Wisudawan Terbaik UMM Tegaskan Pentingnya Edukasi Pascapanen untuk Petani

18 Januari, 2022 13:34 WIB

Penulis:Fathul Muin

Editor:Bunga NurSY

IMG-20200302-WA0035.jpg
Wisudawan terbaik program Strata Dua (S2) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Wahid Muhammad Shodiq (UMM)

Eduwara.com, MALANG— Wisudawan terbaik program Strata Dua (S2) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Wahid Muhammad Shodiq mendorong petani agar mulai menggunakan manajemen pascapanen karena nilai tambahnya sangat besar.

Dia menjelaskan, dirinya tumbuh di keluarga petani sehingga terbiasa dengan berbagai sistem pertanian sejak dini. Dia mulai memantapkan karir di bidang pertanian sejak mengetahui tentang perbedaan harga yang cukup tinggi antara harga panen dan harga di pasaran.

Meski keluarganya bermata pencaharian sebagai petani, namun mereka tidak bisa melakukan manajemen pasca panen dengan baik. Hal ini berpengaruh pada hasil jual produk pertanian yang sudah ditanam. Oleh karenanya, selepas sekolah menengah atas (SMA) ia bertekad untuk mendalami bidang agribisnis. "Di lapangan, penjualan produk pertanian harus melalui beberapa tangan sehingga harga melambung tinggi," katanya, Senin (17/1/2022).

Karena itulah, menurut dia, edukasi mengenai manajemen pascapanen sangat penting. Dalam lingkup kecil mungkin saya bisa mengedukasi keluarga saya dulu, lalu pelan-pelan mulai beralih ke lingkup yang lebih besar.

Dengan ilmu yang didapatkannya, Wahid yang asal Bojonegoro, Jatim itu, semakin terpacu untuk mempelajari Agribisnis. Anak tunggal ini bercerita bahwa perolehan wisudawan terbaik tersebut bukan yang pertama kali diraihnya.

Sebelumnya, saat menempuh pendidikan strata satu (S1) di UMM, ia juga menjadi wisudawan terbaik di Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Wahid mengatakan bahwa tesisnya di S2 ini melanjutkan penelitian saat S1 dahulu.

"Kalau di tingkat sarjana, saya membahas tentang perilaku ramah lingkungan secara umum," ucapnya.

Fast Food

Namun di S2 ini dia membahas tentang perilaku ramah lingkungan berfokus pada restoran fast food

Seperti diketahui, penggunaan produk yang tidak ramah lingkungan pada akhirnya akan menyebabkan pencemaran pada tanah subur, namun sampai sekarang tidak ada standar pasti dari pemerintah mengenai kemasan ramah lingkungan. Oleh karena itu, perlu adanya regulasi agar para brand fast food tidak asal klaim.

Menurut dia, pemerintah perlu membuat ukuran baku terkait produk ramah lingkungan. Begitupun dengan brand yang tidak sepatutnya asal klaim, namun benar-benar membuat produk yang pro akan kebaikan lingkungan.

Dia juga mengimbau agar masyarakat turut mengambil peran dalam upaya menciptakan lingkungan yang baik. Perilaku-perilaku seperti buang sampah sembarangan nyatanya bisa mempengaruhi kesuburan tanah di sekitarnya sehingga perlu adanya edukasi luas mengenai hal tersebut.