Kampus
26 Mei, 2026 05:26 WIB
Penulis:Setyono
Editor:Ida Gautama

Eduwara.com, JOGJA - Kalangan akademisi diajak melakukan riset dan pengembangan jamu tidak hanya dari aspek medis, melainkan juga dari sisi budaya, lingkungan, hingga keberlanjutan bahan baku. Hal ini karena perguruan Tinggi dinilai memiliki kekuatan besar mengembangkan riset jamu karena didukung keberagaman disiplin ilmu dan berbagai pusat studi.
Senin (25/5/2026), dua perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan acara terpisah terkait Peringatan Hari Jamu 2026.
Bersama Dewan Jamu Indonesia DIY, UGM menggelar Gerakan Minum Jamu Serentak. Sedangkan UMY, secara khusus menghadirkan Desa Wisata Jamu Kiringan, salah satu desa binaan, dengan membagikan sedikitnya 1.500 porsi jamu tradisional secara gratis.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Danang Sri Hadmoko, menyampaikan jamu memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan sudah lekat dengan pengalaman keseharian sejak lama.
UGM memiliki kekuatan besar untuk mengembangkan riset jamu karena didukung keberagaman disiplin ilmu dari 18 fakultas, dua sekolah, dan berbagai pusat studi. Menurut Danang, pengembangan jamu tidak dapat dilihat hanya dari aspek medis, melainkan juga dari sisi budaya, lingkungan, hingga keberlanjutan bahan baku.
Jamu bukan sekadar urusan laboratorium atau penelitian medis. Jamu adalah warisan budaya yang hidup di masyarakat. Indonesia punya kekayaan biodiversitas, geodiversitas, dan cultural diversity yang luar biasa. Kombinasi ketiganya menjadi fondasi penting bagi perkembangan budaya jamu di Indonesia.
“Sekarang, tantangan ke depan adalah bagaimana jamu semakin diterima sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat. Karena itu, diperlukan riset yang kuat, standardisasi, sampai advokasi kebijakan agar jamu dapat semakin dipercaya dan dimanfaatkan secara luas,” katanya.
Budaya Minum Jamu
Ketua Dewan Jamu Indonesia DIY, Nyoman Kertia, menyoroti pentingnya jamu sebagai upaya pencegahan penyakit di masyarakat. Ia menyebut berbagai penyakit seperti diabetes, asam urat, hipertensi, hingga kanker sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat, yang salah satunya didukung konsumsi jamu.
“Jangan menunggu sakit dulu baru datang ke rumah sakit. Yang paling penting adalah pencegahan di masyarakat. Jamu memiliki posisi untuk menjaga kebugaran dan membantu mencegah penyakit. Karena itu, budaya minum jamu perlu terus diperkuat,” katanya.
Nyoman juga mengungkapkan Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar, tetapi masih bergantung pada impor bahan baku obat. Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bersama untuk mengembangkan potensi tanaman herbal lokal. Menurutnya, pengembangan jamu akan berdampak pada kesehatan masyarakat sekaligus mendorong ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Gerakan Minum Jamu Serentak menjadi ajakan bersama untuk kembali membiasakan konsumsi jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat sekaligus menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap hidup di tengah masyarakat modern.
Ketua Milad ke-45 UMY, Cahyo Wisnu Rubiyanto, mengatakan kehadiran desa Jamu Kiringan di Family Day didesain tidak sekadar sebagai ajang hiburan internal, melainkan sebagai wadah kolaborasi konkret antara dunia akademik, masyarakat, dan mitra eksternal.
“Tahun ini, kami sengaja melibatkan Desa Wisata Jamu Kiringan untuk mengenalkan potensi lokal mereka sekaligus mengampanyekan gaya hidup sehat lewat 1.500 porsi jamu gratis,” ujarnya.
Cahyo menambahkan, keterlibatan aktif sektor UMKM ini sejalan dengan tema milad UMY pada tahun ini, yakni “Lead the Change, Light the World”. Tema tersebut menjadi simbol kematangan UMY untuk terus memimpin perubahan dan memberikan dampak sosial-ekonomi yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Senada dengan hal tersebut, Rektor UMY, Achmad Nurmandi, menegaskan usia ke-45 menjadi momentum refleksi sekaligus penegasan tanggung jawab sosial UMY sebagai institusi pendidikan tinggi Muhammadiyah.
“UMY saat ini berada dalam tahap penting. Kami berharap UMY dapat terus mewarnai dunia, menghadirkan perdamaian, keramahan, serta kecerdasan di tengah masyarakat. Kontribusi itu harus dirasakan langsung oleh lingkungan sekitar,” tegasnya.
Bagikan