logo

Sains

Dosen UWMY: Tempe Campur Kertas, Inovasi yang Berbahaya

Dosen UWMY: Tempe Campur Kertas, Inovasi yang Berbahaya
Ahli teknologi pangan dan gizi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Ambar Rukmini (EDUWARA/Humas UMY)
Setyono, Sains24 Maret, 2022 23:45 WIB

Eduwara.com, JOGJA – Munculnya pemberitaan tentang perajin tempe yang mencampur kedelai dengan bubur kertas, ahli teknologi pangan dan gizi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta Ambar Rukmini menyebut hal itu sebuah inovasi namun berbahaya.

"Saat harga kedelai melambung tinggi, produsen tempe bisa mencampur bahan baku lauk nabati dari bahan baku kedelai seperti jagung atau bahan sejenis lainnya. Pencampuran bahan pangan ini masih bisa ditolerir meskipun produk tempenya berkualitas rendah," kata Ambar lewat rilis ke Eduwara.com, Kamis (24/3/2022).

Namun muncul persoalan yang serius ketika muncul oknum produsen tempe mencampurkan bahan baku kedelai dengan kertas HVS dan kardus bekas. Menurutnya, oknum produsen tempe itu masuk kategori inovasi.

"Caranya mengurangi volume bahan baku kedelai, kemudian menggenapi dengan bubur kertas bekas," paparnya.

Ambar mengatakan hal ini menjadikan konsumen sedikit sulit mengecek tempe yang dibeli terdapat campuran bahan baku kertas atau tidak karena bubur kertas telah lebur dengan kedelai. Kertas tersebut bisa diketahui ketika konsumen memakan tempe yang sudah dimasak.

"Jika tempe dengan bahan baku campuran kertas itu dimakan, tentu saja ada bagian yang tidak dapat dikunyah hingga lembut, yang berasal dari kertas tersebut. Apakah setiap konsumen bisa merasakan itu? Itu hanya bisa dideteksi oleh lidah konsumen yang cermat," katanya.

Peraih doktor dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM menjelaskan, kertas maupun karton terbuat dari pulp (serat kayu), diproses ulang menjadi bubur kertas mengalami bleaching (pemucatan) menggunakan bantuan larutan Hidrogen Peroksida (H2O2), kemudian ditambah pewarnaan dan pencetakan.

Unsur H2O2 itu menjadi larutan yang bisa membahayakan kesehatan orang yang mengonsumsi tempe berbahan baku campuran kertas atau karton.

"Hidrogen Peroksida merupakan bahan kimia yang berbahaya jika masuk sistem pencernaan,  dapat menyebabkan iritasi atau tukak lambung yang disertai gejala mual, muntah, atau bahkan muntah darah," ungkapnya.

Baginya, sangat wajar produsen tempe memilih kedelai impor sebagai bahan bakunya karena produk itu lebih mengembang dari kedelai lokal. Setiap kedelai impor dapat mengembang menjadi 1,6 - 1,8 kg, sedangkan kedelai lokal hanya mencapai 1,4 - 1,5 kg.

Saat ini, para produsen tempe perlu melirik kedelai lokal sebagai bahan baku tempe. Sebab, UGM melalui Smart Agricultural Enterprise (SAE) berbasis penerapan IPTEK sukses melakukan pembudidayaan kedelai lokal.

Budidaya kedelai program SAE, per hektar mampu menghasilkan 3,2 - 4,2 ton, sementara budidaya konvensional, satu hektar lahan menghasilkan 1,4 - 2,3 ton kedelai.

"Ini bisa dimaknai, ketersediaan kedelai lokal menjadi meningkat tajam dan mampu menekan keberadaan kedelai impor. Maka petani perlu mengalihkan bahan baku kedelai impor ke kedelai lokal," tutupnya.

Read Next