Serangan Siber ke Perguruan Tinggi Meningkat

13 Februari, 2026 05:02 WIB

Penulis:Setyono

Editor:Ida Gautama

13022026-UMY Serangan Siber.jpg
Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pembangunan Manusia BSSN, Agus Prasetyo, menyerahkanan Surat Tanda Registrasi (STR) CSIRT kepada UMY, di Gedung AR Fachruddin UMY, Kamis (12/2/2026). Penyerahan ini menandai peluncuran resmi CSIRT UMY yang telah tersertifikasi oleh BSSN. Dengan langkah ini, UMY menjadi PTMA ketiga di Indonesia yang memiliki tim tanggap insiden resmi. (EDUWARA/Dok. UMY)

Eduwara.com, JOGJA - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memberikan peringatan keras terkait tren peningkatan serangan siber yang menyasar sektor pendidikan tinggi di Indonesia. Fokus utama serangan ini adalah mengincar data sensitif yang dikelola oleh institusi pendidikan.

Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pembangunan Manusia BSSN, Agus Prasetyo, mengungkapkan bahwa intensitas serangan ini sangat mengkhawatirkan. 

"Kebocoran data ini sangat mengganggu. Kami mencatat ada 15 perguruan tinggi yang terdampak hanya dalam waktu satu minggu lalu," kata Agus Prasetyo dalam acara penyerahan Surat Tanda Registrasi (STR) Computer Security Incident Response Team (CSIRT) di Gedung AR Fachruddin, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (12/2/2026).

Menurut Agus, transformasi digital seperti penggunaan platform daring dan Learning Management System (LMS) membuat kampus memiliki aset informasi bernilai tinggi, namun di sisi lain menjadi lebih rentan. Ia menekankan pentingnya pembentukan Computer Security Incident Response Team (CSIRT) sebagai garda terdepan dalam mitigasi dampak dan pemulihan insiden secara terstruktur.

Merespons ancaman tersebut, UMY resmi meluncurkan CSIRT yang telah tersertifikasi oleh BSSN. Dengan langkah ini, UMY menjadi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) ketiga di Indonesia yang memiliki tim tanggap insiden resmi.

Peringatan Dini

Ketua CSIRT UMY, Nur Hayati, menjelaskan bahwa timnya telah bekerja sejak awal Januari 2026 untuk membangun sistem keamanan yang profesional. 

"Kami memiliki visi mewujudkan ketahanan siber yang andal. Selain penanganan insiden, kami juga fokus pada pemberian peringatan dini keamanan siber," jelasnya.

Saat ini, lanjut Nur Hayati, CSIRT UMY mulai aktif melakukan pemantauan internal dan menemukan sejumlah celah keamanan yang kini dalam proses penanganan. Masyarakat kampus pun diajak aktif melapor jika menemukan kerentanan sistem melalui kanal komunikasi resmi seperti email dan WhatsApp.

Penyerahan tanda registrasi dari BSSN ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh perguruan tinggi untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor demi menjaga kedaulatan data di lingkungan akademik.