenaga ahli, kalau tidak ada di bawah sendiri kemungkinan juga melip-melip di atas. Mereka itu tidak pernah menyentuh realitas dari industri yang ingin kita gerakkan," sambungnya.

Pengembangan Pendidikan Vokasional

Keberadaan lulusan yang ahli pada satu bidang, menurut Suharso, sangat penting keberadaannya mengingat pada 2045 Indonesia akan menyongsong masa emas, termasuk dalam hal ketahanan pangan dengan memanfaatkan teknologi robotika dalam pengembangan produktivitas pangan, baik dari di bidang hortikultura maupun peternakan.

Pada kunjungan tersebut, Suharso berkesempatan meninjau Gedung Pantja Dharma milik Sekolah Vokasi UGM yang akan dijadikan Pusat Pengembangan Destinasi Wisata dan Edukasi Heritage.

Suharso juga ikut menyaksikan Pameran Teknologi Hasil Produk Penelitian Sekolah Vokasi UGM, yang dilanjutkan diskusi interaktif dengan jajaran pimpinan UGM dan Sekolah vokasi UGM di Gedung TILC SV UGM.

Dekan Sekolah Vokasi UGM Agus Maryono, mengatakan pengembangan pendidikan vokasional yang dilakukan UGM dalam rangka ikut mendukung Indonesia Emas 2045.

"Kita ingin menyokong pendidikan vokasi sebagai pusat pengembangan vokasional di Indonesia," paparnya.

Agus Maryono menyebutkan hingga saat ini SV UGM memiliki 22 Prodi Sarjana Terapan dengan 6.204 mahasiswa dan 342 tenaga pendidik. Sedangkan untuk rata-rata masa tunggu lulusan untuk mendapat pekerjaan sekitar 4 bulan.