logo

Kampus

Mantan Mendiknas Malik Fadjar, Sosok Pemikir yang Transformatif dan Futuristik

Mantan Mendiknas Malik Fadjar, Sosok Pemikir yang Transformatif dan Futuristik
Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nazaruddin Malik (kiri) saat menjadi pembicara pada diskusi di Rumah Baca Cerdas (RBC) Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (20/4/2022) (EDUWARA/Istimewa)
Fathul Muin, Kampus29 April, 2022 05:28 WIB

Eduwara.com, MALANG — Mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Malik Fadjar, dinilai sebagai sosok pemikir yang melampaui zamannya.

Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nazaruddin Malik, menjelaskan pemikiran Malik Fadjar, Menteri Pendidikan periode 2001-2004, berangkat dari imajinasi yang kuat tentang buku dan perpustakaan. Kehidupan Malik selalu dekat dengan buku.

"Bahkan dalam banyak kesempatan, kedekatan Malik dengan berbagai macam referensi, menjadikannya sebagai salah satu sosok pemikir unggul yang memiliki visi jauh melampaui zaman," kata Nazaruddin Malik, Kamis (28/4/2022).

Apa yang dilakukan Malik terkait perpustakaan, kata Nazaruddin, semakin relevan pada saat ini dengan fenomena lunturnya ruh literasi masyarakat yang berakibat pada jebakan hoaks dan ekstrimisme. Perpustakaan sebagai wadah literasi adalah lokus alternatif untuk mewujudkan lahirnya pemikiran-pemikiran humanis yang luwes dan santun, tidak pula gumunan dan ekstrem.

Wakil Rektor I UMM, Syamsul Arifin, menilai sebagai tokoh pendidikan yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Malik Fadjar juga selalu melahirkan terobosan-terobosan yang tidak hanya segar, tetapi juga humanis. Malik senantiasa memaparkan gagasan-gagasan yang fokus pada masa depan. 

"Pak Malik adalah inspiring teacher dan living curriculum yang pemikirannya tidak hanya transformatif, tapi jauh cenderung futuristik, berorientasi masa depan," ujarnya. 

Kekuatan gagasan Malik jauh terlihat unsur futuristiknya, meskipun sisi-sisi transformatifnya juga terlihat. Dalam hal ini, pergumulan kekuatan literasi dan aktivisme Malik, mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran baru khususnya dalam dunia pendidikan. Hal ini terlihat dari bagaimana Malik mampu mengembangkan UMM menjadi salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia. 

Hal senada juga disampaikan oleh Pradana Boy ZTF, Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam UMM. Percikan pemikiran Islam Malik bisa dilihat melalui tiga sumbu utama, yakni Islam sebagai ilmu, pemahaman Islam yang terbuka dan proporsional, dan Islam yang melampaui formalisme. 

Menurut dia, pemikiran Islam sebagai ilmu yang terinspirasi oleh Kuntowijoyo, sejarawan dari UGM dan pemikir Islam, tentu terdorong oleh kekuatan semangat membaca Malik yang kemudian ditelurkan kedalam gagasan yang kontekstual. Wujud paling nyata dari semangat itu bisa dinilai dari upaya Malik memperkenalkan wacana membangun 'Keilmuan dan Keislaman' saat ia menjabat sebagai Rektor Kampus Putih serta Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Dalam pemikiran Malik, Islam tidak hanya bertumpu pada hal-hal yang berkutat pada ibadah semata, melainkan juga inspirasi pembangunan peradaban. Dalam hal ini, Malik Malik berusaha membawa Islam melampaui sekat-sekat formalisme. "Misalnya, ketika Pak Malik berbicara tentang Arabisme, ada semacam bias antara Keislaman dan Kearaban," ucapnya.

Read Next